|
QS. Al-'Ankabuut : 64 : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui."
|





Sabtu, 25 April 2009 pukul 17:20 WIB
Penulis : Sus Woyo
Sejak menikah, hingga anak saya berumur tiga bulan, saya hidup serumah dengan mertua. Hampir setahun mengarungi kehidupan serumah dengan orangtua asli isteri, suka dan duka, pahit dan manis, tentu menjadi lauk pauk yang pernah saya lahap ketika itu.
Menjelang satu tahun pernikahan, saya berusaha sekuat tenaga untuk mencari rumah baru. Artinya, mencoba untuk lepas dari rumah mertua. Dengan niat : Ingin lebih mandiri. Saya berhasil membeli sedikit tanah yang sudah ada rumahnya. Walaupun uang untuk membeli bukan murni dari kocek pribadi. Termasuk ada di dalamnya adalah uang pinjaman dari orangtua.
Sejak itu, saya pindah dari rumah mertua dan menempati rumah yang baru. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Anak dan isteri selalu sakit selama menempati rumah itu. Batuk, seolah tak pernah berhenti menyerang anak dan isteri. Mungkin karena temperatur daerah itu yang sangat dingin bagi ukuran mereka.
Apa boleh buat, akhirnya rumah itu saya jual. Saya beranggapan rumah itu tak layak huni bagi kesehatan keluarga. Saya dan keluarga kembali ke rumah mertua. Kembali hidup serumah dengan bapak-ibu isteri, adik, dan kakaknya.
Seiring dengan dijualnya rumah kami, usaha saya juga tak menampakkan ada peningkatan. Apa-apa serba mahal. Modal yang ditanam tak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh. Sampai uang hasil menjual rumah saja nyaris habis tanpa bekas. Tak bisa saya gunakan kembali untuk membangun rumah baru.
Saya kembali belajar untuk hidup serumah dengan mertua. Teman-teman selalu mengatakan. "Kamu terlalu kuat untuk hidup dengan mertua. Apa resepnya?" Saya tersenyum saja ditodong dengan pertanyaan semacam itu.
Mertua, bagi sebagian orang adalah sosok yang menakutkan. Momok besar bagi mereka yang terpaksa harus hidup serumah dengannya. Atau bahkan ada sebagian teman yang mengatakan, bahwa mertua adalah pembunuh kebebasan. Alasan teman saya karena katanya ia akan serba tidak bebas jika akan berlaku seenaknya di rumah mertua. Seperti pagi masih duduk di rumah sambil nonton TV, tidur di siang bolong saat orang lain sedang ada di tempat kerja, dan sebagainya.
Saya tidak seratus persen menyalahkan argumentasi tersebut. Tapi juga tidak mendukung seratus persen atas apa yang mereka katakan. Sebab, tinggal dari sudut mana kita memandang mertua. Yang jelas, hidup serumah dengan mertua itu harus mempunyai batas-batas tertentu. Tak hanya dengan mertua, hidup dengan siapapun sudah pasti harus ada batas-batas tertentu yang harus kita terapkan.
Namun demikian, saya mempunyai resep tersendiri, kenapa dapat tahan lama hidup serumah dengan mertua, padahal ada adik dan juga kakak isteri saya yang masih ada di rumah itu. Yang pertama, karena saya belum mampu lagi untuk secepatnya mencari rumah baru. Dengan kondisi seperti itu, akhirnya mau tidak mau harus serumah dengannya. Kedua, saya mencoba belajar bahwa orangtua isteri adalah orangtua saya juga. Dan bukan orang lain. Adik dan kakak isteri adalah adik dan kakak saya juga. Mereka pun bukan orang lain.
Setelah menerapkan prinsip itu, ternyata persaudaraan menjadi lebih erat. Sebab antara kami dan mereka bukanlah siapa-siapa. Toh setelah menikah, "birrul walaidain" kita tak hanya sebatas kepada bapak dan ibu kita yang asli saja, tapi harus juga kepada orangtua isteri kita.
Dengan resep itulah, saya bisa menganggap bahwa mertua adalah orangtua sendiri. Mertua bukanlah sosok yang menakutkan selama perbuatan kita tidak keterlaluan. Dan yang lebih penting, mertua adalah figur yang tidak boleh kita bedakan dalam hal berbakti padanya, selama masih dalam koridor syari'atNya. Termasuk hormat kita padanya adalah sama seperti hormat kita kepada orangtua asli kita.
Baturraden - Purwokerto, Juli 06
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sus Woyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.