QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://redaksi.kotasantri.com
Bergabung
2 Februari 2009 pukul 14:07 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
Cyber Mujahid
KotaSantri.com merupakan singkatan dari Komunitas Santri Virtual yang terdiri dari gabungan 3 elemen kata, yakni Kota, Santri, dan .com. Kota merupakan singkatan dari KOmuniTAs, yang artinya tempat, sarana, atau wadah untuk berkumpul. Santri merupakan sebutan bagi netter yang ingin berbagi dan menuntut ilmu melalui dunia maya (internet). Sedangkan .com adalah …
http://kotasantri.com
Tulisan Redaksi Lainnya
Muslimah, Berkaryalah!
3 Mei 2012 pukul 15:00 WIB
Ketika Cinta Harus Diuji
21 April 2012 pukul 11:00 WIB
Cerdas dan Mandiri dalam Bingkai Ketauhidan
18 April 2012 pukul 11:22 WIB
Ron Mastro : Temukan Kebenaran dalam Al-Qur'an
5 April 2012 pukul 20:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 8 Mei 2012 pukul 22:00 WIB

Kejernihan Hati Imam Ali RA

Penulis : Redaksi KSC

Suatu hari ketika ‘Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. ‘Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, “Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu.”

“Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu,” orang itu berteriak balik.

“Baiklah kalau begitu,” jawab ‘Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya orang itu kebingungan. “Bukankah aku ini musuhmu?”

Ali memandang tepat di matanya dan berkata, “Kau bersumpah kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kau akan membunuhku. Sekarang kau telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku,” Tetapi orang itu tidak mampu.

“Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata,” jelas ‘Ali.

“Di dalam agama Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kau dan aku. Kita bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangbijakanmu. Yaitu antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada hari kiamat. Allah akan mempertanyakan hal ini kepadaku.”

“Inikah cara Islam?” orang itu bertanya.

“Ya,” jawab ‘Ali, “Ini adalah firman Allah, yang Mahakuasa, dan Sang Unik.”

Dengan segera, orang itu bersujud di kaki ‘Ali dan memohon, “Ajarkan aku syahadat.”

Dan ‘Ali pun mengajarkannya, “Tiada tuhan melainkan Allah. Tiada yang ada selain Engkau, ya Allah.”

Hal yang sama terjadi pada pertempuran berikutnya. ’Ali menjatuhkan lawannya, meletakkan kakinya di atas dada orang itu dan menempelkan pedangnya ke leher orang itu. Tetapi sekali lagi dia tidak membunuh orang itu.

“Mengapa kau tidak membunuhku?” orang itu berteriak dengan marah. “Aku adalah musuhmu. Mengapa kau hanya berdiri saja?” Dan dia meludahi wajah ‘Ali.

Mulanya ‘Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya.

“Aku bukan musuhmu,” Ali menjawab. “Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi wajahku. Ketika engkau meludahiku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu.”

“Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku?” orang itu bertanya.

“Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan.” ‘Ali menjelaskan kepadanya, “Meskipun engkau telah meludahiku, dan mendesakku untuk membunuhmu, aku tak boleh.”

“Dari mana datangnya ketentuan semacam itu?”

Dengan segera orang itu tersungkur di kaki ‘Ali dan dia juga diajari dua kalimat syahadat.

M.R. Bawa Muhaiyaddeen - blog.umy.ac.id/suyantoalhikmah

http://kotasantri.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1178 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels