QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
Alamat Akun
http://nuraulia.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Jurnalis
Tulisan Aris Lainnya
Kematian
18 Desember 2009 pukul 18:25 WIB
Pesankan Saya Tempat di Neraka!
15 Desember 2009 pukul 20:13 WIB
Perempuan Metanoiac
10 Desember 2009 pukul 19:05 WIB
Be Beauty, Be Yourself
2 Juli 2009 pukul 20:00 WIB
Gaul Syar'i Ala Muslimah
30 April 2009 pukul 20:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 26 Desember 2009 pukul 17:35 WIB

Orangtua Sebagai Cermin

Penulis : Aris Solikhah

"Tidaklah balasan bagi kebaikan itu melainkan kebaikan juga." (QS. Ar-Rahman : 60).

Anak bagi orangtua adalah permata hati yang tidak ternilai harganya. Hal itu merupakan kebahagian tersendiri, memiliki anak shaleh, taat pada orangtua, dan menyayangi orangtuanya sampai akhir menutup mata.

Namun, Kepiluan, kekesalan, kesedihan, dan kekecewaan menyatu bila sang anak setelah dewasa tidak peduli orangtuanya dengan menyepelekan panggilan orangtua yang sakit dengan alasan sibuk, atau cukup menyediakan fasilitas mewah buat menghabiskan sisa-sisa usia. Rumah indah bak istana tidak akan menggantikan kasih sayang dan perhatian orangtua pada anaknya.

Cara mendidik anak dan perlakuan orangtua kepada anaknya akan memberi kesan yang kuat untuk membentuk karakter atau kepribadian anak ketika dewasa kelak. ''Orangtualah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.'' (HR. Bukhari).

Gaya orangtua dalam mendidik tecermin dalam cara anak tersebut memperlakukan orangtuanya. Dengan kata lain, bila orangtua mengajari cara menghargai orang lain, maka anak akan berlatih menghargai manusia. Misalnya, orangtua yang sering memberikan ungkapan kasar melihat anaknya melakukan kesalahan, seperti kata malas, tolol, nakal, dan bodoh. Kata-kata tersebut akan menjadi memori sepanjang hidup, dan anak akan mewarisi untuk setiap kesalahan yang sama.

Dahulu, seorang laki-laki menghadap Umar bin Khatab mengadukan kedurhakaan anaknya. Khalifah Umar kemudian memanggil anak yang dikatakan durhaka itu dan mengingatkan bahaya durhaka kepada orangtua.

Ketika ditanya sebab kedurhakaannya, anak itu berkata, "Wahai Amirul Mukminin, tidaklah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh orangtuanya?"
"Ya," jawab Khalifah.
"Apakah itu?"
"Ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, memberi nama yang baik, dan mengajarinya Al-Qur'an."
''Wahai Amirul Mukminin, tidak satupun dari tiga perkara itu yang ditunaikan oleh ayahku. Ibuku Majusi, namaku Jaklan, dan aku tidak pernah diajar membaca Al-Qur'an walau satu huruf," jawab sang anak.

Umar kemudian menoleh kepada bapak itu dan berkata, "Kamu datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata kamu telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Kamu telah berbuat tidak baik terhadapnya sebelum dia tidak berbuat baik padanya."

Kisah tersebut patut menjadi renungan bahwa sebelum menuntut kebaikan pada diri anak, hendaknya kita terlebih dahulu memberikan sesuatu yang terbaik buat anak, mengajari agama, memberikan makanan halal. Bila kemudian sudah terlanjur melakukan kesalahan, dan anak berkeinginan memperbaiki diri dengan belajar agama, berikanlah motivasi. Dengan mendalami agama, anak akan mengerti hak dan kewajibannya.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Aris Solikhah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1287 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels