Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://ardadinata.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Ciamis - Jawa Barat
Pekerjaan
Penulis dan PNS
Arda Dinata adalah Penulis, Motivator, dan Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://www.ardadinata.web.id
http://facebook.com/ardadinata
http://twitter.com/ardadinata
Tulisan @ Lainnya
Menjadi Pribadi Tangguh
27 April 2011 pukul 12:00 WIB
Perkembangan Psikoseksual Anak
19 Maret 2011 pukul 10:00 WIB
Menggalang Pancaran Kebenaran
2 Maret 2011 pukul 15:15 WIB
Mencerahkan Kehidupan Keluarga
19 Februari 2011 pukul 10:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 30 April 2011 pukul 12:00 WIB

Idealisme dan Kreativitas, Kunci Pribadi Sukses

Penulis : @ Arda Dinata

Mustafa Al-Rafi’ie menggambarkan masa muda dengan mengatakan bahwa pemuda adalah kekuatan, sebab matahari tidak dapat bersinar di senja hari seterang ketika di waktu pagi. Pada masa muda ada saat ketika mati dianggap sebagai tidur, dan pohon pun berbuah ketika masih muda dan sesudah itu semua pohon tidak lagi menghasilkan apa pun kecuali kayu (Ashur Ahams; 1978).

Bagi pemuda, realitas kehidupan yang dihadapinya sering kali dipersepsikan sebagai kenyataan yang membatasi idealisme dan hasrat yang mendominasi pikirannya. Sehingga perlu disadari bahwa kedewasaan merupakan tahap kehidupan yang pasti dijalaninya. Bila pada tahap muda dapat dicapai afeks pertumbuhan fisikis, maka dalam tahap dewasa terjadi kematangan pertumbuhan psikik. Arti lainnya, kedewasaan seseorang itu minimal harus memenuhi enam syarat, yaitu memiliki kemampuan “lebih banyak diam daripada berbicara”; memiliki empati yang tinggi; bersikap waro; memiliki sikap amanah; menjadi suritauladan; dan bertindak adil.

Dalam hal ini, Dr. M. Manzoor Alam (1989), menyebutkan ada sifat-sifat dasar yang dituntut dari pemuda Islam itu, di antaranya berupa percaya dan hanya menyembah kepada Allah; baik terhadap orangtua; jujur dan bertanggung jawab; persaudaran dan kasih sayang; serta harus berpegang kepada bermusyawarah dan mentaati norma-norma permusyawarahan.

Keberadaan sifat-sifat dasar itu mesti dibangun oleh setiap pemuda Islam sebagai sebuah idealismenya. Dari komitmen itu akan melahirkan profil pemuda ideal sebagai generasi Rabbi Radhiya. Adapun parameter yang bisa kita amati dari generasi model ini, di antaranya berupa : Pertama, mempunyai keterikatan pada Ilahi. Di dalamnya terhujam rasa cinta yang membara kepada Allah dan melangkahkan kaki sesuai dengan kehendak Allah, sebagai kekasihnya. Satu-satunya alternatif dalam hidupnya adalah untuk mengabdi kepada Allah SWT. (QS. 6 : 162 dan QS. 3 : 31).

Kedua, memiliki keberanian untuk berjihad dengan harta dan jiwa demi tegaknya kalimatullah. (QS. 9 : 41). Ketiga, berserah diri secara total (kafah) kepada Allah dengan harapan mendapat petunjuk dan keridhaan-Nya. (QS. 2 : 128). Keempat, memberikan penghormatan kepada kedua orangtuanya sebagai salah satu alternatif untuk mendapatkan keridhaan Allah. (QS. 17 : 23-24 dan QS. 31: 14).

Kelima, membina diri untuk selalu menegakkan shalat, berakhlak bijaksana dalam da’wah, serta memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan. Rendah hati, tidak takabbur, dan tidak ingin pujian serta membantu orang yang lemah dengan harapan mendapat cinta Allah (QS. 31: 17). Keenam, gandrung akan ilmu pengetahuan, peka terhadap lingkungan, banyak berdzikir, dan pandai membaca situasi dan kondisi yang berkembang. (QS. 39 : 91).

Ketujuh, memiliki perkataan dan tingkah laku yang lemah lembut, sangat kuat pendiriannya terhadap kebenaran, bagaikan bangunan yang berdiri kokoh, sehingga ia tidak takut dan berduka cita. (QS. 46 : 13-14).

Kedelapan, gemar membaca Al-Qur'an dan menjadikannya sebagai sistem kehidupan. Dengan Al-Qur'an, ia dapat membedakan antara haq dan bathil, cara berpikir dan bertindaknya didasari pada Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Ia berusaha untuk menjadi Al-Qur'an yang hidup dan ia tidak suka kalau hanya bicara tanpa beramal, karena Allah memang tidak suka pada yang demikian. (QS. 2 : 44 dan QS. 61: 2-3).

