HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Tetap Kokoh dengan Satu Kaki
6 November 2009 pukul 15:45 WIB
Ingin Naik Haji? Nabung Dulu Yuk!
31 Oktober 2009 pukul 16:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 10 November 2009 pukul 20:55 WIB

Di Balik Sebuah Pemberian

Penulis : Abi Sabila

Jangan pernah meremehkan pemberian orang lain, apa pun bentuknya, berapa pun nilainya, karena sangat mungkin di balik wujudnya yang tak menarik, nilainya yang kecil bahkan terkesan tidak penting dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit bagi orang lain untuk mendapatkan dan memberikannya kepada kita. Itulah pelajaran yang dari kisah pak Muslim (bukan nama sebenarnya) berikut ini.

***

Siang itu, hari terakhir bulan Ramadhan 1429 H yang lalu, pak Muslim dan sang istri mendatangi lebih dari sepuluh kios dan toko di sudut-sudut kampung bahkan sampai ke luar kampung untuk mendapatkan sekedar jajanan yang akan mereka bawa sebagai buah tangan disaat silaturrahim lebaran. Mereka terpaksa berkeliling kampung hampir dua jam lamanya karena sudah banyak toko dan kios yang tutup, ditinggal mudik pemiliknya. Kalaupun ada yang masih buka, jajanan yang tersedia tidaklah memberikan banyak pilihan. Sebenarnya mereka bisa saja mendatangi agen atau supermarket yang tentunya banyak menjual kue dan makanan lebaran, tapi itu tidak mungkin mereka lakukan karena uang yang mereka miliki takkan bisa menjangkau harganya yang mahal.

Menjelang dzuhur, mereka akhirnya menemukan sebuah kios di dalam pasar di kampung sebelah yang masih menjual jajanan yang cukup beragam, termasuk seperti yang mereka cari, murah namun pantas dijadikan buah tangan saat silaturrahim lebaran. Namun masalah belum selesai, karena ternyata uang yang mereka anggarkan untuk membeli jajanan tersebut ternyata hanya mampu untuk membeli dua kilo jajanan, sedangkan keluarga yang akan mereka beri jumlahnya ada delapan.

Akhirnya, dengan keterbatasan uang yang mereka miliki, dua kilo jajanan tersebut mereka bagi menjadi delapan bungkus, masing-masing 250 gram. Sedikit tak mengapa, yang terpenting bisa berbagi dengan famili saat silaturrahim nanti, begitu pertimbangan mereka. Tepat adzan dzuhur berkumandang, mereka tiba di rumah dengan delapan bungkus jajanan yang akan mereka persembahkan untuk keponakan mereka esok hari saat lebaran yang dinantikan datang.

Apakah yang menjadi alasan pak Muslim dan sang istri rela bahkan terkesan memaksakan diri untuk mencari jajanan sekedar sebagai buah tangan saat silaturrahim, karena gengsikah atau mereka memiliki alasan lain? Pak Muslim sadar bahwa membawa membawa oleh-oleh saat silaturrahim bukanlah sebuah kewajiban, sebab kewajiban yang sesungguhnya adalah silaturrahim itu sendiri. Tapi bagi pak Muslim dan sang istri, bisa memberikan sesuatu bagi keponakannya adalah sebuah kepuasan batin tersendiri. Sama sekali tak ada kaitannya dengan sebuah gengsi, mereka hanya ingin sekedar berbagi. Jika sekedar jajanan sebagai buah tangan bisa membuat silaturrahim menjadi lebih berkesan, mengapa tidak!

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

AMMAR Hi HABIB | Mahasiswa
Wadah inspiratif dan motivatif dalam hidup dan menjadi ruang untuk berekspresi.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1756 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels