|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 7 November 2013 pukul 21:00 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Kubiarkan angin laut mempermainkan ujung jilbab lebarku. Bersemilir nyaman meliuk-liuk menembus helaian berjuta benang menyentuh lembut pori-pori kulit, menyeka sela-sela jemari yang sengaja kubentangkan. Lepas mataku menyambar hamparan biru laut nan indah, kemudian mengikuti segerombolan burung sriti yang terbang rendah mencicit ribut . Ada rasa takjub hadir di pelataran hati. Pesona alam yang selalu memukau sempurna, menyentil pucuk-pucuk kepekaan jiwa yang masih saja ringkih.
Siang itu, tepat ketika shalat dzuhur tiba, di pantai lautMu aku merangkai niat, merajut rapi Al-Fatihah, serta melantunkan surat-surat suci pada setiap rakaat yang kuhaturkan. Terjalin pasti takbiratul ikhram, bersama tasmi’ jatuh i’tidalku pada rukuk, lalu kuletakkan dahi, hidung, dan tangangku pasrah padaMu. Menyentuh lembut pintu hati dan membentuk sketsa di antara dua sujudku. Hingga akhirnya kupurnakan dengan mengucap salam pada barisan malaikat di kanan dan kiriku yang turut mengiringi.
Butiran bening jatuh dari sudut mata ketika sekeping rasa hadir. Sebuah pengakuan membuncahkan perasaan malu yang teramat hebat. Malu karena tak pernah sempurna mengabdi padaMu, malu tuk segala kelalaian yang menggurat dalam pada bilangan waktu yang tlah berlalu, malu tuk segala pengkhianatan di atas kenikmatan yang kujamah lahap, malu pada kekerdilan jiwa yang tergapit ketiak keangkuahan, malu pada gundukan-gundukan dosa yang entah kini sudah sebesar apa, malu pada lelah diri yang sering tertatih membelah takdir.
Siang itu, di bawah pohon nan rindang, di pantai lautMu, wahai pemilik alam. Begitu menyejukkan dedaunan hijau tepat di atas tubuhku yang terebah santai. Lekat kutatap kemilau hijau itu, seulas senyum hadir di sana. Senyum seorang ibunda berwajah teduh yang menitipkan kuncup-kuncup asa di pekarangan jiwa. Sejurus kutatap wajah lugu seorang sahabat di sampingku, membisikkan padanya dengan bahasa hati, “Sahabatku, bantu aku memekarkan kuncup-kuncup asa itu dengan sempurna.”
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.