|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|
|
|
johari_wianto@yahoo.com |





Oleh Johari Wianto
IMAM ABU HANIFAH RAHIMAHULLAH
1. Apabila hadits itu shahih, maka itulah madzhabku.
2. Tidak halal bagi seseorang untuk mengambil ucapan/pendapat kami, selama ia tidak tahu darimana kami mengambilnya. Dan dalam satu riwayat: haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk men fatwakan ucapanku. Ia menambah dalam suatu riwayat: sesungguhnya kami ini adalah manusia biasa, hari ini mengucapkan sesuatu dan kemungkinan besok mencabutnya kembali.
3. Apabila aku mengucapkan sesuatu yang menyalahi kitab Allah dan khabar rasulullah saw, maka tinggalkanlah ucapanku itu (Shifatu shalati Al-Nabi:25)
IMAM MALIK BIN ANAS RAHIMAHULLAH
1. Sesungguhnya aku ini hanyalah manusia biasa, (kadang) salah dan (kadang) benar, maka perhatikanlah pendapatku, setiap yang cocok dengan al-kitab dan sunnah, maka ambillah olehmu, dan setiap yang tidak sesuai dengan qur`an dan sunnah, maka tinggalkanlah.
2. Tidak ada seorangpun- kecuali nabi-boleh diambil dan boleh ditinggalkan.
IMAM SYAFI`I RAHIMAHULLAH
1. Telah sepakat umat islam, manakala telah jelas sunnah rasulullah, maka tidak halal baginya untuk meninggalkanya hanya karena ucapan seseorang.
2. Jika kamu mendapatkan dalam kitabku (sesuatu) yang menyalahi sunnah rasulullah, maka katakanlah rasulullah, dan tinggalkanlah apa yang aku katakan. Dalam suatu riwayat: ikutilah sunnah rasulullah saw dan janganlah menoleh pada ucapan seseorang.
3. Apabila hadits itu shahih maka itulah madzhabku.
4. Setiap masalah yang telah nyata shahihnya sebuah hadits dari rasulullah –menurut ahli hadits- akan tetapi menyalahi dari apa yang aku katakan, maka aku akan kembali, baik dimasa hidupku maupun dimasa setelah aku mati.
5. Apabila kamu melihat aku mengucapkan sesuatu padahal telah jelas ada hadits shohih dari nabi yang menyalahi ucapanku, maka ketahuilah akalku telah hilang.
6. Setiap hadits dari nabi saw adalah ucapanku, meskipun kamu tidak mendengarkanya dariku. (Shifati shalati al-nabi:29)
IMAM AHMAD BIN HANBAL RAHIMAHULLAH
1. Janganlah kamu taqlid padaku dan jangan pula taqlid kepada malik, syafi`I, auza`I serta tsauri. Ambillah darimana mereka mengambil.
2. Janganlah kamu taqlid kepada seseorang dalam agamamu, apa-apa yang datang dari nabi saw dan shahabatnya, ambilah, kemudian para tabi`in dan setelahnya (tabiin) seseorang boleh memilihnya. Dilain waktu ia berkata:”ittiba itu ialah seseorang mengikuti apa yang datang dari nabi dan para shahabatnya, kemudiansetelah tabi`in boleh memilihnya (Shifatu shalati al-nabi)
sumber: Terjemah AL-HIDAYAH hal.38-42
| Bagikan | Tweet |
|
--- ---