|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
aishah_aja@yahoo.com |
|
aishah_aja@yahoo.com |
|
aishah_aja@yahoo.com |
Senin, 29 November 2010 pukul 22:00 WIB
Penulis : Laras Nur Aishah Andjani
Teruntuk kambing yang manis…
Pagi setelah shalat Ied, aku tak sabar dengan kiriman kambing yang telah kupesan. Tak sabar untuk bertemu dengan kambing qurbanku.
Mbing, Pertama bertemu denganmu, kau berlari, sangat menggelikan. Dan aku tak pernah merasa jijik padamu. Bulumu basah, putih yang tak lagi putih. Dan kau pun berteriak teriak, "Mbekkk… Mbeeekkk… Mbeeekkk…."
Mbing, kamu tuh aset akhiratku, jadi yang terbaik ya. Besok kita udah gak ketemu lagi. Senyum yang manis ya, aku foto, buat yang terakhir kalinya di akhir hayatmu.
Itu awal pertemuan kita. Aku tak mengerti dari mana kau asalnya. Dari desa mana. Karena ketika kamu dibawa ke kota ini, kamu terpisah oleh keluargamu dan dijual untuk mati. Ya, kukira kau sudah mulai lelah dan stres dengan semua ini. Begitu kejamnya dunia bagimu. Maka dari itu kau selalu berteriak-teriak tak henti-henti. Mungkin kau rindu dengan bapak, ibumu, dan saudara-saudaramu di desa. Sehingga banyak rumput hijau yang ada ribuan di hamparan tanah yang kau injak tak kau hiraukan. Padahal itu makanan favoritmu.
Kamu kuajak ke tempat yang banyak rumputnya, agar kau sedikit terhibur, dan dapat menikmati pemandangan kota yang ada di sekitarmu. Banyak mobil, motor, truk, bis, becak, angkot, kereta, dan pesawat. Dan berbeda dengan asal desamu yang begitu damai. Mungkin kau terheran-heran, dan bertanya, "Di mana aku? Akan dibawa ke mana aku?" Tapi kau hanya berucap, "Mbekkk… Mbeeekkk… Mbeeekkk…." Mana akau tau perasaanmu. Jika aku tau, akan ku katakan padamu.
Ya, mbing, mungkin ketika aku bermain-main dan mengelus-elus kepalamu, kau akan terhibur, dan kita berfoto bersama. Walaupun sangat konyol, tapi aku seneng.
Mungkin jaket merahku ini sangat mencolok di matamu. Karena selama ini, ku memperhatikanmu. Ke mana pun aku berjalan, selalu kau lihat. Kepalamu bergerak mengikuti ke mana aku pergi. Dan aku merasakan kau bahagia. Mungkin sedikit. Hahahahahaha… Dan aku tersenyum manis padamu sambil melambaikan tangan dan berkata, "Da.. daa… da… mbinnggg…."
Dan juga mungkin karena jaket merah ini yang membuatmu selalu menghampiriku. Menyeruduk-nyeruduk. Padahal kau terikat. Lucu sekali. Dan ketika ku berjalan menjauh darimu, kau malah berteriak-teriak lagi. Tapi ketika aku mendekat, kau diam.
Ya, pertemuan kita hanya beberapa jam. Aku senang dapat menolongmu dari tali yang kau buat rumit sendiri sehingga kakimu terjerat karena ulahmu sendiri. Dasar kau sangat bodoh sekali. Dan kita harus berpisah di Masjid Sholahudin ini.
Besok kau telah tiada dan tak berwujud jasadmu. Mengenaskan, tak berwujud. Dan mungkin menjadi sate atau gule, dan sebagainya.
Ketika aku ditawari untuk menyaksikan kematianmu. Aku menolak. Aku tak tega menyaksikannya, karena aku membuat kenangan manis bersamamu.
Selamat tinggal, kambinggg… Kita berpisah di hari yang sama dengan hari awal pertemuan kita. Da da daaa…. Kambing… Senyum yang manis ya. Semoga nanti dapat bertemu lagi, dengan wujud utuhmu lagi di hari kiamat nanti, seperti yang Allah janjikan.
Terlalu melankolis berimajinasi bersama kambing yang satu ini. Kambing pertamaku di Idul Adha ini.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Laras Nur Aishah Andjani sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.