***

Berpikir Kreatif

Untuk mengaktualisasikan karakteristik generasi Rabbi Radhiya tersebut, maka di sini diperlukan sebuah pola pikir kreatif. Berbicara kreativitas, kita tidak akan terlepas dari fungsi otak manusia. Para ahli jiwa mengatakan, otak manusia dibagi menjadi dua bagian, yaitu otak kiri dan otak kanan. Otak kiri merupakan pusat fungsi intelektual seperti daya ingat, bahasa, logika perhitungan, daya analisis, dan pemikiran konvergen (cara berpikir searah). Dan otak kanan berfungsi mengandalkan mental dengan melibatkan intuisi, sikap, emosi, gambar, musik dan irama, gerak dan tari, serta pikiran divergen (menyebar/bercabang).

Namun, menurut Yogy RY (Remaja Kreatif Hindari Penggangguran; 2000), disebutkan kenyataannya kebanyakan orang cenderung hanya menggunakan otak kiri jika menghadapi persoalan. Padahal, jika diseimbangkan dengan memfungsikan otak kanan, orang akan berpikir lebih jernih dalam memecahkan persoalan.

Untuk itu, bagi yang mampu berpikir benar (berpikir dengan otak kiri dan kanan), maka mereka (baca : pemuda) sudah punya pola berpikir kreatif. Karenanya ia sanggup memelihara suatu virus dalam dirinya yang dinamakan N-ach (virus mental yang sanggup mengkondisikan manusia selalu dalam keadaan kreatif).

Kreativitas sendiri merupakan suatu bidang kajian yang sulit. Menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Definisi kreativitas menurut Dedi Supriadi (Kreativitas, Kebudayaan & Perkembangan Iptek; 1994), digolongkan menjadi definisi secara konsensual dan konseptual. Definisi konsensual menekankan segi produk kreatif yang dinilai derajat kreativitasnya oleh pengamat yang ahli.

Sedangkan definisi konseptual bertolak dari konsep tertentu tentang kreativitas yang dijabarkan ke dalam kriteria tentang apa yang disebut kreatif. Meskipun tetap menekankan segi produk, definisi ini tidak mengandalkan semata-mata pada konsensus pengamat dalam menilai kreativitas, melainkan didasarkan pada kriteria tertentu. Amabile (1983 : 33), secara konseptual melukiskan bahwa suatu produk dinilai kreatif apabila : (a) produk tersebut bersifat baru, unik, berguna, benar, atau bernilai dilihat dari segi kebutuhan tertentu; (b) lebih bersifat heuristik, yaitu menampilkan metode yang masih belum pernah atau jarang dilakukan oleh orang lain sebelumnya.

Jadi, unsur idealisme dan kreativitas ini dalam kehidupan manusia merupakan sesuatu yang menjadi salah satu kunci sukses seseorang. Dan orang sukses bukan berarti tanpa mengalami kegagalan. Kalah-menang akan silih berganti. Tapi, di sinilah justru letak perbedaan antara orang berjiwa besar (dewasa) dan berjiwa biasa (tidak dewasa).

Bagi orang yang dewasa, kekalahan yang dialaminya akan dimanfaatkan sebagai pendorong untuk lebih maju. Tapi bagi orang yang tidak dewasa, setiap kekalahan yang dialaminya, akan dianggap sebagai halangan untuk mencapai tujuan. Thamrin Nasution (1980), menyebutkan timbulnya kekalahan adalah disebabkan kurangnya pengetahuan yang mendalam mengenai masalah yang dihadapi itu. Dan hal ini akan dapat diatasi dengan memperdalam pengetahuan tentang masalahnya.

***

Membina Pribadi Sukses

Dalam pandangan Islam, bahwa ‘manusia’ itu yang menjadi pokok utama. Pribadi merupakan faktor konstitusi moral dan bertanggung jawab atasnya. Faktor pribadi juga adalah menjadi titik tolak pendidikan diri sendiri. Dan bertujuan kembali kepada pribadi pula. Dengan kata lain, mengenal dan mendidik pribadi sendiri artinya mengawali kesadaran sebagai makhluk ciptaan, yang harus tahu diri kepada Dzat Tertinggi yang menciptakannya. Sehingga dapat dikatakan, dengan mengenal diri sendiri secara keseluruhan, maka kita mengenal Allah Yang Maha Pencipta.

Untuk mewujudkan hal itu, maka dalam melakukan pembinaan pribadi ini, perlu adanya faktor agama sebagai landasan dalam menjaga keseimbangan eksistensi insan secara otentik. Cara terbaik dalam mengembangkannya ialah dengan senantiasa berpatokan pada “Takhallaquu Bi Akhlaqillaah” (berakhlaqlah dengan akhlaq Allah).

