|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 8 Oktober 2009 pukul 17:19 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Selamat datang di bumi Allah. Di sini ada cita-cita, ada rahasia, ada pesona, ada gerak dan daur tak putus. Di laut sana angin tengah menggulung ombak. Di gunung ia menggerak gemerisik reranting. Alam semesta tengah berbuat hal besar, menggumamkan tasbih. Ada desing, ada keriap, ada cericit, ada gemericik, ada aungan dan desau mengagungkan ciptaanNya.
Selamat menyaksikan kelahiran dan kematian. Tanah yang terinjak, pohon tempat bersandar, dinding-dinding kota, dan manusia menjadi saksi siapa di antara kita yang terbaik amalnya. Lalu kau? Adakah sejarah hidupmu hanya akan tertulis tiga baris : nama fulan, lahir tahun sekian, wafat tahun sekian. Padahal, buku sejarah dunia, juga sejarah akhiratmu, menyediakan tambahan halaman untuk kerja-kerja besar dan amal shalihmu. Ingat, sejarah tak lebih dari kumpulan biografi orang-orang besar. Kaukah?
Selamat datang dalam risalah sederhana. Aku ingin mulai mengajakmu, terutama sih diriku sendiri, memulai hidup untuk berbuat hal besar. Tidak muluk-muluk. Ya, cita kita memang merubah dunia. Tetapi urutan kerjanya tentu dari diri kita sendiri, keluarga kita, masyarakat, negara, dan baru kemudian dunia.
Mulai dari diri ini pun, kita harus memulai dari sesuatu yang kukuh. Pondasi. Dan, perjalanan kenabian telah memberikan cahaya pelajaran tentang dari mana memulai.
Referensi : “Gue Never Die” Salim A. Fillah
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.