|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|
|
|
http://vienmuhadi.wordpress.com |





Kamis, 18 Maret 2010 pukul 22:51 WIB
Penulis : Sylvia Nurhadi
Nama lahirnya adalah William Cleland, seorang Anglo-Celtik, yaitu keturunan Inggris-Scotlandia yang dikenal sebagai pendatang Eropa yang awal kali datang dan menetap di Australia. Saat ini ia adalah seorang manager sebuah lembaga pendidikan umum di Melbourne, Australia.
William lahir dari keluarga Kristen Unitarian, yaitu aliran Kristen yang menganut kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa. Ini adalah aliran Kristen yang amat sangat jarang dijumpai, karena semenjak lahirnya hampir 2000 tahun lalu, pengikut aliran ini telah dimusuhi dan dibasmi habis-habisan. Ketika itu nenek moyang mereka dibakar hidup-hidup. Keluarga William adalah salah satu keluarga yang beruntung karena lolos dari pembantaian.
Ketika William duduk di perguruan tinggi, ia mulai menyadari bahwa ada ajaran-ajaran gereja yang membingungkan, di antaranya ajaran trinitas. Setelah dipelajari lebih jauh, ia yakin bahwa Keesaan Tuhan, ajaran penting dalam Perjanjian Lama, telah menjadi kabur ketika Kristen meresap ke dalam mainstream kepercayaan Eropa.
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al-Masih, 'Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dariNya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasulNya dan janganlah kamu mengatakan “(Tuhan itu) tiga", berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaanNya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara." (QS. An-Nisa’ [4] : 171).
William pertama kali mengenal ajaran Islam ketika ia berada di Mesir. Ia sering berdiskusi mengenai Al-Qur'an dengan tetangganya yang Muslim. Berbagai literatur yang berhubungan dengan Islam ia pelajari. Setelah yakin bahwa Al-Qur'an adalah benar-benar wahyu Tuhan Yang Tunggal, akhirnya pada tahun 1977 ia pun bersyahadat.
Berdasarkan pengakuannya, sebagaimana umumnya mualaf, faktor utama yang membuat ia tertarik pada Islam adalah ajaran dasarnya, yaitu Laa ilaha illallah, tidak ada Tuhan selain Allah. Masih menurutnya, dari sinilah mengalir prinsip-prinsip ekonomi dan politik. "Karena saya dibesarkan dalam masyarakat Barat yang mementingkan hak-hak dan kebebasan individu, saya selalu menganggap hal-hal itu sebagai unsur penting dari suatu masyarakat beradab. Dalam prinsip dasar Islam itu, saya menemukan filsafat politik paling liberal di dunia."
"Bila Anda sungguh-sungguh menerima prinsip dasar Laa ilaha illallah sebagai basis hidup Anda, itu berarti Anda bebas dari perbudakan oleh tuhan-tuhan lain. Anda terbebaskan dari posisi untuk menekan dan ditekan orang lain. Negara-negara Barat didasarkan pada ide kebebasan tetapi sifatnya materialistik dan egoistik," begitu tambahnya.
Selama satu tahun pertama keislamannya, William yang kemudian memilih Bilal sebagai nama Islamnya, mencoba bertahan untuk tidak bergaul dan bergabung dengan komunitas Islam. Ini dilakukannya karena ia merasa kecewa bahwa dalam kenyataannya terdapat perbedaan yang jauh antara Islam sebagai ajaran dan Islam yang dipraktekkan orang-orang Islam yang dikenalnya. Ia baru bergabung dengan komunitas Muslim setelah salah seorang mahasiswanya mengajaknya shalat Jum'at di masjid.
Sejak itu, ia justru dapat merasakan dan melihat kelebihan Islam dari sudut yang lain. Islam tidak mengenal kata Diskriminasi. Sebagai Muslim bule, ia merasa telah memperkaya keragaman bangsa, budaya, etnik, dan bahasa dalam Islam. Ia mengakui bahwa Islam telah membagun bangsa Australia yang multi etnik.
“Toleransi rasial merupakan suatu sumbangan besar yang diberikan Islam kepada Australia. Sejak awal lahirnya di Mekkah, Islam tidak pernah rasis. Bahkan dalam khutbah terakhirnya di kota itu, nabi Muhammad SAW menekankan kepada kaum beriman perlunya memelihara kesadaran bahwa tidak ada suatu kelompok etnik pun yang lebih baik daripada kelompok lainnya. Ini jelas tercermin pada saat haji, jutaan orang berkulit hitam, putih, dan coklat berbaur menjadi satu mengelilingi Ka’bah," jelasnya.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat [49] : 13).
Dalam menjalani kehidupan barunya sebagai muslim, Bilal terlihat tidak mau setengah-setengah. Setiap kali ia berbelanja ke supermarket, ia selalu memperhatikan daftar kandungan belanjaannya, memastikan apakah yang bakal dikonsumsinya itu benar-benar bebas dari hal-hal yang diharamkan. Ia bahkan berusaha sebisa mungkin menghindari makan di restoran bersama teman-teman non muslimnya karena khawatir tidak bisa makan.
Dalam menghadapi kesulitannya untuk melakukan wudhu, melaksanakan shalat sehari-hari di tempat kerjanya (Dzuhur dan Ashar), shalat Jum’at, dan berpuasa, Bilal berpendapat bahwa seorang Muslim tidak seharusnya hanya diam, pasrah tanpa berusaha mencari jalan keluar. Menurutnya, pada umumnya orang Barat dapat mengerti, menerima, dan memberi jalan keluar bila kita berterus-terang mengatakan bahwa kita adalah muslim dan butuh waktu serta tempat untuk menjalankan kewajiban agama kita.
“Saya percaya bahwa Islam menawarkan jalan hidup yang menyeluruh. Islam menawarkan solusi untuk mengatasi masalah besar yang dihadapi masyarakat Australia dan seluruh dunia saat ini. Sistim sosial seperti demokrasi parlementer, sosialisme dengan segala bentuknya berada dalam krisis besar."
“Dalam krisis ideologi ini, sudah tiba waktunya bagi kita untuk mengetengahkan solusi Islam. Kita hanya bisa melakukannya bila kaum Muslim bersatu dan terdidik. Jika kita bersatu, kita bisa mengembangkan Islam lewat dakwah. Saya kira masa depan Islam sangat cemerlang. Kekosongan ideologi di Barat yang saat ini diisi dengan hedonisme, selfisness, dan individualisme yang extrim pasti tak akan bertahan lama. Mereka sedang mencari penjelasan tentang hidup ini. Ini saat kritis bagi Islam dan dunia. Jika gagal dalam ujian ini, dunia akan sangat menderita," tandasnya yakin.
“(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. Ali Imran [3] : 138).
Referensi : "Santri-santri Bule" - Prof. DR. Deddy Mulyana, MA.
http://vienmuhadi.wordpress.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.