|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://indra.web.id |
|
saya@indra.web.id |
|
|
steven widjaja |
|
http://facebook.com/steven indra widjaja |
|
http://friendster.com/steven widjaja |





Kamis, 6 Desember 2012 pukul 18:00 WIB
Penulis : Indra Widjaja
Kalau mengingat kembali saat pertama saya merasa terpanggil untuk menjadi seorang muslimah, rasanya tidak mampu saya menahan perasaan kagum dan takjub saya pada Ilahi Rabbi, Sang Pencipta Yang Maha Agung. Betapa tidak, peristiwa terdengarnya suara adzan di telinga saya saat berada di dalam pesawat dengan ketinggian 30000 kaki (feet), adalah sesuatu yang --kalau dipikirkan secara logika--sangat mustahil.
Terlebih lagi, saat saya sadari bahwa suara adzan, yang entah dari mana asalnya itu, hanya saya sendiri yang mendengar. Namun, saat detik itu, setelah saya dengar dengan khusyu suara adzan "ghaib" selama hampir 15 menit itu, tertanam niat di hati saya untuk masuk Islam.
Peristiwa di dalam pesawat yang terjadi beberapa tahun lalu itu, juga mengingatkan saya pada masa lalu, yang terus terang saja, tidak terlalu menyenangkan. Kehidupan yang saya jalani sebelum mengenal Islam adalah hari-hari yang seakan tak pernah berakhir. Terasa panjang, berat, dan sepi.
Saya, Liu Lie Hwa, yang lahir di Medan, Sumatera Utara, tahun 1972 silam, sudah harus bekerja keras banting tulang, agar pendidikan saya tidak berhenti di tengah jalan. Meski saya anak bungsu dari lima bersaudara, tapi saya bertekad untuk membiayai sendiri sekolah saya, setidak-tidaknya harus tamat SMU.
Itu terjadi karena kedua orangtua kami meninggal dunia pada saat saya masih membutuhkan banyak biaya, terutama untuk pendidikan. Keempat kakak saya sebenarnya mau menanggung semua kebutuhan saya, setidaknya hingga saya merasa mampu untuk hidup mandiri. Tapi saya, dengan segala kerendahan hati, meminta kepada mereka agar membiarkan saya berusaha sendiri lebih dulu. "Bila aku nggak mampu, barulah kakak boleh membantuku," kata saya saat itu. Nekat, memang. Tapi, saya tidak menyesal sedikitpun dengan keputusan itu.
Benar kata orang, di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Karena usaha keras, saya berhasil sekolah sambil bekerja sebagai tenaga pembukuan di sebuah toko kecil di kota Medan. Selain itu, saya yang kata orang punya suara lumayan bagus mencoba juga untuk meniti karier di bidang tarik suara. Saya menjadi penyanyi amatir, sekadar untuk menambah uang saku. Lumayan, pikir saya. Dan selama itu halal, saya tidak malu menjalaninya.
Begitulah kehidupan yang saya jalani saat itu. Dan, mengenai perjalanan batin saya dalam mencari ketenangan lewat agama, sempat juga membawa saya untuk berpaling dari agama semula, menjadi seorang pengikut Budha. Saya terang-terangan masuk agama Budha, tahun 1987, saat duduk di kelas satu SMU. Yang saya tahu saat itu, agama tersebut terasa lebih menarik untuk ditelusuri. Ajaran yang dikandungnya terasa seperti air mengalir, dan lebih banyak memberi saya ketenangan batin.
Setelah lulus SMU (1989), kegiatan saya sebagai penyanyi semakin meningkat, karena lewat menyanyi, segala kebutuhan saya lebih terjamin. Tawaran untuk show dalam dan luar kota, selalu saya terima dengan tangan terbuka, terlebih karena saya sudah tidak terikat lagi dengan waktu belajar.
Ketika datang tawaran untuk show di Jakarta bersama artis senior lainnya dari kota Medan, saya tidak berpikir dua kali. Segera saya siapkan segalanya untuk berangkat ke Jakarta, karena selain untuk urusan menyanyi, di Jakarta pun saya ingin bertemu dengan paman dan tante yang sangat sayang pada saya, walaupun mereka tahu saya sudah memeluk agama Budha.
Paman dan tante saya sangat taat menganut agama Katolik --apalagi paman adalah seorang penginjil. Namun, mereka tetap sayang kepada saya. Barangkali yang menjadi pertimbangan mereka karena saya adalah anak yang sudah tidak beribu dan berayah, yang patut dikasihani. Entahlah.
Singkatnya, saat ingin kembali ke Medan inilah, saya mengalami peristiwa adzan "ghaib" di dalam pesawat. Benar-benar tidak pernah saya duga sebelumnya. Bahkan malam hari sebelum peristiwa itupun, saya tidak bermimpi apa-apa. Dan anehnya, saya yang selama ini belum mengenal Islam, kecuali sepintas lalu, tapi suara adzan itu entah mengapa terasa tidak asing lagi di telinga saya. Saya menikmatinya dengan sungguh-sungguh, hingga dalam benak saya terbetik kata, "Mengapa tidak sejak dulu saya masuk Islam. Tentunya, suara adzan seperti ini akan senantiasa saya dengar."
Setelah suara adzan dalam pesawat itu berlalu, saya yang tengah dilanda bingung itu tidak kuasa untuk menanyakan perihal pendengaran saya itu kepada siapa saja di pesawat itu yang mempunyai ciri-ciri seorang muslim atau muslimah. Kebetulan, penumpang yang ada di samping saya adalah seorang bapak berusia 60-an, yang mengenakan topi haji berwarna putih.
Pikir saya, ia pasti seorang muslim. Tanpa banyak berpikir lagi, saya langsung menyapanya, memperkenalkan diri, dan menceritakan sedikit mengenai keajaiban yang baru saja saya alami.
Orangtua berperawakan sedikit gemuk, yang sebagian rambutnya sudah berwarna putih itu, bernama Pak Rahmat. Ia ternyata benar-benar seorang muslim yang baik, karena dengan segala keramahan dan kebijakannya, ia menanggapi segala cerita saya.
Tanpa sadar, selama perjalanan pulang Jakarta - Medan tersebut, saya menceritakan keseluruhan riwayat hidup saya padanya. Beliau ternyata sangat penyayang dan sangat memperhatikan setiap orang yang benar-benar tertarik pada Islam.
Dikatakannya bahwa dalam rumahnya, ada juga beberapa mualaf yang untuk sementara, selama belum bisa mandiri baik lahir maupun batin, tinggal di rumahnya. "Seandainya kamu ingin masuk Islam dan perlu bimbingan, datanglah pada kami. Bapak dan ibu, anggaplah seperti orangtuamu sendiri. Orangtuamu yang seiman," ujarnya lembut.
Mendengar penuturan Pak Rahmat, saya tidak bisa tidak, jadi menangis tersedu menahan haru. Betapa tidak, saya yang sejak usia muda ditinggal ayah dan ibu, tiba-tiba mendapat seorang ayah angkat, dalam sebuah pesawat, dan di perjalanan pulang yang singkat. Dan, semua itu membuat saya semakin yakin bahwa kasih dan sayang Allah SWT pada saya semakin deras mengalir. "Aku akan mengabdi pada-Nya dalam agama yang diridhai-Nya," ujar saya membatin.
Setelah sampai di Medan, tidak berapa lama kemudian saya datang mengunjungi ayah angkat saya, Pak Rahmat. Benar saja, ia dan keluarganya menyambut saya dengan keceriaannya yang tulus. Pada Pak Rahmat yang biasa saya panggil Bapak, saya utarakan niat saya yang sudah mantap untuk masuk Islam. Maka tidak berapa lama kemudian tepatnya pada tanggal 17 September 1991, saya resmi masuk Islam. Setelah menjadi muslimah, saya berganti nama menjadi Yenni Farida.
Sejak menjadi muslimah, otomatis segala aktivitas menyanyi saya hentikan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saya bekerja kembali sebagai tenaga pembukuan di sebuah perusahaan kecil. Selama setengah tahun saya tinggal dengan keluarga Pak Rahmat. la tidak pemah menyinggung perasaan saya. Sikapnya dan keluarganya, semua sangat baik pada saya. Tapi saya sadar, saya tidak bisa selamanya menyusahkan mereka. Saya mulai berpikir untuk hidup mandiri, dan tidak bergantung pada Bapak lagi.
Akhirnya saya putuskan untuk pergi merantau mencari pekerjaan di Jakarta. Niat ini semula ditentang oleh Bapak, dengan alasan Jakarta kota besar yang tidak selamanya ramah. la takut saya akan terjebak atau tanggelam oleh derasnya arus kota Jakarta.
Namun, setelah saya yakinkan padanya bahwa saya bisa menjaga diri, terlebih setelah saya katakan bahwa saya tinggal dengan om dan tante saya di Jakarta, mereka lumayan tenang melepaskan kepergian saya. Namun, ada satu pesan Bapak yang tidak akan pernah saya lupakan dan selalu saya laksanakan hingga detik ini, yaitu agar saya jangan sampai lupa untuk melaksanakan shalat lima waktu maupun shalat sunat lainnya. "Itu yang tetap menjadikanmu sebagai muslimah, Anakku," ujarnya pada saya.
Di Jakarta, saya cuma sebentar tinggal bersama tante, karena setelah mendapatkan pekerjaan, saya segera pindah ke tempat kost di jalan Latumeten, Jakarta Barat. Kepindahan saya ke tempat kost itu, ternyata punya arti tersendiri. Di sanalah saya bertemu dengan seorang pemuda bersama Muhammad Majid, asal Kebumen, Jawa Tengah yang kelak menjadi suami saya.
Sebagai perantau dan sekaligus "pendatang baru" dalam Islam, saya membutuhkan seorang teman yang bisa membimbing saya untuk menjadi seorang muslimah yang baik. Alhamdulillah, figur pembimbing tersebut ada pada diri Muhammad Majid. Kami menjadi semakin Akrab, karena saya sering berkonsultasi masalah-masalah keagamaan dengannya. Tanpa kami sadari, kami jadi saling membutuhkan. Benih cinta mulai bersemi di antara kami berdua.
Singkat cerita, tak lama kemudian, pada tanggal 29 Januari 1992, saya dan dia resmi menikah. Dan sejak saat itu, kebahagiaan saya menjadi Iengkap dengan hadirnya seorang pendamping yang shaleh, yang akan selalu ada di sisi saya. Meski kami cuma hidup dari penghasilan suami saya yang guru agama, namun hidup ini saya jalani dengan penuh keikhlasan.
Dari mualaf.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.