HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://alfach.kotasantri.com
Bergabung
3 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Ciputat - DKI Jakarta
Pekerjaan
IT Consultant
Alfach adalah 'nama' lain dari Achmad Fachrie atau dikenal sebagai Fachri. Nothing special with me, just try to be my self dan mencoba meraih ridhaNya. Saya hanya seseorang yang biasa saja yang ingin belajar dan berkembang, yang ingin bergerak dan berkontribusi.
http://alfach.com
alfachrie
alfcah02
alfachrie@gmail.com
Tulisan Achmad Lainnya
Keragaman Seindah Pelangi
8 Oktober 2010 pukul 18:22 WIB
Belajar Memahami
14 September 2010 pukul 17:00 WIB
Ketika Amanah Itu Datang
30 Juli 2010 pukul 18:33 WIB
Terkenang (Sahabat)
26 Juli 2010 pukul 18:44 WIB
Kehabisan Kata-kata
1 Juli 2010 pukul 17:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Senin, 18 Juli 2011 pukul 11:55 WIB

Berhenti Menulis

Penulis : Achmad Fachrie

Entah, terkadang tangan ini lelah menulis. Lelah mengikat arti dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Terkadang tangan ini jenuh menulis dan membiarkan yang ada di hadapan dan dalam hati berlalu begitu saja. Lalu terbesit untuk menyimpan bendahara kata dalam hati tanpa mengeluarkannya ke dalam bentuk tulisan. Membiarkannya terhapus waktu, tergerus terbawa angin. Atau membiarkannya tersimpan tanpa ada yang mengetahuinya.

Ada kalanya gambar yang tertangkap oleh mata ini, kembali mengabur tak terlihat jelas lalu menghilang. Ada kalanya makna yang tertangkap oleh hati ini terlepas tak kembali lalu terlupa. Ah, adakah penulis yang tak pernah menulis kembali? Adakah penulis yang tak pernah bercerita, tentang isi hatinya, tentang makna yang terjaring melalui mata dan hatinya?

Menulis… terkadang bagi yang menulis merupakan rangkaian isi hati yang sayang untuk dilewatkan. Terkadang menulis layaknya bercerita tentang indahnya malam kepada sang malam itu sendiri. Terkadang menulis layaknya mengikat arti saat ini untuk kelak kembali dibuka, bahwa dulu ini sempat tertulis. Lalu tersenyum… Layaknya reuni dengan hati yang terlupa.

Mungkin bagi penulis sejati, ketika ruang dan waktu menahannya untuk menulis, ia akan tetap menulis. Atau ketika kelelahan menyergap, saatnya reuni dengan hati menyapa untuk kembali semerbak. Seperti penjara bukanlah tempat untuk berhenti menulis. Ketiadaan pena, bukanlah alasan untuk tidak menulis. Atau ketika kebenaran dihalangi kecurangan. Atau ketika cahaya di hati ditutupi kegelapan tirani.

Ya, menulis layaknya bercerita tentang malam kepada sang malam, menulis layaknya mengutarakan isi hati yang tersimpan untuk membuka yang tertutup. Menulis layaknya untuk diri sendiri tapi menyentuh hati yang lain. Dan ketika lelah menyergap, kelak engkau akan kembali dibangkitkannya.

Wallahu a’lam bishshawab.

http://alfach.com

Suka
Fauziah Humaira menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Achmad Fachrie sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

lila | mahasiswa
Saya sangat senang sekali bisa bergabung dengan KotaSantri.com, karena saya sendiri memang santri.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1154 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels