|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|
Selasa, 23 Februari 2010 pukul 20:30 WIB
Penulis : Masbita
Alkisah, ada seorang pedagang kaya, yang mempunyai empat istri. Dia mencintai istri ke-4 dan menganugerahinya harta dan kesenangan, sebab ia yang tercantik di antara semua istrinya.
Pria ini juga mencintai istrinya yang ke-3, ia sangat bangga dengan sang istri dan selalu berusaha untuk memperkenalkan wanita cantik ini kepada semua temannya. Namun ia juga selalu khawatir istrinya ini lari dengan pria lain.
Begitu juga dengan istri ke-2, sang pedagang sangat menyukainya karena ia istri yang sabar dan penuh pengertian. Kapan pun sang pedagang mendapat masalah, ia selalu minta pertimbangan istri ke-2 ini, yang selalu menolong dan mendampingi sang suami melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.
Sama halnya dengan istri pertama. Ia adalah pasangan yang sangat setia dan selalu membawa perbaikan bagi kehidupan keluarganya. Wanita ini yang merawat dan mengatur semua kekayaan dan bisnis sang suami. Akan tetapi, sang pedagang kurang mencintainya meski istri pertama ini begitu sayang kepadanya.
Suatu hari, sang pedagang sakit dan menyadari bahwa ia akan segera meninggal dunia. Ia meresapi semua kehidupan indahnya dan berkata dalam hati, “Saat ini aku punya empat istri, namun saat aku meninggal, aku sendiri, betapa menyedihkan.”
Lalu pedagang itu memanggil semua istrinya dan bertanya pada istri ke-4, “Engkaulah yang paling kucintai, kuberikan kau gaun dan perhiasan indah. Nah, sekarang aku akan mati. Maukah kamu mendampingi dan menemaniku?” Ia terdiam. Tentu saja tidak! Jawab istri ke-4 dan pergi begitu saja tanpa berkata apa-apa lagi. Jawaban ini sangat menyakitkan hati. Seakan-akan ada pisau yang mengiris-iris hatinya.
Pedagang itu sedih, lalu bertanya pada istri ke-3, “Aku pun mencintaimu sepenuh hati, dan saat ini hidupku akan berakhir, maukah kamu ikut denganku dan menemani akhir hayatku?” Istrinya menjawab, “Hidup begitu indah di sini, aku berencana akan menikah lagi jika kau mati." Bagai disambar petir di siang bolong, sang pedagang sangat terpukul dengan jawaban tersebut. Badannya mendadak terasa demam tinggi.
Kemudian ia memanggil istri ke-2, “Aku selalu berpaling kepadamu setiap kali aku mendapat masalah, dan kau selalu membantuku sepenuh hati. Kini aku butuh sekali bantuanmu. Kalau aku mati, maukah Engkau mandampingiku?” Jawab sang istri, “Maafkan aku, kali ini aku tak bisa menolongmu, aku hanya bisa mengantarmu sampai ke liang kubur, nanti akan kubuatkan makam yang indah untukmu.
Pedagang ini merasa putus asa. Dalam kondisi kecewa itu, tiba-tiba terdengar suara, “Aku akan tinggal bersamamu dan menemanimu ke mana pun kau pergi. Aku tak akan meninggalkanmu, aku akan setia berssamamu." Pria itu lalu menoleh ke samping, dan melihat istri pertamanya di sana. Merasa menyesal, sang pedagang lalu bergumam, “Kalau saja aku bisa merawatmu lebih baik saat aku mampu, tak akan aku biarkan engkau kurus seperti ini, istriku.”
***
Moral dari kisah di atas adalah sebagai berikut :
ISTRI KE-4 adalah TUBUH KITA. Seberapa banyak waktu dan biaya yang kita keluarkan untuk tubuh kita supaya tampak indah dan gagah/cantik. Semua ini akan hilang dalam suatu batas waktu dan ruang. Tak ada kegagahan/kecantikan yang tersisa saat kita menghadap kepadaNya.
ISTRI KE-3 adalah STATUS SOSIAL dan KEKAYAAN. Saat kita meninggal, semuanya akan pergi kepada yang lain. Mereka akan berpindah dan melupakan kita yang pernah memilikinya. Setinggi apapun kedudukan kita dalam masyarakat dan sebanyak apapun harta kita, semua itu akan berpindah tangan dalam sekejap ketika kita tiada.
Sedangkan ISTRI KE-2 adalah KERABAT dan TEMAN. Seberapa pun dekat hubungan kita dengan mereka, kita tak akan bisa terus bersama mereka, hanya sampai liang kuburlah mereka akan menemani kita.
Dan SESUNGGUHNYA ISTRI PERTAMA KITA adalah JIWA dan AMAL KITA. Sebenarnya hanya jiwa dan amal kita sajalah yang mampu untuk terus setia mendampingi ke mana pun kita melangkah. Hanya amal kitalah yang mampu menolong kita di akhirat kelak. Bisa jadi amal-amal kita yang kecil, meski hanya memberi sedikit sedekah kepada fakir miskin, itu akan menjadi teman setia kita di akhirat sana, semakin banyak kita beramal dengan niat ikhlas, maka akan semakin cantik dan harum teman setia kita di sana.
Sumber : Majalah Tarbawi
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Masbita sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.