HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://fitri_ana.kotasantri.com
Bergabung
9 Juni 2010 pukul 16:36 WIB
Domisili
fukuoka - fukuoka
Pekerjaan
ibu rumah tangga
Catatan Fitriana Lainnya
anak belajar dari kehidupan...
2 Juli 2010 pukul 14:19 WIB
satu lagi ala nippon
2 Juli 2010 pukul 13:39 WIB
ilalang
23 Juni 2010 pukul 12:50 WIB
dalam sepenggalan waktu
23 Juni 2010 pukul 12:30 WIB
Catatan
Jum'at, 9 Juli 2010 pukul 13:47 WIB
18 menit bercakap-cakap dengan si bapak...

Oleh fitriana tjiptasari

“…tin-tin-tin-tin..”

tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara bel yang jarang sekali kudengar selama tinggal di higashi ini. Kulihat dari sepasang spionku, nampaklah di belakangku si bapak berseragam biru muda biru tua. Salah satu warna favoritku. Siapa menyangka perjalanan santaiku mengendarai Suzuki hitam, harus terhenti karena sedikit gangguan dari si bapak berseragam biru muda biru tua itu.

“…mingir-minggir…” katanya (dalam bahasa jepang sih, cuma terjemahan bebasnya seperti itu, jangan protes ya..^_^).

Bengong karena sepertinya aku tidak menyalahi aturan, kok tiba-tiba bliau menyuruhku minggir.

“jangan berhenti di sini dong, ayo ke kantor saja..”

Waaahhh, gubrakk, bliau mengajak ke kantor pula. Ada apa ya ??
Sepanjang jalan dari 5 meter lewat rel kereta api, sampai di kantornya, pikiran ini terus melayang, menelusur memori, mencoba menemukan setitik putih informasi untuk menguatkan diri. Sambil terus berfikir aneh, ada di mana bapak itu tadi, kok tiba-tiba muncul.

‘nihongo wakarimasuka ?’
‘uuhhhh, cyotto…’ kalau diriku menjawab bisa banyak, pasti bliau akan membawaku ke dalam percakapan berbahasa jepang, padahal sepertinya ini masalah serius. Akhirnya jawaban itu yang kupilih, hihihi.. ga papa lahh..

‘kuni wa doko desuka?’ bliau bertanya lagi
‘Indonesia..’ kujawab
‘do you speak english ?’
“yes!!!” mantap kujawab pertanyaannya.

Dan kulihat wajahnya sedikit lega, karena paling tidak, kami bisa berkomunikasi walau dengan bahasa tidak karuan. Karena jelaslah kemampuan bahasa inggris ku tidak seberapa. Tapi lumayanlah untuk mengetahui duduk persoalan sebenarnya.

“ano ne… when you will pass the railway you must stop…” katanya sambil menggambar denah di mana dia menemukanku.

Nahhh looo, ketahuan sekarang masalahnya. Hihihi, memang sih, ketika akan menyeberangi rel di sana tadi, aku hanya melambatkan laju Suzuki ku, tanpa berhenti sama sekali. Dan aku hanya menengok ke kanan dan ke kiri.

“berhenti itu, kakimu menyentuh jalan…, bukan hanya melambatkan laju motormu…”

Nahh looo lagii. hihihi, di depanku tadi ada mobil sedan hitam, sopirnya memang melambatkan laju mobilnya tanpa berhenti beberapa detik dan kemudian menyeberangi rel kereta api. Dan aku pun sama, aku persis di belakangnya. Dan aku hanya melambatkan laju motorku saja, tanpa ada adegan berhenti sejenak. Ternyata ini duduk masalahnya. Mobil dan motor itu berbeda persepsi untuk kata “berhenti”, hihihi…

“boleh pinjam kartu indentitasmu?’ tanyanya
Lalu kuberikan sim dan ktpku. bapak itu mengkopinya, lalu seperti mencari sesuatu via pangkalan data pada komputer di pojok ruangan itu.

“ano ne…, karena tidak ada record dari kamu, sekarang kamu tidak saya hukum. Hati-hati ya…”
“menyeberang rel kereta api, harus berhenti dulu, itu sudah menjadi peraturan di negeri ini.’
“sudah berapa lama kamu di sini?” tanyanya.

‘2 tahun pak..’ jawabku

‘aaa, suamimu orang negaramu, atau orang jepang ?’

‘suami saya ? orang indonesia pak’ jawabku lagi.

‘apa pekerjaanmu?’ tanyanya lagi.

‘ibu rumah tangga aja pak..’ jawabku

‘aaa, ya sudah lain kali hati-hati, ya… eh, tadi kamu pakai helm atau tidak?’ selidiknya.

‘saya? Ya pakailah pak..’ jawabku lagi.


Hehehe, si bapak, yang awalnya sedikit tegas kepadaku, lambat laun menjadi lemah lembut. Tahu kali, orang asing tidak bisa berbahasa kanji. Dan semua peraturan di jepang berbahasa kanji.

“ano ne, pak, di tempat yang bagaimana lagi, saya harus berhenti..?” ganti aku yang bertanya padanya.

“aa, iya-ya..” lalu dia menggambar tanda segitiga sama sisi pada posisi terbalik, dan menuliskan kata “tomare”.

“kalau kamu menjumpai tanda seperti ini, salah satunya, kamu harus berhenti dulu, lihat ke kanan dan ke kiri..”

Aku mendengarkan dengan sungguh-sungguh, karena mumpung bliaunya berbicara dalam bahasa inggris.

‘Sebelum perempatan, pertigaan, kalau ada tulisan ‘tomare’ di jalan, kamu juga harus berhenti dulu ! ‘ katanya mantap

‘haik wakarimashita.. !’ jawabku sambil pamit undur diri.

Yaaa.. 18 menit di kantor polisi, ketika aku tidak benar-benar berhenti ketika akan menyeberang rel kereta api. Sebuah pelajaran berharga untukku. Karena keramahan bliau menghadapi aku yang notabene dalam posisi bersalah. Karena tambahan pemahaman tentang per-lalulintas-an yang selama ini hanya kupelajari sambil menancapkan gas suzukiku. Belajar dari para pengukur jalan yang lain.

Bagikan

--- 0 Komentar ---

Fariz Aziz | Mahasiswa
Alhamdulillah KotaSantri.com masih ada. Udah 2 tahun nich gak browsing web ini.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0593 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels