|
HR. Al Hakim : "Menyendiri lebih baik daripada berkawan dengan yang buruk, dan kawan bergaul yang shaleh lebih baik daripada menyendiri. Berbincang-bincang yang baik lebih baik daripada berdiam, dan berdiam adalah lebih baik daripada berbicara (ngobrol) yang buruk."
|





Kamis, 22 November 2012 pukul 16:30 WIB
Penulis : Kamaruddin
Dua dasawarsa lalu, dia tidak dilahirkan sebagai muslimah. Niat tulus menuntunnya bersalin keyakinan. Keputusan yang hampir saja merenggut nyawa dari raga sang ibu tercinta. Tahun ini, menjadi Ramadan kedua baginya.
Surianti Bela, gadis ini dibesarkan dalam pelukan keluarga berbeda keyakinan. Sang ayah, Kamaruddin, adalah seorang muslim taat. Namun, berbeda dengan istrinya, Alla. Perempuan yang berasal dari daerah yang sama dengan suaminya, yakni Sulawesi Selatan itu memiliki keyakinan agama lain.
Menurut penuturan Bela, sang ibu sebenarnya pernah sejalan dengan ayah sebagai pengikut Nabi Muhammad. Itu terjadi pada awal mereka mengikat tali pernikahan sekitar 23 tahun silam. Namun, Alla yang memang dilahirkan sebagai nonmuslim, memilih meninggalkan keyakinan suaminya setelah usia perkawinan mereka berjalan pada tahun ketiga.
Bela mengaku tidak tahu persis pangkal cerita sehingga kedua orang tuanya hidup dalam keyakinan berbeda. Maklum, hal itu menjadi semacam rahasia dalam keluarganya. Setidaknya bagi dia. Riwayat agama kedua orang tuanya hanya samar diketahuinya.
“Memang ayah dan ibu beda keyakinan. Kami kakak beradik pun pada awalnya ikut dengan ibu,” ujar anak kedua dari enam bersaudara itu.
Bela mulai merintis jalan setapak menuju muslimah saat di perantauan. Pada 2007 lalu, dia hijrah ke Malinau, Kaltim, untuk menempuh pendidikan sekolah kejuruan. Di sana dia tinggal bersama keluarga yang juga nonmuslim.
Jauh dari pantauan ibunya, Bela mulai berani mempelajari Islam meski secara diam-diam. Dia mencari sendiri semua hal mendasar tentang Islam di sekolah, perpustakaan, dan sumber lainnya. Sejak saat itu, niat menjadi umat Nabi Muhammad tumbuh subur dalam dirinya.
“Saya mempelajari agama Islam dan membandingkannya dengan yang lain. Dan Islam yang membuat saya tenang,” kata Bela. “Sebelum masuk Islam, saya sudah mulai membiasakan diri mengenakan jilbab,” sambung dia.
Usai merampungkan pendidikan tingkat atas, Bela kemudian menuju Samarinda. Universitas Mulawarman merupakan tempat menimba ilmu selanjutnya. Di kampus negeri tertua di Bumi Etam itulah keputusan menjadi mualaf diambilnya.
Namun keputusan itu tak mudah dilaksanakan. Saat awal kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Pendidikan Biologi, Unmul, 2010 lalu, Bela memberanikan diri memohon restu kedua orang tua untuk pindah haluan. Seperti diperkirakan, permohonan tersebut tak terkabulkan. Sang ibu berang. Mereka bertengkar hebat dan Bela kalah.
Tapi, lantaran niat sudah mengakar di hatinya, Bela akhirnya memutuskan menjadi umat Islam tanpa izin kedua orang tuanya. Tanggal 16 Januari 2011, di Masjid Darussalam, Samarinda, Bela kemudian resmi menjadi mualaf.
Kabar tersebut akhirnya sampai juga ke telinga keluarganya. Lagi, sang ibu dan lima saudaranya berang. Alla bahkan mengancam akan menghabisinya nyawanya sendiri jika Bela tak kembali ke keyakinan semula.
“Ibu marah besar. Dia mengancam bunuh diri. Tetapi saya tetap pada keyakinan dan terus belajar di sini,” kata Bela dengan raut sedih.
Keputusannya menuai beragam konsekuensi. Baik berupa kecaman hingga tak lagi dinafkahi. Sang ibu memutuskan tak lagi mendanai kehidupan Bela di rantau. Lantas bagaimana ayahnya? Kamaruddin tak sanggup melawan tekad istrinya. Meski mendukung secara moril, ayahnya tak mampu mengubah keputusan perempuan yang juga ibu bagi anak-anaknya.
“Ayah hanya bilang, teruslah belajar (tentang Islam),” ujar Bela.
Seiring berjalan waktu, Bela terus menempa diri sebagai umat muslim. Dimulai belajar salat hingga mengaji. Hingga akhirnya cobaan kembali menyapanya saat Ramadan 2011. Bulan puasa pertama tersebut dilaluinya dalam tekanan besar. Dia hanya sanggup menunaikan empat hari puasa. Sisanya luruh dalam cengkeraman ibunya.
“Puasa pertama hanya empat hari. Saya bisa puasa karena masih di Samarinda dan di kampung ayah, di Bone. Selebihnya dilalui di Sulawesi, kampung saya. Karena takut sama ibu, saya tidak bisa puasa lagi,” kata anggota Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (Imapa) Unmul itu. “Kalau ibu lihat saya ambil air wudhu, keluar dari kamar, habis saya dimarahin,” sambung dia.
Bela menghabiskan hampir satu tahun di kampungnya. Tinggal bersama sang ibu dan saudaranya yang berbeda keyakinan membuat dia tak bisa menunaikan ibadah salat dengan baik. Jadilah Ramadan tahun ini bak puasa pertama bagi dia.
Berdomisili di Kota Tepian dan memutuskan bekerja di toko desain interior di Samarinda, Bela akhirnya merasakan nikmatnya berpuasa. Mulai menyiapkan makan sahur sendiri, salat, mengaji, dan berbuka, membuatnya percaya bahwa Islam itu indah.
“Sebelum Ramadan sekarang, saya sudah terbiasa puasa. Kemarin-kemarin saya membayar puasa tahun sebelumnya yang bolong-bolong itu,” kata dia.
Bela juga masih terus giat belajar tentang Islam. Aktivitasnya saban malam adalah belajar mengaji. Dia memilih melancarkan lafal huruf-huruf Arab itu di Pondok Pesantren Hidayatullah, di Jalan Perjuangan, Samarinda.
“Bang Sapala (seorang teman di Imapa) yang menyuruh saya ke sana. Beruntung guru ngajinya mau mengajari saya meskipun sendiri tiap malamnya,” ujar Bela.
Sampai saat ini, Bela berkeyakinan Islam masih yang terbaik bagi dia. Tak ada bayangan akan berpindah keyakinan lagi. Bela pun bertekad ingin menunaikan puasa dan menjalankan agama dengan baik meski nantinya harus pulang kampung bersama ibunya.
hidayatullah.or.id
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Kamaruddin sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.