|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://tetapbersyukur.wordpress.com |
|
yudi_aja56@yahoo.co.id |
|
mas.yudiii |
|
http://facebook.com/Wahyudi Yusuf |





Selasa, 20 Agustus 2013 pukul 23:00 WIB
Penulis : Wahyudi
Alkisah, tersebutlah ulama besar yang bernama Syekh Muqaddis Al-Ardabili, seorang ulama yang terkenal ahli ibadah dan zuhud. Suatu saat ia hendak mengambil air wudhu di sumur umum yang hanya diterangi 'lampu cempor' yang remang-remang.
Setelah memasukan timba dan kemudian menariknya ke atas, sesuatu yang menakjubkan terjadi. Ember yang seharusnya berisi air ternyata dipenuhi bongkahan batu permata dan memantulkan sinar lampu cempor.
Syekh Muqaddis tercengang dan beristighfar, kemudian menurunkan lagi timbanya. Kali kedua dan ketiga ia menurunkan timba dan menariknya kembali, tetapi tetap batu permata yang memenuhi timbanya.
Setelah beristighfar, ia berdo'a, "Ya Allah, hamba hanya membutuhkan air untuk menyucikan diri agar dapat beribadah kepadaMu." Kali keempat ia menurunkan timba kemudian menariknya ke atas, dan barulah air yang didapatkannya. Ia pun bersyukur dan merasa berbahagia.
Kisah tersebut menunjukkan sikap seseorang yang zuhud terhadap dunia, yang jika kita cari saat ini, tipe orang tersebut, seolah mustahil ditemukan. Namun yang terpenting adalah hikmah kisah tersebut, yaitu bagaimana kita harus mulai membangun diri kita agar memiliki sifat zuhud, karena zuhudlah yang menyebabkan segala keutamaan dapat kita raih.
Sabda Rasulullah SAW, "Siapa yang mencintai dunia kemudian keinginannya bertumpuk-tumpuk, Allah akan membutakan hatinya setingkat cintanya kepada dunia. Dan barangsiapa yang zuhud terhadap urusan dunia, Allah akan berikan baginya ilmu tanpa harus belajar, petunjuk tanpa ada orang yang menunjuki, Allah hilangkan hatinya dari kebutaan dan akan diberikan kepadanya penerangan (bashirah)."
Ahmad Dimyati - Diambil dari Sebuah Situs
http://tetapbersyukur.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Wahyudi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.