|
QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
|
|
|
http://vitraziz@blogspot.com |
|
Danny Savitra |
|
|
vitra's |
|
danny.savitra |
|
http://facebook.com/danny.roza.9 |
|
http://twitter.com/vitras19 |





Oleh Danny Savitra
Kategori: Aqidah, Ibadah Tanggal: Mar 16, 2011
Tawakal kepada Allah sudah pasti merupakan kekuatan yang mendorong seorang hamba dapat hidup bahagia. Ketika ia beriman, tawakalnya kepada Allah akan mewujudkan semua permintaan dan keinginannya. Maka, ia tidak merasa ada keraguan dalam berusaha mendapatkan keinginan dan kebutuhan tersebut. Hal ini terjadi karena jiwa ketika ingin beramal membutuhkan kekuatan pendorong dari dalam dirinya. Bukankah kita lihat, seseorang yang sedang menghadapi kejadian atau keadaan yang tidak biasa terjadi akan tampak perasaan, pikiran dan aneka ragam kekuatan mendorongnya untuk menghadapi kejadian tersebut, sehingga kelelahannya lebih besar daripada kelelahan menghadapi keadaan dan kejadian biasa.
Apabila seorang hamba bertawakal kepada Allah dengan benar-benar ikhlas dan terus mengingat keagungan Allah, maka perasan dan pikirannya serta seluruh kekuatannya semakin kuat mendorongnya melaksanakan semua amalan apa saja meskipun memiliki resiko besar. firman Allah swt
“Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah: 51)
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. ” (QS. Ath-Thalaq: 3).
Allah pasti tidak akan menyelisihi janjinya.
Untuk mewujudkan tawakal yang benar dan ikhlas diperlukan syarat-syarat. Syarat-syarat ini wajib dipenuhi untuk mewujudkan semua yang telah Allah janjikan. Para ulama menyampaikan empat syarat terwujudnya sikap tawakal yang benar, yaitu:
1. Membatasi tawakal hanya kepada Allah saja. Untuk itu Allah berfirman,
“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Huud: 123).
Dan firmanNya,
“(Dia-lah) Rabb masyrik dan maghrib, tiada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al-Muzzammil: 9).
Pembatasan tawakal hanya kepada Allah dalam ayat ini meniadakan semua tawakal kepada selain Allah dalam semua urusan dunia dan akhirat. Siapa yang ber-tawakal kepada selain Allah dalam satu saja urusan dunia atau akhirat bukanlah termasuk orang yang ber-tawakal dengan benar kepada Allah. Bahkan bisa jadi terjerumus kepada kesyirikan besar atau kecil sesuai dengan keadaan perbuatannya tersebut.
2. Berkeyakinan yang kuat bahwa Allah Mahamampu mewujudkan semua permintaan dan kebutuhan hamba-hamba-Nya dan semua yang didapatkan hamba hanyalah dengan pengaturan dan kehendak Allah. Untuk itu Allah berfirman,
“Mengapa kami tidak bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami.Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu berserah diri.” (QS. Ibrahim: 12).
Allah juga berfirman melalui pernyataan Nabi Syu’aib,
“Syu’aib berkata, ’Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Rabb-ku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintahnya) Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.’” (QS. Huud: 88).
3. Yakin bahwa Allah akan merealisasikan apa yang di-tawakal-kan seorang hamba apabila ia mengikhlaskan niatnya dan menghadap kepada Allah dengan hatinya. Allah berfirman,
“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.“ (QS. Ath-Thalaq: 3).
4. Tidak putus asa dan patah hati dalam semua usaha yang dilakukan hamba dalam memenuhi kebutuhannya dengan tetap menyerahkan semua urusannya kepada Allah. Dalam hal ini Allah berfirman,
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah, ‘Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki ‘Arsy yang agung.’” (QS. At-taubah: 129).
Demikianlah syarat-syarat yang harus dipenuhi agar kita dapat bertawakal kepada Allah dengan benar dan mendapatkan janji-janji Allah.
Mari berusaha mendapatkannya!
Penulis Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---