|
Tazakka : "Perjuangan itu artinya berkorban, berkorban itu artinya terkorban. Janganlah gentar untuk berjuang, demi agama dan bangsa. Inilah jalan kita."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Kamis, 25 April 2013 pukul 23:30 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Perkenalan Zainab, sebut saja namanya demikian, dengan Islam berawal dari propaganda yang dilakukan keluarganya. Oleh keluarganya, penganut Sikh, menggambarkan Muslim sebagai sosok yang jahat dan tidak dipercaya.
“Orangtuaku selalu mengatakan Muslim selalu membawa perempuan Sikh ke Pakistan. Di sana, perempuan Sikh dijual,” kata dia seperti dikutip Arabnews.com.
Semakin banyak Zainab mendengar cerita itu, ia semakin percaya. Pada akhirnya, muncul pandangan berbeda dari pikiran Zainab. Pandangan itu muncul karena ia banyak bergaul dengan teman yang berlatar belakang agama berbeda.
“Aku memang tidak pernah memilih-milih teman. Ini membuatku cukup akrab dengan Muslim,” kata dia menjelaskan.
Suatu hari ia bertemu dengan sahabatnya. Kebetulan ia beragama Islam dan mengenakan jilbab. Melalui sahabatnya ini, Zainab merasakan ada hal yang berbeda dari seorang Muslim.
Tanpa terasa, Zainab sangat terpengaruh dengan perilaku santun sahabatnya itu. Kesan yang sama juga dirasakan ketika ia bergaul dengan pria Muslim. Merasa cocok, Zainab-pun tak ragu menjadikannya kekasih.
Hubungan mereka perlahan memasuki jenjang yang lebih serius. Pernah ia mengungkapkan kepada kekasihnya itu seorang perempuan Sikh harus menikah dengan pria Sikh. “Tapi dia tak masalah dengan itu. Justru ia selalu mengajarkanku tentang keyakinan Islam,” kata dia.
Usai menjalin hubungan dengan pria Muslim itu, Zainab merasakan hal yang aneh. Di telapak tangannya terlihat tanda Allah. Ia begitu panik. Lalu coba ia tanyakan tanda itu kepada teman-temannya. Ketika tidur terlelap, iapun bermimpi Ka'bah. “Jujur aku sangat bingung,” kata dia.
Di satu sisi, Zainab merasa bahagia karena ini adalah petunjuk baginya untuk menjadi Muslim. Di sisi lain, keluarganya tentu akan menolak pilihannya itu. Akhirnya, Zainab memilih untuk meninggalkan rumah.
Keluarganya memaklumi apa yang dipilihnya itu. “Alhamdulillah, akupun menjadi Muslim,” kata dia. Usai mengucapkan dua kalimat syahadat, ia tak ragu mengenakan jilbab.
Ketika melihat penampilan baru anaknya itu, keluarga Zainab begitu terkejut. Namun, ia coba untuk memberikan pengertian. “Aku tidak ingin melepas apa yang aku kenakan.
Kini, satu hal yang ia harapkan. Orangtuanya bisa mengikuti jejaknya untuk menjadi Muslim. “Insya Allah, suatu hari mereka akan menjadi Muslim, Insya Allah,” ungkap Zainab optimistis.
Dari Republika Online
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.