|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
azul_brahm@yahoo.com |

Oleh Gagak Putih
Ibu itu seperti surya.
Tak pernah lelah menyinari dunia.
Tanpa pamrih memberikan terangnya.
Kehadirannya nyata dan terasa, setiap hari sepanjang masa.
Ibu itu seluas samudera.
Tak pernah kering airnya diciduk.
Jernihnya menyegarkan, riaknya memantulkan ketulusan.
Untuk apa mengukur dalamnya, jika luasnya tak mampu diarungi oleh sampanmu?
Ibu itu secantik bulan.
Memberikan cahayanya dikala pekatnya gelap.
Selalu menoleh bumi dengan wajah dan senyumnya yang sama.
Hadapkan kepalamu ke langit jika kau tersesat di rimba.
Ibu itu layaknya bawang merah.
Kau iris dia dengan tertawa, dan saksikan wajahmu berderai air mata.
Sakitnya bawang merah tangisnya pemasak.
Sakitnya ibunda tangisnya anak.
Ibu itu umpama mata uang.
Ada sisi yang kau sukai, ada yang tidak kau sukai darinya.
Paksa dirimu menerima realita.
Sebab ia bernilai karena jika memiliki keduanya.
Ibu itu sekokoh pohon beringin.
Batangnya tinggi melangit, namun daunnya menjuntai ke tanah.
Menyediakan tempat tinggal bagi sekumpulan hewan.
Menyilakan keteduhan bagi yang bernaung dibawah rimbunnya.
Ibu, sebagaimana kesucian hatinya selalu terjaga.
Mensyukuri kehadiran anaknya yang terlahir tanpa sentuhan seorang pria.
Maka ketika terpaan fitnah dan makian ditujukan pada dirinya, sang putera membelanya.
Itulah kisah Nabi Isa, yang diperintah Allah mengembalikan hukum Taurat kepada kaumnya, serta berbakti sepenuh cinta kepada Maryam, ibundanya.
Ibu, sebagaimana cintanya nan agung kepada puteranya yang terlahir yatim dan papa.
Ia mencintainya dengan seluruh jiwa dan raga, maka demikian Imam Asy-Syafi’i mencintai ibunya.
Hingga kelak, untuk sang ibu, Asy-Syafi’i menulis buku induk fiqihnya yang luar biasa.
Kitab itu ia namai Al-Umm, Sang Ibunda.
Ibu, sebagaimana di tanah makam itu.
Delapanpuluh hari sebelum wafatnya sang Nabi, ia mengunjungi kuburnya.
Senandung cinta yang tak pernah dinyanyikan, sehelai kasih yang tak pernah dikenakan.
Itulah Muhammad SAW, sedang berlinangan air mata di depan kubur sang ibunda yang tak pernah dijumpainya.
Ibu, demikian agama memuliakan derajatnya.
Murka Tuhan murka dirinya.
Ridla Nabi ridla dirinya.
Maka jelas jika surga bertelekan di bawah telapak kakinya.
Dan Ibu, seseorang yang rela tersenyum dibalik tangisnya demi kita, malaikat kecilnya :')
Ahh..pokoknya Ibuku nomer satu di dunia..!!
"Wahai Abdullah bin Umar, aku telah menggendong ibuku seorang diri dari madinah ke makkah agar beliau bisa beribadah haji (jaraknya kurang lebih surabaya-semarang) dan aku pun menggendongnya untuk tawaf mengelilingi ka'bah, apakah aku sudah membalas jasa ibuku?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma, "Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan ibumu."
Oh Bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku...
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---