Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://ardadinata.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Ciamis - Jawa Barat
Pekerjaan
Penulis dan PNS
Arda Dinata adalah Penulis, Motivator, dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://www.ardadinata.web.id
http://facebook.com/ardadinata
http://twitter.com/ardadinata
Tulisan @ Lainnya
Orangtua dan Perkembangan Agama Anak
13 Maret 2010 pukul 18:10 WIB
Rasionilitas dalam Pembelanjaan 'Rejeki'
3 Maret 2010 pukul 18:44 WIB
Agar Anak Tidak Mengompol
13 Februari 2010 pukul 18:39 WIB
Koalisi Hati sebagai Tunas Perdamaian
9 Februari 2010 pukul 20:31 WIB
Menjaga Perut
20 Januari 2010 pukul 18:34 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 10 April 2010 pukul 18:22 WIB

Bekal Berkeluarga dengan Bening Hati

Penulis : @ Arda Dinata

Bening berarti sesuatu yang dapat dikatakan dalam kondisi jernih, hening, dan atau transparan. Dalam ilmu anatomi, hati diartikan sebagai suatu bagian isi perut yang merah kehitam-hitaman warnanya, terletak di sebelah kanan perut besar, gunanya untuk mengambil sari-sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu.

Hati juga disebut sebagai sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia yang dianggap sebagai tempat (pusat) segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian-pengertian (perasaan-perasaan, dan sebagainya). Arti lainnya, hati merupakan pusat pemahaman/internalisasi, pusat Intutional Intelectual (II), pusat memori dari semua amal (baik-buruk). Indera perasaan (rasa halus), untuk penyerapan hal yang abstrak. Indera hati (mata dan telinga hati), untuk pencerapan alam ghaib.

Pada hati itulah, organ badan lainnya mengambil keteladanannya, dalam ketaatan atau penyimpangan, selalu mengikuti dan patuh dalam setiap keputusannya. Nabi SAW bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ini ada sepotong daging. Apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan bila ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah, sepotong daging itu ialah hati." (HR. Bukhari - Muslim).

Hati manusia itu memiliki komponen sifat hidup dan mati. Dalam tataran ini, hati manusia diklasifikasikan menjadi tiga. Pertama, Qalbun Shahih (hati yang suci). Yaitu hati yang sehat dan bersih dari setiap nafsu yang menentang perintah dan larangan Allah, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaanNya.

Kedua, Qalbun Mayyit (hati yang mati). Yaitu hati yang tidak pernah mengenal Ilahnya; tidak menyembahNya, tidak mencintai atau ridha kepadaNya. Akan tetapi, ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginannya, walaupun hal ini menjadikan Allah marah dan murka dibuatnya.

Ketiga, Qalbun Maridh. Yaitu hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit. Tepatnya, kondisi hati ini kadang-kadang ia "berpenyakit" dan kadang pula hidup secara normal, bergantung ketahanan (kekebalan) hatinya.

Singkatnya, hati merupakan sifat (tabiat) batin manusia. Sehingga, tidak berlebihan, apabila kita dituntut untuk selalu menjaga dan memelihara hati dari sesuatu yang dapat mengotorinya. Puncaknya, tidak lain kita berusaha menjadikan kehidupan ini selalu diselimuti dengan bening hati.

Betapa indahnya, hidup dengan bening hati. Bening hati berarti jernih hatinya (mudah mengerti, dan sebagainya) akan sesuatu kebenaran menurut pandangan Allah yang diperlihatkan kepada manusia. Suasana kehidupan dengan bening hati akan selalu mengkonsulkan segala aktivitas hidupnya dengan indera perasaan (kebenaran) dan suara hati nuraninya.

***

Berkeluarga

Berkeluarga merupakan sistem kemanusiaan yang urgenitasnya ditekankan oleh Islam. Keluarga adalah elemen dasar dalam komunitas masyarakat. Syari'at Islam yang toleran telah memberikan perhatian yang besar terhadap institusi keluarga, sehingga ia menduduki posisi layak yang membuat ia menjadi pijakan kokoh bagi setiap muslim untuk mewujudkan kemuliaan, kehormatan, dan amal shaleh yang bermanfaat.

Untuk mewujudkannya, di dalam keluarga perlu dibangun suatu sistem pembelajaran yang dilandasi kebeningan hati. Perumpamaan hati adalah cermin. Selama ia bersih dari kotoran, maka dapatlah dilihat padanya segala sesuatu. Apabila ia tertutup kotoran dan tidak ada yang membersihkannya, maka ia pun diselimuti kotoran, yang pada akhirnya binasa, tidak dapat dibersihkan.

Bukankah, kondisi bening hati dalam keluarga merupakan sesuatu yang dapat melejitkan potensi terciptanya keluarga sakinah? Rasulullah SAW bersabda, "Apabila Allah SWT menghendaki suatu rumah tangga yang baik (bahagia), diberikanNya kecenderungan menghayati ilmu-ilmu agama; yang muda menghormati yang tua; harmoni dalam kehidupan; hemat dan hidup sederhana; melihat (menyadari) cacat-cacat mereka dan kemudian melakukan taubat. Jika Allah SWT menghendaki sebaliknya, maka ditinggalkanNya mereka dalam kesesatan." (HR. Dailami dan Anas).

