|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
wahyudaeng@yahoo.com |



Oleh wahyuddin
Mungkin kita mengenal Rossi nama lain dari Valentino Rossi, tapi Rossi yang ditengahkan disini bukan Rossi si penunggang kuda besi. Rossi hanya sekedar nama khayalan penulis saja, sebagai wakil potret masyarakat yang hidup dalam kesederhanaan.
Ada yang menarik dari Rossi, bekerja sebagai penjaga tetap kantor milik pemerintah di waktu malam dan tenaga serabutan ketika di siang hari. Hidup dari profesi tersebut, kehidupan Rossi sebenarnya masih jauh dari cukup. Namun ditengah ketidakcukupan tersebut, Rossi adalah perokok berat dan kurang lebih sepertiga dari pendapatannya dihabiskan untuk sekedar dibakar.
Rossi tidaklah sendiri, masih banyak masyarakat lain yang juga hidup dalam kesederhanaan tapi terjebak dengan perilaku merokok. Data dari Lembaga Demografi UI mungkin menarik dicermati;
- 7 dari 10 rumah tangga (dari 35,1 juta rumah tangga) mempunyai pengeluaran untuk rokok.
- Rumah tangga miskin rata-rata memiliki pengeluaran untuk rokok lebih besar dari rumah tangga kaya.
- Pengeluaran rumah tangga miskin untuk rokok adalah ; 17 kali dari pengeluaran daging, 5 kali dari pengeluaran telur dan susu, 2 kali dari pengeluaran ikan, 9 kali dari pengeluaran pendidikan, 15 kali dari pengeluaran kesehatan.
Pertama, Tingginya pengeluaran rokok menyebabkan pengeluaran untuk kebutuhan sumber protein (daging, ikan, telur dan susu) menjadi tertekan. Hal ini secara khusus menyebabkan tidak terpenuhinya asupan protein bagi keluarga miskin, khususnya anak-anak. Padahal disisi lain, faktor gizi penting untuk menumbuhkan kecerdasan dan kesehatan fisik anak maupun orang dewasa.
Kedua, tingginya pengeluaran rokok menyebabkan rendahnya pengeluaran untuk pendidikan seperti tidak terpenuhinya hasrat membaca anak, karena kurangnya buku bacaan. Maupun pengembangan anak diluar sekolah, yang tidak tersaji dengan cuma-cuma tapi menuntut pengeluaran lebih.
Ketiga, tingginya pengeluaran rokok menyebabkan habisnya dana kesehatan. Memang sekarang ini, telah ada program berobat cuma-cuma oleh pemerintah namun pada kondisi empiris tidak semua masyarakat miskin menerima layanan ini lebih-lebih dengan bertambahnya masyarakat yang “merasa miskin” dan bisa jadi memang miskin. Hal lain bahwa pelayanan berobat gratis masih perlu peningkatan agar dirasakan nyaman, berkualitas, dan terjangkau dari segi jarak tempuh.
Ketika kebutuhan akan gizi, pendidikan, dan kesehatan tidak terpenuhi cukup, maka bagaimana anak dari keluarga sederhana ini bisa ikut bertarung dalam persaingan hidup yang kedepannya semakin membutuhkan manusia sehat? Bagaimana pula nasib orang tua di masa renta yang secara kultur, etika dan agama, orang tua dalam pemeliharaan anak? Terakhir, mereka adalah calon pewaris bangsa lalu bagaimana mereka mengisinya padahal persaingan kualitas SDM antar bangsa dan negara begitu mengemuka?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, tentu saja akan menyampaikan kita pada premis bahwa merokok bagi kalangan sederhana tidak hanya menjadi virus kesehatan tapi juga “virus sosial”. Olehnya itu, perlu kesepakatan sosial untuk menyelesaikannya. Pertama, dibutuhkan persamaan persepsi bahwa rokok dengan segala akibat sosialnya harus menjadi musuh bersama. Kedua, mengingat orang yang terlibat di industri melibatkan banyak orang, maka pengalihan modal (sumber daya) perlu dilakukan pada industri yang “Halalan dan Tayyibah” halal dari segi agama dan tayyibah karena berdaya guna untuk membangun peradaban. Melepaskan ketergantungan dari industri rokok harus dihentikan sesegera mungkin karena tidak memiliki subtansi pada peradaban hidup yang lebih baik. Rokok adalah produk kapitalisme yang selalu dicirikan bebas nilai (tidak memiliki kepedulian sosial) dan dilain sisi menjadikan materi fokus utama. Ketiga, kalangan sederhana perlu disadarkan tidak hanya sebagai objek tapi lebih sebagai subyek untuk memerangi rokok. kalangan sederhana harus diperkenalkan dengan perencanaan keuangan (financial planning), ini juga menjadi kritik bahwa ilmu para financial planner harus lebih down to earth (membumi) sehingga menyentuh kalangan sederhana dan bukan orang berpunya saja. kalangan sederhana harus diperkenalkan pada skala prioritas penggunaan keuangan demi masa depan mereka. Adapun masalah pembiayaan, sosialisasi financial planning bagi kalangan sederhana harus dianggap sebagai bentuk tanggung jawab sosial diri/perusahaan jika bergabung pada suatu korporasi.
Merubah pola pikir dan perbuatan yang telah mengakar memang pekerjaan berat, tapi niat yang bulat bisa menempuh apapun. Empati pada kalangan sederhana bisa jadi energi besar, jika kita masih memiliki hasrat untuk membangun kebahagiaan dalam kebersamaan. Kebahagiaan yang mensyaratkan hadirnya senyuman di bibir Rossi dan orang-orang yang senasib dengannya. Jika itu tiada lagi mewujud, mungkin kita harus mencari sesuatu yang hilang dari ketotalan kita sebagai manusia. Wallahu a’lam…
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---