QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Harta dalam Islam
5 Oktober 2011 pukul 15:30 WIB
Merawat Kecantikan Tubuh dan Rambut Ala Ibnu Sina
29 September 2011 pukul 12:45 WIB
Hidup adalah Sebuah Perjalanan
27 September 2011 pukul 16:00 WIB
Rawon Setan
18 September 2011 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 8 Oktober 2011 pukul 14:00 WIB

Sains dan Agama; Bertengkar atau Berkawan?

Penulis : Redaksi KSC

Tentu wacana ini bukan hal yang baru di dunia Islam, bahkan Islam sendiri telah mempunyai tradisi dikotomi pada seribu tahun yang lalu, tetapi dikotomi tersebut tidak terlalu banyak menimbulkan problem dalam kehidupan. Iman dan sains merupakan karakteristik insani, dan sains pada hakikatnya merupakan sunnatullah yang menunjukkan bahwa antara sains dan agama pada dasarnya tidak bertentangan satu dengan yang lainnya dalam hal menjelaskan dan menemukan hukum-hukum yang bekerja pada realitas.

Agama dan sains seharusnya saling melengkapi, di sini posisi agama menawarkan asas-asas dan arah yang benar bagi sains. Sebaliknya, sains menyediakan metodologi dan eksplanasi ilmiah untuk agama. Dalam hal ini, fungsional agama dapat dianalogikan sebagai mata, sedangkan sains mikroskop atau teleskop yang dapat memperjelas daya pengamatan biasa.

Akan tetapi, di satu sisi, antara keduanya terdapat perbedaan mendasar antara ruang lingkup, prinsip berpikir, obyek, telaah, metodologi, dan tujuan akhirnya. Seperti yang telah kita ketahui, prinsip berpikir ilmiah pada umumnya bercorak empiris, objektif-imparsial, agnostik terhadap hakikat spritual. Sementara prinsip berpikir agamis, merupakan empiris-metaempiris, rasional-intuitif, objektif-partisipatif, dan menggunakan secara eksplisit peran dan fungsi spritual, semua aksiomanya dijabarkan dari ajaran agama.

Selanjutnya, obyek telaah sains adalah dunia yang nampak "The World of Appearance, The World of Phenomenal" yang bersumber pada intelektual rasional, sedangkan obyek agama mencakup alam metafisis dan mengakui peran hati dan kalbu yang bersifat metafisikal dan dianggap dapat menyentuh kebenaran hakiki.

Dari beberapa perbedaan mendasar di atas, maka akan memungkinkan ketidaksesuaian antara pandangan-pandangan agama dengan teori sains, lebih-lebih dalam social sciences dan humanities. Ian G. Barbour (2000) melalui buku terkenalmya When Science Meet Religion memetakan empat pandangan dan tipologi relasi antara agama dan sains, di antaranya konflik (bertentangan), independence (perpisahan), dialogue (perbincangan), dan integration (penyatuan).

Menghubungkan sains dan agama dalam posisi konflik sangat berkonsekwensi menutup rapat-rapat adanya wilayah antara sains dan agama. Di samping itu, banyak kekhawatiran terjadi karena model ini cenderung akan saling mengekspansi ke wilayah otoritas pihak lawan. Sains menjanjikan kemampuan menjawab berbagai persoalan, termasuk persoalan secara tradisional berada di bawah otoritas agama atau etika.

Secara berlawanan, agama menolak sains karena mencurigai bahwa sains ditopang oleh metafisika materialisme. Hal ini dianggap berbahaya pada persoalan sosial. Barbour adalah orang yang paling vokal untuk menyerukan tentang pentingnya integrasi dan dialog antara sains dan agama. Kesadaran ini juga dialami oleh para ilmuan muslim modern untuk mendamaikan ilmu dan agama, meski dengan format dan variasi beragam. Model ini menjadi pedoman, karena mendorong pentingnya agama dalam menginspirasi, memagari sains dari pembajakan materialisme. Kita lebih papuler dengan istilah sains Vedak dan sains Islam.

Tentu, intelektual Muslim periode modern tiada henti-hentinya dalam mengampanyekan gagasan perlunya pemaduan ilmu dan agama, atau akal dan wahyu (iman). Di antara para pelopor pendatang baru dalam wacana mutakhir Islam dan sains, pada tahun 1970 hingga pertengahan 1990-an, yang kerap muncul adalah Syed M. Naquib Al-Attas dengan "dewesternisasi ilmu", kemudian Ismail Raji Al-Faruqi berbicara tentang "Islamisasi Ilmu", selanjutnya, Zainuddin Sardar tentang penciptaan suatu "sains Islam kontemporer", bahkan Bucaille melalui karya monumentalnya, The Bible, The Qur'an, and The Science, berusaha mengkomparasikan dua kitab suci agama besar dunia (Islam dan Kristen) dengan sains modern.

Dalam kontek Indonesia, wacana menyatukan kembali antara ilmu agama dan umum nampak dilakukan ketika transformasi IAIN/STAIN menjadi UIN. Wacana ini, mendapat momentum yang tepat sejak tahun 2000-an, bersamaan dengan konversi beberapa perguruan Tinggi Islam Negeri di tanah air. Bahkan sebuah lembaga independen di Jakarta, Centre for Islamic Philosophical Studies and Information (CIPSI) dengan lantang menyuarakan akan pentingnya membangkitkan kembali "sains Islam", yang salah satu di antaranya melalui jalur Pendidikan Agama Islam.

Menghadapi berbagai fenomena (sunnatullah), intelektual Muslim dituntut menentukan sikap. Yakni, persetujuan untuk percaya dan mengakui bahwa Al-Qur'an sebagai firman Allah di dalamnya mengandung kebenaran paripurna yang dicari sepanjang masa oleh sains, bukan berarti menolak mentah-mentah terhadap teori sains yang datang dari barat.

Hemat penulis, baik sains maupun agama tidak bisa serta merta dan gampang untuk dihubungkan seperti benda padat yang secara solit bisa saling dipertukarkan, bahkan dicampuradukkan yang kemudian terjepak dalam suatu persoalan parsial. Maka diperlukan kesadaran bahwa hubungan keduanya mesti dipahami dalam bingkai praktek-praktek sosial.

Dengan demikian, Islam memandang agama dan sains sebagai karunia Ilahi yang mahabesar bagi umat manusia, maka hubungan keduanya bukan dalam posisi bertengkar, melainkan berkawan atau saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya. Atau inter-connected entities, dalam artian masing-masing sadar akan keterbatasannya dalam memecahkan persoalan manusia, lalu menjalin kerja sama, setidaknya dalam hal yang menyentuh persoalan pendekatan dan metode berfikir serta penelitian.

*) Abdul Gaffar, adalah Peneliti Utama pada Centre for Developing Islamic Education (CDIE) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta - Arsip Lama KSC

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Samsul M | Wiraswasta
Mulai buka site ini di tahun 2003, tapi baru sekarang saya ikut partisipasi. Maklum, baru ada waktu luang banyak.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1164 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels