|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Senin, 7 Mei 2012 pukul 11:45 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Bagaimana mendidik anak dengan nilai-nilai Islami ketika kita berada dalam lingkungan yang tidak Islami (Non Muslim)? Tarbiyah (pendidikan) yang berkualitas dan berkelanjutan adalah jawabannya.
Tujuan tarbiyah adalah mendidik anak dengan nilai-nilai yang dapat membantu mereka menjadi shaleh dan bahagia. Yang dimaksud dengan shaleh adalah mencakup semua nilai-nilai yang baik dan agung. Sedangkan yang dimaksud dengan bahagia adalah hasil dari keimanan dan mengetahui tujuan keberadaannya hidup di dunia ini.
Orang yang bahagia menunjukkan ia benar-benar memahami Islam yang menjaminnya hidup dalam kenikmatan dan kesuksesan. Bahagia juga berarti damai (tenang) secara akal, tubuh, dan jiwanya.
”Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebihbaik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. 16 : 97).
Selain itu, tujuan tarbiyah adalah bukan cuma agar anak-anak bisa bisa survive dalam menjalani hidupnya, tetapi juga menjadi duta Islam di tempat ia tinggal.
Target kualitas diri yang ingin dicapai dalam tarbiyah adalah :
1. Kuat keimanannya. Tidak mudah berubah hanya untuk sekedar dapat diterima oleh lingkungan.
2. Memiliki kebanggaan sebagai muslim. Tidak berusaha menyembunyikan identitas dirinya, bahkan senang bercerita tentang Islam dan menjadi contoh muslim yang baik di lingkungannya.
3. Capable dan skillfull. Mampu mempelajari hal-hal baru dengan mudah dan menyatukan informasi untuk mandapatkan hasil yang terbaik dan paling efisien.
4. Memiliki motivasi yang tinggi untuk mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan dalam setiap kesempatan.
5. Memiliki kepribadian yang kuat. Mampu mengemukakan pendapat dan sering mencoba meyakinkan orang lain tentang pandangan-pandangan mereka. Tidak mudah merubah pendirian dan menikmati peran sebagai leader.
6. Percaya diri. Mereka tidak merasa harus bertingkah laku seperti teman-teman mereka. Tidak membiarkan komentar orang lain terhadap kepribadian mereka mempengaruhi mereka. Dan tidak selalu berusaha membuktikan diri mereka kepada orang lain.
7. Progressive dan inisiative. Senang mendorong orang lain untuk maju dan melakukan kebaikan. Mereka menjadi contoh bagi orang lain dalam melakukan kebaikan, karena mereka sendiri memiliki target dan punya gambaran yang besar dalam pikiran mereka.
8. Berorientasi pada solusi. Mereka tidak berhenti bekerja sampai mencapai hasil yang diinginkan. Mereka tidak terlalu mempermasalahkan hambatan-hambatan dalam mencapai tujuan. Mereka yakin bisa mengontrol masalah tersebut dan tetap terfokus pada target.
9. Teguh. Mereka berani mengambil resiko dan menikmati tantangan. Mereka tidak mudah patah hati karena hambatan.
10. Keras hati. Semakin besar tantangannya, semakin keras usaha mereka. Sangat sabar dan tabah serta selalu melakukan yang terbaik.
Untuk mencapai semua kualitas ini, tentu saja perlu kerja keras dari orangtua dengan cara mendukung dan memotivasi anak-anak sehingga mereka memiliki kepribadian yang kuat, memiliki pandangan yang positif dalam kehidupan, serta percaya diri. Orangtua juga bukan hanya mengajarkan mana yang baik dan buruk, tetapi juga mendidik anak untuk bisa mempengaruhi lingkungan (dalam kebaikan).
Diringkas dari Parenting in the West (in Islamic Perspective) - Dr. Erkam & Mohamed Rida Beshir
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.