HR. Ad-Dailami : "Alangkah baiknya orang-orang yang sibuk meneliti aib diri mereka sendiri dengan tidak mengurusi aib orang lain."
Alamat Akun
http://kama.kotasantri.com
Bergabung
21 Juli 2010 pukul 00:30 WIB
Domisili
Makassar - Sulawesi Selatan
Pekerjaan
Mahasiswa
Org ini memiliki kbiasaan aneh, kalau Pusing paling suka ditarik2/mengikat rambutnya, muncul didunia ini dg tujuan, kembali kepada Siapa yg membawanya kdunia ini dg amanah yg telah ia pikul, yg pertama kalinya bertemu dgnnya mungkin akan bertanya2 "apakah orang ini mampu mengangkat kepalanya dan mampu berbicara tau tdk ya?"
Tulisan Kamaruddin Lainnya
Sarah Joseph : Berjihad Melalui Media Massa
14 Februari 2013 pukul 19:00 WIB
Abdul Rahman : Mualaf yang Membimbing Para Mualaf
24 Januari 2013 pukul 15:30 WIB
Raquel : Islam bukan Hanya Sekedar Agama
3 Januari 2013 pukul 16:00 WIB
Kim : Islam Mengisi Kekosongan Jiwa
13 Desember 2012 pukul 18:00 WIB
Bilik
Bilik » Mualaf

Kamis, 28 Maret 2013 pukul 16:00 WIB

Mustafa Samuel : Syok Saat Pertama Kali Baca Al-Qur'an

Penulis : Kamaruddin

Butuh waktu 25 tahun bagi Steven untuk menemukan Islam dan meyakini bahwa Islam-lah agama kebenaran, yang mampu menjawab semua pertanyaan yang selama puluhan tahun mengusik alam pikirannya.

Setelah melalui pencarian panjang, pada 2009, Steven mantap bersyahadat dan hidup sebagai seorang muslim dengan nama Islami Mustafa Samuel.

Ia lahir dalam keluarga penganut agama Kristen Ortodoks, dan mengenyam pendidikan di berbagai sekolah Kristen, mulai dari yang berbasis Katolik, Protestan, Maronit, Kristen Ortodoks, dan aliran Kristen lainnya. Pengalaman ini membuat Steven memiliki cukup bekal pengetahuan agama, sekaligus membuatnya berpikir kritis terhadap ajaran Kristen yang diketahuinya.

“Saya tidak pernah benar-benar menerima dogma yang diajukan pada saya. Saya adalah orang yang akan selalu menanyakan apa saja, termasuk soal agama,” ujar Steven.

Ia mengingat kembali perjalanan hidupnya di era 1990-an, masa dimana ia benar-benar serius mencari tahu tentang banyak hal. Steven juga memutuskan pindah tempat tinggal dari Sydney ke Queensland, karena ia merasa Sydney bukan tempat yang baik buat dirinya.

“Saya pernah bekerja di sebuah toko minuman keras selama lima tahun, dan saya pernah menyaksikan perilaku manusia yang sangat buruk, yang tidak pernah Anda bayangkan. Saya kira, pengalaman ini mengguncang keyakinan saya akan kemanusiaan,” ungkap Steven.

Setelah pindah ke Queensland, Steven berusaha mencari kebenaran yang ia inginkan, dan berdo'a pada Tuhan agar menunjukkan kebenaran itu, dan ia akan menerimanya.

“Selama masa itu, saya ikut jama'ah Mormon, Saksi Yehovah, dan jama'ah beragam aliran agama Kristen untuk menemukan kebenaran yang saya cari. Tapi saya tidak pernah bisa mendapatkan jawaban yang saya inginkan, ‘Mengapa saya di sini? Apa tujuan keberadaan saya?’” tutur Steven.

Peristiwa serangan 11 September 2001 di AS, menjadi titik balik pencarian Steven. Selama ini, di tengah pencariannya akan kebenaran, Steven tidak pernah melirik ajaran Islam, dan ia tidak tahu sama sekali tentang Islam.

“Saya tidak terlalu berusaha mencari tahu lebih jauh tentang Islam. Tapi saya kira, saya merasa bahwa mungkin umat Islam adalah umat yang benar-benar menjalankan ajaran agamanya dengan benar. Melihat bagaimana seluruh dunia bersikap perang terhadap orang Islam, satu hal yang menurut saya masuk akal, mungkin karena kaum Muslimin berada di jalur yang benar,” ungkap Steven.

Namun cahaya Islam belum menerangi hati Steven. Steven masih terus melakukan pencarian dan melakukan perjalanan ke berbagai negara, mulai dari AS, Amerika Tengah, Eropa, termasuk ke Italia untuk bertemu dengan keluarganya, lalu ke Dubai dan Singapura.

