|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
|
http://jamilazzaini.com |
|
http://facebook.com/jamilazzaini |
|
http://twitter.com/jamilazzaini |





Rabu, 16 Mei 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Jamil Azzaini
Sejak Kamis hingga Senin, 10 s.d. 14 Mei, saya berada di Jepang untuk acara sharing session, seminar, dan training. Sharing session bersama mahasiswa S1, S2, dan S3 saya berikan di Institut Teknologi Tokyo. Sementara seminar saya sampaikan di Toyohashi, salah satu tempat asal mobil-mobil Jepang yang bersliweran di Indonesia.
Pada Minggu, 13 Mei, bersama Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, Bapak Muhammad Lutfi, saya memberikan training kepada para trainee (karyawan kontrak asal Indonesia) dan mahasiswa S2 dan S3 di Saga University. Selama satu hari penuh saya bergantian dengan pak Dubes berbagi ilmu dengan 170 lebih peserta training.
Saya memperoleh banyak pelajaran berharga selama kunjungan ke Jepang. Pertama, 5 tahun lalu saat membeli mobil Jepang keluaran terbaru, saya berkata kepada mobil itu, “Hai mobilku, sekarang kau mendatangi rumahku. Ketahuilah 5 tahun yang akan datang saya akan datang ke negerimu untuk memberikan training di negerimu.”
Alhamdulillah mimpi tersebut menjadi kenyataan. Saya pun semakin yakin bahwa mimpi memiliki kekuatan yang dahsyat dalam kehidupan kita. Jadi bermimpilah, apalagi mimpi gratis dan tidak berdosa —Apa mimpi Anda 5 tahun ke depan?
Pelajaran kedua, orang Jepang sangat menghargai waktu. Selama di Jepang saya tidak pernah merasakan kereta yang terlambat walau hanya 1 menit. Demikian pula halnya dengan orang-orangnya, di negeri Sakura itu bila berjanji mereka menentukan waktu dengan sangat jelas. Misalnya, “Kita ketemu jam 17.53 di Stasiun Meguro, ya.” Dan, mereka datang tepat waktu.
Berbeda dengan cara kita janjian disini. “Kita ketemu habis makan siang, ya.” Waktunya tidak jelas. Jadi, kalau kemudian terlambat datang hingga jam dua siang, maka akan berdalih, “Janjinya habis makan siang, kan makan siang saya jam satu lewat, hehehe…” Lebih menyedihkan lagi yang terlambat datang terkadang tidak merasa bersalah sama sekali. Padahal tabiat waktu adalah yang berlalu (hilang) tak mungkin bisa kembali. Namun sayang, banyak diantara kita kehilangan waktu seolah-olah tak kehilangan apapun.
Pelajaran ketiga, orang Jepang itu sangat tertib dan menghormati orang lain. Antri tertib, membuang sampah tertib. Tidak ada yang meninggalkan sampah di kereta atau tempat-tempat umum lainnya. Bahkan pada Jumat malam saya melihat orang Jepang yang mabuk membawa kaleng minuman pun membuangnya di tempat sampah. Budaya tertib ini telah mengkristal dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Dalam hal menghormati orang lain mereka sangat luar biasa. Saat saya hendak makan siang dan ternyata menu yang kami pesan belum siap karena memang menu lengkap baru tersaji setelah pukul 05 sore, petugasnya meminta maafnya berulang-ulang. Selain itu, ucapan terima kasih pun seolah-olah otomatis keluar dari mulut para petugas dan karyawan yang melayani kita di Jepang
Terima kasih Dompet Dhuafa Republika, Garuda Indonesia, BNI, Bank Indonesia dan KBRI Jepang yang telah memfasilitasi saya untuk hadir ke negeri asal Doraemon ini. Domo arigatou gozaimasu…
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Jamil Azzaini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.