|
QS. An-Nahl : 97 : "Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
|
|
|
http://www.abisabila.com |
|
http://facebook.com/abi.sabila |
|
http://twitter.com/AbiSabila |





Selasa, 29 Desember 2009 pukul 15:30 WIB
Penulis : Abi Sabila
Aku baru saja pulang dari shalat Isya di mushala ketika kulihat putri tunggalku sudah menunggu di depan pintu dengan senyum mengembang di wajahnya. Dengan semangat, dia katakan bahwa Om A tadi datang ke rumah tapi tidak lama, hanya mengantar bingkisan dan langsung pamit pulang karena buru-buru mau ke gereja untuk merayakan malam Natal di sana.
Om A adalah teman kantorku, dia bersebelahan meja denganku. Dia seorang keturunan China yang beralih keyakinan dari Budha menjadi seorang Nasrani. Sebagai teman kerja, A adalah teman yang ramah, baik hati, dan suka membantu. Dia juga memiliki toleransi yang tinggi untuk urusan agama.
“Bi, biskuit dari Om A boleh dimakan nda?“ tanya putriku sambil membawa sekaleng besar biskuit.
“Boleh.“
“Tapi kan Om A itu orang Nasrani,“ anakku masih ragu untuk membuka kaleng biskuit di depannya.
“Nda apa-apa, makanlah,“ jawabku mantap.
Secara singkat kujelaskan pada putriku bahwa pemberian dari temanku itu boleh dimakan - meski dia seorang Nasrani sekalipun -, sebab kulihat biskuit yang ia berikan adalah biskuit yang biasa dijual di toko dan sering ada di saat-saat Idul Fitri. Tak ada unsur haram di dalamnya, tak ada kaitan dengan ritual keyakinannya, barangkali dia hanya memanfaatkan momen Natalnya untuk berbagi dengan orang lain, termasuk aku sebagai teman kerjanya.
“Apa Abi akan menelpon Om A untuk mengucapkan selamat Natal?” tanya putriku sambil membuka kaleng biskuit yang sudah sejak tadi dipangkunya.
“Tidak! Kalaupun nanti abi telpon, itu untuk mengucapkan terima kasih karena sudah diberi bingkisan, bukan untuk mengucapkan selamat Natal,“ jawabku pasti.
***
Bukan hanya putriku yang baru berusia sembilan tahun, siang sebelumnya beberapa teman kerjaku yang sudah ‘dewasa’ pun menanyakan hal yang serupa, apakah aku akan mengucapkan selamat Natal kepada beberapa teman kerja yang akan merayakannya. Dengan tegas kujawab, tidak! Bagiku, pertemanan, persahabatan, ataupun hubungan kerja menempati ruang yang berbeda dengan keyakinan.
Tidak pada si A, teman kerjaku. Juga tidak pada si B, atasan di perusahan tempatku bekerja. Tidak pada si C, kenalanku di dunia maya. Atau pada si D yang selalu memberiku ucapan selamat saat merayakan Idul Fitri ataupun Idul Adha. Aku memiliki pandangan tersendiri terhadap makna toleransi. Tidak menghalangi, memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melakukan apa yang menjadi keyakinannya adalah satu bentuk toleransi yang ‘aman’ ketimbang harus melanggar batas keyakinan untuk sebuah alasan pertemanan.
Begitulah, tahun ini seperti tahun-tahun sebelumnya dan juga untuk tahun-tahun berikutnya, tak ada ucapan selamat natal bagi teman, atasan, ataupun juga kenalan. Ini bukan soal tidak toleran, tapi ini berkaitan dengan keyakinan.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.