Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Ungu
13 Februari 2013 pukul 18:00 WIB
Emas di Tangan Penulis
1 Februari 2013 pukul 20:00 WIB
Inspirasi
4 Januari 2013 pukul 17:00 WIB
Untung, Naskah Saya Ditolak
7 Desember 2012 pukul 16:00 WIB
Ketika Artikel Tidak Dimuat
9 November 2012 pukul 15:00 WIB
Bilik
Bilik » Pena

Jum'at, 1 Maret 2013 pukul 16:00 WIB

365 Hari = 1 Buku

Penulis : Eko Prasetyo

Menulis buku sulit? Mulai sekarang, enyahkan stigma itu. Sebab, dari hal yang sederhana dan pengalaman pribadi saja, bisa dijadikan sebuah buku. Syaratnya, mau dan mampu. Mau dalam arti punya kemauan keras untuk belajar, kemauan menghadapi segala tantangan dan hambatan, serta kemauan menjadi lebih baik. Jika semua itu sudah dilalui, niscaya kemampuan akan mengiringi.

Tapi, menulis buku itu kan sulit, apalagi jika nggak nemu-nemu inspirasi. Ya, dalam kondisi tertentu, menggaet inspirasi memang tidak mudah. Karena itu, seorang penulis butuh berkontemplasi: merenung serta menenangkan hati dan pikiran.

Tak bisa dimungkiri, kontemplasi bisa menjadi pengusir kepenatan sejenak. Sebab, otak bakal sulit diajak berkompromi bila berada dalam kondisi kelelahan. Bisa saja mengetik berjam-jam, tapi tulisan yang dikehendaki tak kunjung rampung. Jika kelelahan, tak perlu memaksakan diri untuk menulis.

Dalam masa perenungan tersebut, kita berusaha mengembalikan kejenuhan hingga mencapai titik nol. Setelah tubuh dan otak segar kembali, kita dapat melanjutkan aktivitas menulis. Lantas, apa saja yang mesti dilalui ketika hendak menulis buku?

Siapapun bisa menulis. Tapi, untuk menulis bagus, belum tentu tiap orang dapat melakukannya. Karena itu, tahapan menulis tersebut perlu dilalui. Tahapan pertama tentu saja melalui hal yang dianggap paling mudah. Menuangkan atau menuliskan pengalaman dan perasaan termasuk dalam kategori ini. Misalnya, artikel refleksi dan kisah nyata si penulis atau orang lain. Biasanya, bahasa yang digunakan di sini tidak terlalu kaku, cair, dan lugas. Bahkan, si pengarang dapat menulis dengan menggunakan bahasa cakapan atau gaul.

Tahapan selanjutnya adalah menulis artikel yang lebih ilmiah. Sudah tentu tahapan ini lebih sulit. Sebab, si penulis dituntut untuk memiliki data yang faktual, analisis yang mendalam, dan bahasa ilmiah populer. Soal tahapan ini tidak akan dibahas panjang lebar di sini.

Kembali ke tahapan yang termudah, banyak kok penulis atau blogger yang menuai sukses sebagai penulis buku melalui tahapan itu. Umumnya, mereka menuliskan pengalaman yang unik, aneh, lucu, mengharukan, dan sebagainya. Bahkan, kadang tema yang diangkat mungkin terkesan remeh-temeh bagi orang lain. Contohnya, Raditya Dika (penulis buku Kambing Jantan), Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara), Asma Nadia (Catatan Hati Seorang Istri), Ria Fariana (Be A Smart Girl), dan banyak lagi.

Beberapa kalangan menyebut, saat ini merupakan era kebangkitan buku. Benar atau tidak data tersebut, setidaknya banyak penulis baru yang hadir memberikan sinyal positif bagi dunia buku di Indonesia.

Menulis buku pun tidak lagi dipandang sebagai sebuah sambilan. Seorang sahabat saya, Ria Fariana, penulis dan aktivis Forum Lingkar Pena (FLP), bahkan rela keluar dari pekerjaan yang menjanjikan penghasilan tetap dan mapan. Dia lebih memilih menjadi penulis buku. Menulis dijadikannya sebuah profesi. Kiranya, banyak orang yang sejalan dengan pemikiran Ria.

Satu tahun terdiri atas 365 hari. Seandainya kita menulis satu lembar saja sehari, dalam setahun akan terkumpul 365 lembar. Dan itu sudah bisa dijadikan buku. Ya, satu hari satu lembar tulisan. Silakan tuliskan apa saja, bisa unek-unek atau bahkan curahan hati. Buatlah alur sedemikian rupa agar menjadikannya sebuah cerita yang menarik dan menggugah. Terlalu lama menunggu 365 hari? Jawabnya, itu tergantung pada sebesar apa kemauan dan usaha Anda. Bisa saja 365 lembar rampung dalam waktu tiga bulan, dua bulan, atau bisa saja cuma dua minggu. Satu hal yang pasti, sukses itu tidak instan.

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Wuri Handayani | Mahasiswi
Tulisan teman-teman di KSC senantiasa selalu menjadi bahan inspirasi tarbiyah aku. Jazakillah khair.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1307 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels