|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
azul_brahm@yahoo.com |

Senin, 26 April 2010 pukul 20:55 WIB
Penulis : Gagak Putih
Ibu itu seperti surya
Tak pernah lelah menyinari dunia
Tanpa pamrih memberikan terangnya
Kehadirannya nyata dan terasa, setiap hari sepanjang masa
Ibu itu seluas samudera
Tak pernah kering airnya diciduk
Jernihnya menyegarkan, riaknya memantulkan ketulusan
Untuk apa mengukur dalamnya, jika luasnya tak mampu diarungi oleh sampanmu?
Ibu itu secantik bulan
Memberikan cahayanya dikala pekatnya gelap
Selalu menoleh bumi dengan wajah dan senyumnya yang sama
Hadapkan kepalamu ke langit jika kau tersesat di rimba
Ibu itu layaknya bawang merah
Kau iris dia dengan tertawa, dan saksikan wajahmu berderai air mata
Sakitnya bawang merah tangisnya pemasak
Sakitnya ibunda tangisnya anak
Ibu itu umpama mata uang
Ada sisi yang kau sukai, ada yang tidak kau sukai darinya
Paksa dirimu menerima realita
Sebab ia bernilai karena jika memiliki keduanya
Ibu itu sekokoh pohon beringin
Batangnya tinggi melangit, namun daunnya menjuntai ke tanah
Menyediakan tempat tinggal bagi sekumpulan hewan
Menyilakan keteduhan bagi yang bernaung di bawah rimbunnya
Ibu, sebagaimana kesucian hatinya selalu terjaga
Mensyukuri kehadiran anaknya yang terlahir tanpa sentuhan seorang pria
Maka ketika terpaan fitnah dan makian ditujukan pada dirinya, sang putera membelanya
Itulah kisah Nabi Isa, yang diperintah Allah mengembalikan hukum Taurat kepada kaumnya, serta berbakti sepenuh cinta kepada Maryam, ibundanya
Ibu, sebagaimana cintanya nan agung kepada puteranya yang terlahir yatim dan papa
Ia mencintainya dengan seluruh jiwa dan raga, maka demikian Imam Asy-Syafi’i mencintai ibunya
Hingga kelak, untuk sang ibu, Asy-Syafi’i menulis buku induk fiqihnya yang luar biasa
Kitab itu ia namai Al-Umm, Sang Ibunda
Ibu, sebagaimana di tanah makam itu
Delapanpuluh hari sebelum wafatnya sang Nabi, ia mengunjungi kuburnya
Senandung cinta yang tak pernah dinyanyikan, sehelai kasih yang tak pernah dikenakan
Itulah Muhammad SAW, sedang berlinangan air mata di depan kubur sang ibunda yang tak pernah dijumpainya
Ibu, demikian agama memuliakan derajatnya
Murka Tuhan murka dirinya
Ridla Nabi ridla dirinya
Maka jelas jika surga berada di bawah telapak kakinya
Dan Ibu, seseorang yang rela tersenyum di balik tangisnya demi kita, malaikat kecilnya
Ahh... Pokoknya Ibuku nomor satu di dunia!
"Wahai Abdullah bin Umar, aku telah menggendong ibuku seorang diri dari Madinah ke Makkah agar beliau bisa beribadah haji (jaraknya kurang lebih Surabaya - Semarang) dan aku pun menggendongnya untuk tawaf mengelilingi Ka'bah. Apakah aku sudah membalas jasa ibuku?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma, "Belum, setetes pun engkau belum dapat membalas kebaikan ibumu."
Oh Bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Gagak Putih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.