|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://babarusyda.blogspot.com |
|
|
irhamshohiby80@yahoo.com |
|
irham.syaroni@yahoo.com |

Selasa, 20 Maret 2012 pukul 13:15 WIB
Penulis : Irham Sya'roni
Rama dan Arimba, mereka telah bersahabat sejak lama. Saling memahami, menghormati, dan menghargai, juga saling menolong, itulah yang terbentuk secara kuat dalam persahabatan mereka.
Namun, sebagai manusia biasa, kadang terjadi peristiwa-peristiwa kecil yang tidak mengenakkan. Seperti yang terjadi hari itu, saat mereka sedang asyik bermain di pantai. Mulanya mereka tertawa riang dan bersenda gurau. Tapi, entah karena apa, tiba-tiba Rama marah lalu memukul kepala Arimba. Arimba diam tanpa memberikan sedikit pun perlawanan dan balasan. Karena dia sadar, ada keterlepasan gurauannya yang sehingga menyinggung perasaan sahabatnya. Arimba lalu meraih sepotong kayu untuk menuliskan sesuatu di atas pasir pantai.
“SAHABATKU TELAH MEMUKULKU,” begitu tulisnya.
Pada hari yang lain, mereka bermain di kebun kelapa. Mereka bermain riang di sana hingga terdengar riuh oleh canda dan tawa mereka. Tiba-tiba, beberapa buah kelapa tua lepas dari tangkainya lalu jatuh. Beruntung, Rama segera menyambar tubuh Arimba sehingga ia tidak tertimpa buah itu.
“Terima kasih, Rama, sahabatku, engkau telah menyelamatkan aku,” ucap Arimba.
Esok harinya, ketika mereka kembali bertemu, Arimba menghadiahkan sebongkah batu kepada Rama. Di sana terpahat tulisan, “SAHABATKU TELAH MENOLONGKU.”
Batu itu membuat Rama terharu. “Mengapa dulu ketika aku memukulmu, kamu hanya menuliskannya di atas pasir? Tetapi, ketika aku menolongmu, kamu memahatkannya di atas batu?” tanya Rama.
“Keburukan yang tertulis di atas pasir mudah lenyap tersapu ombak sehingga aku tidak lagi mengingatnya. Sementara kebaikan yang terpahat di atas batu itu akan tetap ada di sana, sehingga aku tidak mudah melupakannya. Bukankah guru kita telah mengajarkan agar kita lebih kuat mengingat kebaikan orang lain daripada keburukannya?”
***
Jangan sampai kita mengabaikan seribu kebaikan orang lain hanya karena satu keburukan yang boleh jadi tidak sengaja ia lakukan.
Begitulah sikap yang semestinya kita tunjukkan kepada orang lain. Kita kubur dalam-dalam semua keburukan dan kesalahannya yang ia lakukan kepada kita. Sebaliknya, semua kebaikannya hendaklah kita ingat-ingat untuk semakin mempertebal penghormatan kepadanya.
Sayangnya, justru gambaran ironis yang kita lakoni selama ini. Terhadap orang lain, justru titik-titik keburukan dan kesalahan yang selalu kita rekatkan dalam ingatan. Sementara kebaikannya begitu saja kita lupakan. Bahkan, saking hobinya kita mengingat atau bahkan mengumbar keburukan orang lain sampai lupa pada keburukan diri sendiri. Lupa berintrospeksi. Na’udzu billah min dzalik.
http://babarusyda.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Irham Sya'roni sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.