Konsepsi tauhid ini dalam Islam bermaksud menuntun orang untuk mengenal dan menyesuaikan penerapan nilai rendah dan nilai tinggi seorang pribadi dalam hidup yang selaras dengan kehendak Allah di dalam mewujudkan ciptaan-Nya. Janganlah kita sebagai hamba hendak berlaku sombong terhadap Allah dengan tidak mentaati perintah dan larangan-Nya, sedang sebagai makhluk yang seharusnya mengatur dan menundukan alam ini, malahan kita meredusir harga diri dan merendahkan nilai pribadi sebagai “raja makhluk". (S. Qamarulhadi; 1986 : 220).

Berawal dari pembinaan pribadi dengan berpatokan pada akhlaq Allah, kemudian yang perlu ditata pada pribadi kita dengan tekun agar mencapai pribadi sukses ialah harus memiliki iman dan ilmu. Dua syarat ini adalah mutlak, seperti dinyatakan dalam Al-Qur'an surat Al-Mujaadilah : 11, “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan mereka yang telah diberi ilmu, beberapa tingkat.”

Buah dari pribadi yang bermodalkan iman dan ilmu itu, tidak hanya berbentuk materi saja, tapi juga adalah sukses rohani, duniawi, dan ukhrawi. Hal ini, tentu didasarkan bahwa iman itu dasar mental, ilmu dasar pikir. Dalam hal ini, M. Ridwan IR Lubis (1985) menuliskan bahwa untuk kesuksesan hati dan otak diperlukan ketekunan. Dari sifat tekun akan menyorot hati dan otak kita. Adapun untuk membangun dan mengembangkan suatu pekerjaan dengan tekun, maka diperlukan empat sikap mental.

(1) Kerjakan menurut kemampuan. Segala sesuatu haruslah dikerjakan menurut kemampuan kita, jangan kerjakan sesuatu di luar kemampuan kita. Karena hasil yang didapat akan tidak sesuai dengan yang diharapkan.

(2) Mengutamakan yang penting. Setelah kita dapat mengerjakan sesuatu, maka hendaklah kita terlebih dahulu melakukan penyortiran. Pekerjaan mana yang harus didahulukan. Maka lakukan penilaian terlebih dahulu terhadap pekerjaan tersebut. Mana yang penting, perlu dan berguna.

(3) Tetapkan pendirian. Anda jangan mudah diombang-ambingkan oleh orang lain, sehingga membuat rencana menjadi buyar. Anda harus tetapkan pendirian untuk mencapai apa yang anda cita-citakan.

(4) Jangan berputus asa. Tidak ada sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah merupakan kekejaman Allah. Misalnya, kalau kita mendapati pekerjaan yang belum berhasil, maka kita harus bersabar. Karena kita harus yakin bahwa segala sesuatunya Allah sajalah yang amat mengetahui rahasia alam ini, termasuk rahasia dari ketidakberhasilan apa yang kita rencanakan. Jadi, kita tidak boleh berputus asa.

Akhirnya, kita harus sadar betul bahwa esensi kehidupan ini terletak pada pembentukan semangat dan cita-cita untuk memelihara dan menegakan kepribadian, sehingga kehidupan memperoleh daya mengembang dari dirinya sendiri beberapa alas kekuatan, seperti : memori intelektif, kecerdasan, keahlian, keteguhan hati, keikhlasan yang banyak membantu mengasimilasi kebiasaan dan perilaku kita.

Orang baik itu ialah orang yang selalu mencari jalan keluarnya setiap kali mendapat masalah. Bukannya menciptakan masalah dan kita sendiri yang menjadi sumber masalah bagi masyarakat. Sedangkan sukses itu hakekatnya adalah bagaimana setiap hari, waktu, saat, selalu berusaha memperbaiki diri dan menambah ilmu untuk menuju keridhaan Allah. Sehingga memiliki pandangan terhadap diri sendiri begitu penting bagi seseorang yang ingin mengelola diri menjadi sukses dalam hidup ini. Patut kita renungkan pernyataan yang menyebutkan, “Sukses tidak identik dengan posisi atau gelar dunia, tetapi seberapa besar Personal Vision (pandangan Pribadi) yang dimiliki seseorang.”

Wallahu a'lam.

http://www.ardadinata.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan @ Arda Dinata sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Dede Wahyudin | Karyawan Swasta
Syukron... Akhirnya saya bisa menemukan media penyejuk hati. Saya senang sekali. Mudah-mudahan bisa menambah wawasan keislaman saya Aamiin. Keep istiqomah dan salam ukhuwah.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1256 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels