|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|





Selasa, 25 Januari 2011 pukul 14:41 WIB
Penulis : Catur Catriks
Adi baru saja mengalami peristiwa yang sedikit memalukan. Pengalaman tersebut terjadi tadi pagi. Kejadiannya di ruang kelas saat jam pelajaran bahasa Indonesia sedang berlangsung.
Ibu Fatima ketika itu sedang mengajar. Menerangkan mengenai penggunaan ejaan bahasa Indonesia di dalam kalimat. Sebenarnya Adi sangat tertarik dengan pelajaran tersebut. Karena itu Adi terus mendengarkan keterangan dari ibu Fatima. Tapi tiba-tiba mata Adi terasa berat. "Uaaagh," Adi menguap beberapa kali. Pandangannya terasa gelap. Dan selanjutnya, Adi tak ingat apa-apa lagi.
Adi kaget ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya. Adi membuka mata. Dan ternyata kepala Adi sedang bersandar di atas meja dengan kedua tangan yang terlipat. Rupanya Adi baru saja tertidur.
Suara tawa teman sekelas terdengar riuh. Iiih, malunya. Mereka menertawakan Adi. Adi celingukkan dengan muka merah dan mata yang berkedip-kedip karena ngantuk. Ibu Fatima tersenyum di sampingnya. Rupanya tangan ibu Fatima-lah yang tadi menyentuh Adi hingga ia terbangun. Buru-buru Adi menunduk malu.
"Adi, mengapa kamu tertidur?" tanya bu Fatima.
"Maaf, tapi saya mengantuk sekali, Bu," jawab Adi dengan perasaan bersalah.
"Jam berapa tadi malam kamu tidur?"
"Jam satu malam, Bu."
"O, pantas," kata bu Fatima.
Suara tawa teman-teman terdengar lagi. Kali ini terdengar lebih pelan.
"Itu terlalu malam, Adi," lanjut bu Fatima, "Apakah karena kamu belajar?"
Sebenarnya Adi ingin menjawab, "Iya Bu, saya belajar sampai larut." Tapi Adi tak berani berbohong. Karena sebenarnya tadi malam Adi nonton film perang di TV dan bukannya belajar.
Maka Adi menjawab, "Tidak, Bu. Tadi malam saya nonton film."
Bagaimanapun juga Adi harus jujur. Untunglah ibu Fatima tidak marah. Beliau menyuruh Adi ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Adi keluar kelas dengan sesekali mengucek mata yang masih sedikit berat.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Catur Catriks sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.