|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
http://yuliarso.multiply.com |
|
|
for_mylove2002 |
|
http://facebook.com/kangmas yuliarso |
|
http://friendster.com/dari hati |





Selasa, 16 Maret 2010 pukul 19:40 WIB
Penulis : Yuliarso
Dikisahkan oleh Ka'ab bin Akhbar. Ketika Fathimah, Putri Rasulullah SAW sekaligus istri Ali bin Abi Thalib RA sakit, ia ditanya oleh suaminya, "Wahai Fathimah, engkau ingin buah apa?"
"Aku ingin buah delima," jawabnya.
Ali RA terdiam sejenak, sebab ia merasa tidak memiliki uang sepeser pun. Namun, ia segera berangkat, berusaha mencari pinjaman uang satu dirham. Setelah mendapatkan pinjaman, ia pergi ke pasar untuk membeli buah delima dan segera kembali pulang.
Di tengah perjalanan menuju rumahnya, ia melihat seseorang yang tergeletak sakit di pinggir jalan, maka Ali pun berhenti dan menghampirinya. "Hai orang tua, apa yang diinginkan hatimu?" tanya Ali.
"Wahai Ali, sudah lima hari aku tergeletak sakit di tempat ini. Banyak orang yang berlalu lalang, namun tak ada satu pun dari mereka yang mau peduli kepadaku, padahal hatiku ingin sekali makan buah delima," jawab orang sakit tersebut.
Mendengar jawabannya, Ali pun terdiam sebentar, sambil berkata dalam hati, "Buah delima yang hanya sebiji ini, sengaja aku beli untuk istriku. Kalau aku berikan kepada orang ini, pasti Fathimah akan sedih sekali. Namun jika tidak aku berikan, berarti aku tidak menepati firman Allah, "Terhadap si pengemis, Engkau janganlah menghardiknya." (QS. Adh-Dhuha : 10). Juga sabda Nabi SAW, "Janganlah sekali-kali kamu menolak pengemis, sekalipun di atas kendaraan."."
Kemudian Ali membelah buah delima itu menjadi dua bagian, setengahnya lagi untuk Fathimah. Sesampai di rumah, ia menceritakan peristiwa itu kepada istrinya, dan Fathimah merangkulnya serta mendekapnya seraya berkata kepada suaminya, "Kenapa kamu sedih? Demi Allah yang Mahaperkasa dan Mahaagung, ketika engkau memberikan buah delima kepada orang tua itu, maka puaslah hatiku dan lenyaplah keinginanku pada buah delima itu." Dengan wajah yang cerah, Ali merasa sangat gembira dengan penuturan istrinya.
Tidak lama kemudian, datanglah seorang tamu yang mengetuk pintu, lalu Ali berkata, "Siapakah tuan?"
"Aku Salman Al-Farisi," jawab orang yang mengetuk pintu itu.
Setelah pintu dibuka, Ali melihat Salman membawa sebuah nampan tertutup, dan diletakkan di depan Ali.
Lalu Ali bertanya, "Dari mana kah nampan ini, wahai Salman?"
"Dari Allah SWT untukmu melalui perantaraan Rasulullah SAW," jawabnya.
Setelah penutup nampan tersebut dibuka, terlihat di dalamnya sembilan biji delima, tetapi Ali langsung memprotes. Katanya, "Hai Salman, jika ini memang untukku, pasti jumlahnya sepuluh." Lalu ia membacakan firman Allah SWT, "Barangsiapa berbuat satu amal kebaikan, maka pasti baginya sepuluh kali lipat amalnya (balasannya) ." (QS. Al-An'am : 160).
Salman pun langsung tertawa, sambil mengembalikan sebuah delima yang masih di tangannya, seraya berkata, "Wahai Ali, demi Allah, sandiwaraku ini hanya sekadar menguji sejauh mana keyakinanmu terhadap firman Allah yang Engkau bacakan tadi."
Sumber : Durratun Nasikhin fi Al-Wa'dzi wa Al-Irsyad, Syekh Usman Al-Khaubari.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Yuliarso sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.