|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://kotasantri.com |





Kamis, 7 Januari 2010 pukul 22:51 WIB
Penulis : Redaksi KSC
Katolik memang menjadi agama resmi pilihan keluarga kami. Papa saya, Liem King Seng, beserta Mama Among selalu mengajak kami, anak-anaknya pergi ke gereja, karena di sanalah keluarga kami tercatat sebagai jema'at. Meskipun begitu, papa bukan termasuk orangtua yang suka memaksakan kehendak, termasuk dalam masalah agama. Menurutnya, yang penting ia sudah mengajari agama Katolik. Seandainya anak-anaknya mempunyai pilihan lain, itu urusan mereka sendiri.
Nama saya Liem Tjoei San, lahir tanggal 2 Juni 1962 di Jakarta. Kebetulan saya anak ketiga dari 12 bersaudara. Sejak lahir, tentu ajaran Katolik yang paling saya tahu dan sering saya jalani. Setiap hari, saya menerima dogma-dogma Katolik dan setiap hari pula saya melakukan kegiatan yang bernapaskan Katolik. Pendidikan dasar yang saya lalui di SD peninggalan Belanda yang dikelola sebuah yayasan Kristen.
Masa-masa kecil memang masih berjalan di atas rel (baca : wajar) dan belum begitu memahami pentingnya agama. Apalagi mempertentangkannya. Sehingga, setamat SD, papa tak begitu risau ketika saya memilih masuk SMP Islam Wijaya Kusumo Jakarta, meskipun berbeda keyakinan dengan keluarga kami.
Padahal, di samping rumah saya juga ada SMP Katolik, tapi saya tidak tertarik. Selama tiga tahun saya mempelajari Islam. Bukan waktu yang singkat untuk sekadar mengerti agama. Namun begitu, hati saya belum terbuka. Waktu itu agama Islam hanya sekadar untuk pengetahuan belaka.
Setamat SMP, saya masuk ke SMA Negeri 2 Jakarta Barat. Seperti di SMP, di sini pun saya menganggap agama bukan sesuatu yang prinsipil. Setiap kali mengisi data pribadi, termasuk memilih pelajaran agama, saya malah tidak mencantumkan agama Katolik atau Islam. Tapi justru saya tulis Budha. Akhirnya pelajaran agama yang saya ikuti dari sekolah juga pelajaran agama Budha.
Di sini pun saya belum tertarik pada ajaran Budha. Entahlah. Waktu itu saya masih menekuni agama Katolik. Seperti biasanya, tiap Minggu bersama papa dan keluarga saya ikut kebaktian di gereja.
Setamat SMA, saya melanjutkan pendidikan ke Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung. Saya mengambil jurusan Teknik Sipil. Belum genap satu tahun, saya pindah kuliah ke Universitas Tarumanegara Jakarta, sekaligus mengambil dua jurusan, Teknik Sipil dan Hukum. Di sini saya juga hanya sebentar. Kemudian saya pindah lagi ke Universitas Tujuh Belas Agustus (Untag), juga di Jakarta.
Pada saat menjadi mahasiswa itulah, pikiran saya mulai resah. Keresahan muncul akibat seringnya saya bergaul dan berdialog dengan mahasiswa yang beragama lain. Ya, waktu itu memang paling asyik bagi saya untuk membicarakan masalah agama. Keresahan yang saya alami justru berasal dari agama yang saya anut sejak kecil, berarti agama resmi keluarga.
Saya memang tidak bermaksud membuka rahasia agama lain. Apalagi menjelek-jelekkan. Karena menurut saya, menjelekkan agama adalah perbuatan yang tercela dan bisa mengakibatkan persatuan bangsa menjadi goyah. Hanya saja, secara pribadi, saya menemukan kejanggalan pada agama Katolik yang selama ini saya anut.
Setidaknya ada tiga kejanggalan yang saya temui. Pertama, soal dogma trinitas dan kisah penyaliban Yesus. Kedua, soal penghapusan dosa seseorang yang cukup dengan datang kepada pendeta seraya mengakui kesalahan. Kemudian yang bersangkutan diguyur dengan air suci oleh pendeta, maka dosanya pun terampuni.
