|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 13 Juni 2013 pukul 23:00 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Ketika masa prapaskah pada 2008, saat saya dan teman-teman sedang berkumpul, secara tiba-tiba ada salah seorang teman saya yang bertanya pada saya. "Bagaimana bisa seorang Tuhan menderita sengsara disalib? Bagaimana bisa Tuhan dibunuh?"
Mendengar pertanyaan itu, saya mendadak emosi. Lalu teman saya itu mengambil Kitab Suci Al-Qur'an, dia menceritakan tentang kisah Isa Almasih menurut Islam. Nama Isa Almasih atau Yesus Kristus dan Maria atau Maryam ternyata juga ada dan dimuliakan dalam Islam. Teman saya membacakan ayat tentang kisah penyaliban Isa, menurut Al-Qur'an Isa tidak disalib, melainkan Isa diselamatkan oleh Allah.
Kisah Isa yang diceritakan teman saya ini membuat saya marah. Tidak sampai di sini saja, keesokan harinya saya kembali menemui teman saya yang beragama Islam itu, kali ini saya membawa Al-Kitab. Kami mulai berdiskusi membahas tentang kisah Isa Almasih. Jika dalam Kristiani, Yesus dianggap sebagai anak Tuhan, maka Islam memuliakan Yesus sebagai Nabi utusan Allah.
Dari diskusi itu, sayalah yang lebih banyak diamnya, tak berkutik. Sebab ayat-ayat dalam Alkitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru itu saling berselisih antara ayat 1 dengan yang lain. Ketika saya mendengar teman saya membacakan Al-Qur'an, ternyata ajaran Taurat, Zabur (Mazmur), dan Injil juga ada di dalam Al-Qur'an. Hal ini membuat saya semakin bimbang dengan agama Katolik saya saat itu.
Saat Jum'at agung tiba, saya masih sempat beribadah ke Gereja, sebab hari Jum'at agung adalah hari dimana Yesus disalib lalu wafat. Saya masih saja terpikirkan ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan teman saya. Saat upacara penciuman salib pada patung kaki Yesus, kondisi badan saya mendadak panas, panas sekali, entah mengapa saya tidak kuat, dan seperti ada bisikan-bisikan yang menyuruh saya agar keluar dari Gereja. Lalu saya keluar dan tidak lagi mengikuti misa, diam-diam agar tidak ketahuan ibu saya, sebab saat itu saya pergi ke Gereja bersama-sama dengan ibu dan adik saya.
�
Ketika sudah sampai di rumah, saya masih sempat menonton film Yesus "The Passion of Christ". Hati saya berkata, "Mana mungkin seorang anak tuhan mati dikayu salib? Dan berkata Eli Eli Lama Sabaktani?" Eli Eli Lama Sabaktani adalah, "Ya Bapa, kenapa Engkau meninggalkan aku?" Bagaimana mungkin seorang tuhan kesakitan dan tak dapat menyelamatkan diri?
Lalu saya bertekad terus-menerus membaca Al-Kitab, dan anehnya tidak ada satupun ayat bahwa Yesus mengaku sebagai anak Tuhan, maka sembahlah Yesus! Tidak ada satupun saya jumpai. Malahan dengan sangat jelas Yesus mengaku sebagai utusan Allah. Dan ini sama seperti Al-Qur'an, bahwa Isa Almasih itu hanyalah utusan Allah, bukan Tuhan.
Ketika saya terus-menerus membacanya, lalu saya tertidur. Saya bermimpi di suatu tempat berkabut, langit mendung, dan saya memakai pakaian putih-putih, lalu saya berjalan maju dan akhirnya saya melihat sebuah palang. Tertulis arah kiri ke NERAKA dan arah kanan menuju SURGA. Saya mengambil arah kanan menuju SURGA, lalu saya melihat banyak sekali orang yang antri masuk SURGA. Sayapun ikut antri masuk ke SURGA, tetapi saat saya masuk barisan, saya tiba-tiba saja ditarik keluar barisan oleh seseorang, orang itu seperti memakai ihram. Dia berpesan pada saya, bahwa jika kamu ingin masuk surga, maka ikutilah aku. Dan saya mengikutinya, saya dibawa ke masjid. Masjid itu sangat indah sekali. Saya diajari cara berwudhu dan shalat. Ketika selesai shalat, tiba-tiba saja terjadi gempa yang keras, lalu saya keluar masjid dan saya melihat tanah-tanah terbuka dan mengeluarkan jenazah-jenazah yang bangkit kembali. Saya mendengar suara yang keras memekik telinga seperti suara adzan, saat itu saya menangis ketakutan dalam alam mimpi. Dan ketika saya terbangun, ternyata tepat adzan subuh dan saya menangis pula di alam nyata ketika bangun dari tidur saya. Tiba-tiba saja saat itulah hati saya sudah dibalik oleh Tuhan. Saya ingin shalat, tetapi belum hafal cara wudhu dan shalat.
Akhirnya sayapun berniat untuk bersyahadat dengan memberangkatkan diri ke Jakarta. Dengan dibantu oleh saudara Irwan dan Steven Indra dari mualaf.com, saya bersyahadat di Jakarta pada 2009 lalu.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.