|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://ilarizky.blogspot.com |
|
http://facebook.com/ila.rizky |





Sabtu, 21 Juli 2012 pukul 11:30 WIB
Penulis : Ila Rizky Nidiana
Setiap anak manusia, kecuali Adam dan Hawa, pasti terlahir dari rahim ibu. Ibu, dialah satu kata penuh makna bagi seorang anak. Membayangkan ibu, identik dengan kehangatan pelukan, kebijakan, dan kasih sayang.
Betapa kesejukan terasa ketika ibu menghias rumah dengan senyum. Menyambut setiap yang datang, bagai pelepas dahaga penat kehidupan. Sungguh, ia bagai pelabuhan.
Sebaliknya, ketika ibu mulai bergeser fungsinya. Tidak lagi menjadi penunggu rumah yang baik, sibuk dan terlena dalam arus peradaban. Anak dan suami bagai musafir tanpa henti. Tiada lagi tempat melabuhkan suka cita kehidupan. Ada kehampaan yang tak tergantikan.
Merekapun akan mencari pada yang lain, melepas kerinduan nafsu. Jadilah apa yang terjadi, anak melampiaskan dengan kenakalan, suami menyeleweng. Semula mungkin untuk mencari perhatian, namun akhirnya rumah tangga berantakan.
Ya, wanita memang bagai tanah. Ketika sifat menetap tanah berubah, ia bergerak, terguncanglah apa-apa yang ada di atasnya. Bagai gempa yang merobohkan segalanya. Semua menemui kehancuran.
Oleh karena itu, wahai ibu, janganlah engkau tinggalkan fithrahmu. Biarlah engkau tetap menjadi simbol keagungan, menjadi telaga bagi suamimu, dan menjadi pemandu jalan ke surga bagi anak-anakmu. Semoga.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ila Rizky Nidiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.