Ketiga, adalah soal hidup sesudah mati. Dalam agama Katolik, amat ditekankan arti kematian seseorang. Bagi umat Katolik, yang mati akan langsung masuk surga. Mengapa demikian? Karena Katolik memiliki juru selamat, yaitu Yesus. Juru selamat seperti ini tidak dimiliki agama selain Kristen maupun Katolik. Memang enak dan menggiurkan. Tapi entahlah, saya malah tak mengerti.
Dalam kebingungan seperti itulah, saya mencari jawaban yang memuaskan di hati. Tapi tak kunjung bertemu. Akhimya, saya malas menjalankan ajaran Katolik. Ingin rasanya pindah agama. "Tapi agama mana ya?" kata saya membatin.
Bagaimana dengan Budha? Tampaknya saya kurang sependapat dengan agama lain. Sebab, untuk menjadi tokoh agama itu, syaratnya tidak boleh kawin.
Bagaimana dengan Islam? Ya, saya memang tertarik pada agama ini. Mula-mula saya pergi ke masjid dan mushala sekadar ketemu teman-teman. Di situlah simpati saya pada Islam timbul lagi. Dengan pengalaman pengetahuan di SMP dulu, saya sering bertanya pada teman-teman. Semakin hari, saya semakin tertarik. Bahkan, apabila melakukan suatu kegiatan, saya tak ubahnya seperti seorang muslim sejati, seperti puasa atau pun shalat Id.
Meskipun begitu, hidayah Allah belum saya terima sepenuhnya, sebab saya belum bersyahadat. Namun, setelah bertemu dengan K.H. Nur Muhammad Iskandar S.Q., pengasuh Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah Jakarta, minat dan niat saya untuk masuk Islam semakin kuat. Meskipun begitu, masih juga belum mampu mengantarkan diri saya untuk mengucapkan ikrar syahadat.
Tapi aneh, hidayah Allah muncul sekaligus setelah saya berkenalan dengan Sutirah, yang kebetulan kost di sebelah rumah. Perkenalan itu semakin mendorong hasrat saya untuk masuk Islam. Akhirnya, pada suatu hari, saya diajak berkunjung ke kampung halamannya.
Singkat cerita, akhirnya dengan perlahan dan khusyu, dengan dibimbing oleh Kiai Imron (Kepala Urusan Kesra), saya mengucapkan ikrar dua kalirnat syahadat. Nama saya diubah menjadi Ahmad Ichsan. Sejak itulah saya menjadi muslim. Sejak saat itu pula, ajaran Katolik praktis saya tinggalkan. Kisah selanjutnya saya menyunting Sutirah sebagai teman hidup.
Walaupun kini saya tinggal di kampung istri saya yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun bukan berarti tanpa hambatan. Ternyata ada juga yang tidak rela saya masuk Islam. Kebetulan ia masih satu desa dengan saya.
Berulang kali ia datang dan meminta agar saya "pulang kandang" alias kembali lagi ke Katolik. Tetapi, dengan tegas saya tolak ajakannya itu, karena dalam Islam, saya telah menemukan apa yang selama ini saya cari. Saya bukan sekedar percaya, tapi betul-betul meyakininya.
Meski hubungan keluarga di Jakarta tetap baik, namun saya telah memutuskan untuk tinggal di desa istri saya, di Sidorejo, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal. Di tempat ini, saya mencoba membuka toko keperluan pertanian dan rumah tangga. Mulai dari pupuk, obat-obatan, sabun, rokok, dan buku-buku sekolah.
Di desa ini, saya betul-betul menemukan kedamaian. Di samping hidup di tengah-tengah kaum muslimin, yang lebih membanggakan lagi, kini persis di depan ruko (rumah toko) kami, telah berdiri sebuah mushala, sehingga saya tak perlu khawatir lagi terlambat mengikuti shalat jama'ah, serta kegiatan-kegiatan keislaman Iainnya.
Diambil dari swaramuslim.net
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Redaksi KSC sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.