Hadits di atas menunjukkan bahwa untuk mendapat kecenderungan tersebut, maka modal yang perlu dibangun tidak lain setiap anggota keluarga harus selalu menjaga kebeningan hati. Dan orang-orang yang menjaga (memiliki) kekuatan kebeningan hati, Allah menjanjikannya dengan memasukkan mereka ke dalam surga (QS. Al-Mujaadilah : 22).

Kiranya, salah satu teladan yang bisa kita contoh dalam membangun kebeningan hati dalam keluarga, selain keluarga Rasulullah SAW, adalah keluarga Khalifah Ali bin Abu Thalib. Ali RA adalah suami dari Fatimah putri Rasulullah. Beliau sejak kecil hidup bersama Rasulullah, karena Rasulullah pernah diasuh oleh ayah Ali. Setelah Rasulullah menikah dengan Siti Khadijah, Ali ikut bersama Rasulullah dan dibesarkan, diasuh, serta dididik, sehingga tumbuh sebagai anak yang berbudi luhur, cerdik, dan pemberani.

Keberanian dan kebeningan hati Ali ini tercermin pada ikut sertanya dalam hampir seluruh peperangan yang dipimpin Rasulullah. Ali senantiasa berada di barisan muka. Seringkali kaum muslimin memperoleh kemenangan karena keberaniannya dan ketangkasannya, Ali dikenal dengan Dzulfaqar karena pedangnya yang bermata dua. Namun demikian, Ali sehari-hari dalam keluarga, perilakunya selalu lemah lembut, sebagai pancaran kebeningan hati.

Budi pekerti Islam, keshalehan, keadilan, toleransi, dan kebersihan jiwa Ali sangat terkenal. Ia termasuk salah seorang dari tiga tokoh (Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khatab, Ali bin Abu Thalib) yang di dalam dirinya tercermin kepribadian Rasulullah. Mereka bertiga laksana mutiara yang memancarkan cahayanya.

Berkait dengan kebeningan hati ini, Ali RA berkata, "Sesungguhnya Allah ta'ala di bumiNya mempunyai sebuah wadah, yaitu hati. Maka yang paling dicintai Allah ialah hati yang paling lembut, paling jernih, dan paling keras." Kemudian beliau menafsirkannya. Maka beliau berkata, "Maksudnya ialah yang paling keras dalam agama, paling jernih dalam keyakinan, serta paling lembut terhadap saudara-saudaranya."

Bukti kebeningan hati Ali RA, tercermin juga pada kejadian berikut ini. Pada suatu hari, Khalifah Ali bin Abu Thalib menegur Ashim bin Ziyad yang mengenakan pakaian yang terbuat dari bahan sangat kasar (aba'ah) dan meninggalkan sama sekali kenikmatan hidup di dunia. Beliau berkata, "Hai 'musuh kecil' dirinya sendiri! Sesungguhnya engkau telah disesatkan oleh setan. Tidaklah engkau mengasihani si istri dan anak-anakmu? Apakah menurut perkiraanmu, Allah SWT telah menghalalkan bagimu segala yang baik, lalu Ia tidak menyukai engkau menikmatinya? Sungguh, dirimu terlalu kecil untuk dituntut melakukan seperti itu olehNya!"

"Tetapi, wahai Amirul Mukminin," ujar Ashim, "Anda sendiri memberi contoh dengan mengenakan pakaian amat kasar dan memakan makanan yang kering!"

"Ketahuilah," jawab Ali, "Dirimu tidak seperti diriku, sebab Allah telah mewajibkan atas para pemimpin yang benar agar mengukur dirinya dengan keadaan rakyat yang lemah, sehingga orang miskin tidak sampai tersengat oleh kepedihan kemiskinannya."

Nasehat Ali itu menunjukkan bahwa tidak masalah bagi rakyat biasa menikmati suatu karuniaNya, sepanjang menikmatinya benar dan tidak melupakan kepada fakir miskin. Sebaliknya, Ali mengecam orang yang memilih hidup amat miskin hingga menelantarkan keluarga, padahal ia mampu untuk hidup lebih baik. Sedangkan, pemimpin yang baik, harus mengukur dirinya dengan keadaan rakyat yang lemah. Dampaknya, orang miskin tidak terlalu pedih atau putus asa dan adanya kesederhanaan pemimpin akan memberikan teladan bagi si kaya dalam membelanjakan hartanya.

Sungguh indah, suatu keluarga yang hidupnya dibangun dengan kebeningan hati. Maka, panjatkanlah selalu doa, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Al-Furqaan : 74).

http://www.ardadinata.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan @ Arda Dinata sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lucasgoru | Karyawan Swasta
Allahu Akbar... Terus terang, KotaSantri.com lebih membuka mata hati saya tentang Islam.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1814 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels