|
Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
|
|
|
http://www.ardadinata.web.id |
|
http://facebook.com/ardadinata |
|
http://twitter.com/ardadinata |





Jum'at, 4 Oktober 2013 pukul 22:22 WIB
Penulis : @ Arda Dinata
Dalam seminar "Perempuan dalam memantapkan Ketahanan Budaya Bangsa Menuju Kemandirian" di Pusat Bahasa, Rawamangun, beberapa tahun lalu, penulis Helvy Tiana Rosa sebagai pembicara sesi kedua menyampaikan uraiannya.
Beliau mengatakan, "Siapa saja bisa menjadi pengarang atau penulis asal memiliki kemauan dan kemampuan untuk menuangkan ide-ide tulisannya."
Mbak Helvy juga mengatakan, "Saya mengutip kata-kata Kuntowijoyo, untuk menjadi penulis, ada tiga cara. Pertama, menulis. Kedua, menulis. Dan ketiga, menulis."
Untuk menjadi seorang penulis, menurut mbak Helvy, harus mengupayakan kebiasaan menulis. Bahkan, penulis sekaliber Korrie Layun Rampan, setiap hari menulis satu lembar kertas. Menurutnya, "Sebaiknya setiap hari menulis, minimal satu paragraf." (Warta Kota, 26 Desember 2008, Halaman 3).
Untuk dapat menjadi penulis harus ada kemauan. Sepertinya ini merupakan hal yang dasar. Jika tidak ada kemauan, apa saja tidak akan bisa. Permasalahannya, jika kita sudah memiliki keinginan untuk menulis, apa yang harus kita lakukan?
Menulis! Ya, menulis. Menulis apa saja. Ungkapkan semua perasaan dalam bentuk tulisan. Tuangkan semua pemikiran dalam kata-kata. Ceritakan kesedihan, teteskan air mata dalam bentuk kalimat dan lakukan seperti sedang curhat kepada orang lain. Mungkin inilah yang dimaksud menulis juga dapat menjadi terapi kejiwaan.
Maki-makilah orang yang dibenci dalam deretan huruf. Berilah ujung-ujung kalimat dengan tanda seru yang banyak. Coba ungkapkan pula tanda seru itu dalam bentuk kata, kalimat dan kalimat.
Sedang dalam keadaan gembira? Cobalah ungkapkan bukan dalam bentuk traktiran, sampaikan kegembiraan dalam bentuk tulisan. Ucapkanlah rasa syukur kepada Allah -selain dalam bentuk ibadah- dalam bentuk untaian kata. Sampaikanlah rasa terima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat mewujudkan kegembiraan yang dirasakan.
Mungkin hal-hal di atas merupakan solusi bagi mereka yang sulit memperoleh ide. Sampaikan saja hal-hal yang ada di dalam perasaan dan pikiran.
Selain itu, kita juga dapat menyampaikan mengenai hal-hal yang kita sukai (hobi), suatu bidang yang banyak kita ketahui. Ceritakan pada khalayak ramai hobi kita yang bermain bola. Bagaimana pentingnya kerja sama dalam bermain bola atau futsal. Ungkapkan kegembiraan ketika berhasil menyarangkan bola ke gawang lawan. Ungkapkan penyesalan ketika berhasil menyarangkan bola ke gawang sendiri. Sampaikan kekesalan ketika teman tidak berhasil menyarangkan bola ke pihak lawan, padahal operan yang kita lakukan sudah cukup bagus.
Bukankah contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa menulis dapat dilakukan tanpa adanya penelitian, tanpa membuka-buka berbagai rujukan, tanpa perlu adanya wawancara?
Referensi : arnabgaizir. blogspot.com / arnab20.multiply.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan @ Arda Dinata sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.