|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|




Rabu, 8 Juni 2011 pukul 14:00 WIB
Penulis : Izzatul Muthmainnah
Sebait rasaku selalu menggelayut
Memberatkan jiwa tak bisa menghela
Tak bisa tidak, gelisah tak bisa ditepikan
Depan cermin maya, sketsa jiwaku nampak carut marut
Hati siapa yang mampu?
Saat do'a serasa tak didengar
Saat harap malu untuk terucap
Yang ada hanya meratapkan
Lalu hati siapa yang mampu?
Rasanya sepotong asaku jua tersisa
Walau hatiku mengeras jadi dinding
Dinding yang tutupi raga
Dinding keras, tinggi bak menara gading
Mengangkat dan melempar diri, jadi tinggi
Setelah itu jatuh dan merintih
Hati memang tak mampu
Tutupi gelisah, bisik dan teriakan kerdilku padaNYA
Keras hati, berangkulan dengan kerdil jiwaku
Memohon-mohon penawar yang tak pernah laku
Aku yang berada di tepian telaga
Kini terasa panasnya
Ratapku yang tadi, kini menyelinap coba jadi, penawar hati nan gelisah
Berusaha menghibur dan hadirkan kerinduan yang terlacur
Kerinduan...
Rindu tenggelam dalam lautan ampunan
Penghapus dosa yang bertahta, jadi tak tersisa
Rindukan hanyutan irama lembut syurgawi dari ILAHI
Rindu hati ini
Rindu Ramadhan
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Izzatul Muthmainnah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.