|
QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
|
|
ayu.bundakenzie@gmail.co.id |
|
|
cucay_aykent@yahoo.co.id |
|
http://facebook.com/bunda_kenzie |

Sabtu, 14 Agustus 2010 pukul 17:50 WIB
Penulis : ayu, bunda kenzie
Anak adalah amanah besar yang dikaruniakan Allah kepada setiap pasangan. Setiap mereka adalah keindahan dan kebahagiaan atas kedua orangtuanya, adalah pelepas penat dalam maisyah. Mereka sanggup memekarkan jiwa dan meluruhkan emosi orangtuanya. Namun mereka adalah pribadi rentan yang sangat membutuhkan perhatian istimewa. Maka seharusnya setiap pasangan yang dikaruniai anak-anak memiliki kewajiban atas tumbuh kembang mereka.
Anak-anak yang dilahirkan tanpa perhatian orangtua, tanpa pengawasan dan tanggung jawab orangtua, merupakan suatu kesalahan fatal. Artinya meskipun mereka hidup bersama kedua orangtuanya, namun tidak tampak adanya bentuk tanggung jawab orangtuanya, baik itu tanggung jawab sosial maupun tanggung jawab pertumbuhan fisik dan akalnya. Mereka dibiarkan tumbuh begitu saja. Semuanya serba ala kadarnya, baik dari masalah pangan, kebersihan, dan aktivitas sehari-hari. Artinya, orangtua malas bahkan enggan merepotkan diri untuk mengurus anak-anak.
Sungguh, betapa banyak jiwa-jiwa kecil yang butuh kasih sayang dan perhatian dari setiap pasangan yang memilikinya. Mereka hanyalah jiwa kecil yang kelak sebagai pembangun peradaban generasi berikutnya. Jiwa-jiwa yang selayaknya penuh dengan keistimewaan. Jiwa-jiwa kecil yang merupakan saksi diam atas perlakuan yang pernah mereka dapatkan. Mereka punya kekuatan menyerap, menyimpan, memendam, dan mengubur rasa. Sesuatu yang mereka simpan baik dalam jiwa mereka yang paling dalam yang akhirnya akan membentuk pola.
Lalu, untuk apakah setiap kita dikaruniai permata itu? Apakah untuk disia-siakan? Alangkah mirisnya.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda, "Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani, maupun seorang Majusi."
Dan, berjuanglah setiap ayah bunda untuk permata-permata indah itu meski dengan kepenatan yang teramat sangat. Karena ia adalah amanah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ayu, bunda kenzie sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.