Selama lima hari kunjungannya di Dubai, Steven berniat untuk melihat sendiri bagaimana Islam yang sebenarnya, karena Dubai adalah negara muslim. Tapi Steven mengaku kecewa, karena Dubai tidak seperti gambaran kota Islami seperti yang ia bayangkan. Tapi ada satu hal yang benar-benar menarik perhatian Steven saat di Dubai.

“Saya pergi ke sebuah museum di sana, dan di seberang jalan museum saya melihat sebuah masjid. Saya benar-benar ingin menyeberang jalan dan melihat masjid itu untuk mencari tahu tentang Islam. Saya tidak sadar hari itu hari Jum'at, saat umat Islam menunaikan shalat Jum'at. Saya belum paham ketika itu. Saya juga mengenakan pakaian kasual seperti yang digunakan warga negara asing lainnya, sementara orang-orang di masjid mengenakan busana lokal. Padahal saya benar-benar ingin sekali ke masjid itu,” ungkap Steven.

Keinginannya untuk masuk ke masjid tidak pernah tercapai, karena ia harus kembali ke Australia. Steven mulai mencari tahu sendiri tentang Islam. Tahun 2006, ia membeli Al-Qur'an pertamanya, yang ia baca dalam kurun waktu 2,5 tahun. Steven mengaku syok, saat membaca isi terjemahan Al-Qur'an.

“Saya baru tahu kalau Nabi Musa, Nabi Luth, dan Nabi Nuh, serta nabi-nabi lainnya juga diceritakan dalam Al-Qur'an. Saya benar-benar kaget dan berseru dalam hati ,‘Oh, wow.’ Tak ada satupun dalam Al-Qur'an yang ingin mengobarkan perang atau mengarah pada kata ekstrimisme atau terorisme, atau apalah. Rasa ingin tahu saya makin besar. Oleh sebab itu, selama dua tahun selanjutnya saya terus mempelajari Islam. Saya baca Al-Qur'an sekali lagi,” papar Steven.

Steven mengaku sudah ingin masuk Islam pada 2008, tapi ia tidak menemukan seorang muslim yang bisa membantunya. Ia mengontak sebuah masjid, mengirim surat elektronik, dan meminta dikirimkan Al-Qur'an. Tapi tak ada yang menjawab suratnya. Ia jadi berpikir, “Baiklah, mungkin Allah tidak menginginkan saya menjadi seorang muslim.” dan ini membuatnya agak panik.

Tahun 2009, Steven kembali ke Sydney dan bertemu seorang muslim yang menurutnya sangat ramah, namanya Samir. Awalnya Steven berpikir Samir bukan muslim karena tidak berjenggot, dan Samir punya menantu bernama Adam yang membuat Steven berpikir keduanya adalah Kristiani.

Saat itu, Steven sudah tahu bagaimana caranya shalat, yang ia pelajari lewat internet. Steven bahkan sudah mulai menunaikan shalat seperti layaknya muslim, sejak seminggu sebelum ia memutuskan untuk mengucapkan syahadat. Ia juga mulai meninggalkan kebiasaan minum minuman beralkohol dan tidak lagi makan daging babi.

Suatu hari, Samir membawakannya satu box pizza dan minuman ringan. Ia bertanya pada Samir apakah makanan itu halal, karena saat itu Steven masih mengira Samir bukan muslim. Samir menjawab bahwa pizza yang dibawanya halal. Saat itulah Steven baru tahu kalau sahabatnya itu seorang muslim, dan ia mengatakan, “Oh, saya ingin menjadi seorang muslim.”

Keesokan harinya, Samir membawa Steven ke rumah seorang iparnya dan di sanalah Steven mengucapkan dua kalimat syahadat. “Saya merasa sangat-sangat bahagia, dan sejak itu saya tidak pernah lagi menengok ke belakang,” tukas Steven alias Mustafa Samuel.

Steven merasakan perubahan besar dalam dirinya setelah menjadi seorang muslim. “Islam membuat saya lebih disiplin dengan kewajiban shalat lima waktu, wudhu, menahan lapar saat Ramadhan, menahan diri untuk tidak makan daging babi, dan minum minuman keras. Islam mengubah semuanya, mengubah keseluruhan dinamika kehidupan saya. Saya jadi lebih tenang, tidak mudah marah, lebih seimbang dalam berpikir. Jika dulu saya gampang emosi, sekarang saya lebih rileks,” papar Steven.

“Islam mengajarkan kita untuk menjadi orang yang sabar. Saya sangat bahagia memeluk Islam, karena Islam memberikan saya banyak kebaikan yang tidak saya miliki sebelumnya,” tandas Steven.

Dari eramuslim.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Kamaruddin sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Teguh Yulyono | CSA Dubai Airport
Saya sangat gembira kembali bisa membuka dan membaca tulisan rekan-rekan yang memberikan pencerahan. Untuk admin : U R survival after so long with many challenges. Keep it up your spirit, your website had changed a lot of people who read articles on it. One of them is me. Thank you so much. Insya Allah bisa menjadi amalan kebaikan dan mendapat nilai yang sempurna di mata Allah SWT.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1117 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels