Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://vvv.kotasantri.com
Bergabung
17 April 2009 pukul 18:38 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Eksport Import
nightmare man..gerrr..Uhuy
http://vitraziz@blogspot.com
Danny Savitra
vitra's
danny.savitra
http://facebook.com/danny.roza.9
http://twitter.com/vitras19
Catatan Danny Lainnya
Keladi Tikus Teruji Antileukemia
14 Februari 2011 pukul 22:03 WIB
Mudahnya Islam
14 Februari 2011 pukul 21:59 WIB
Haruskah kita selektif dalam Berinfak?????
14 Februari 2011 pukul 21:54 WIB
Ahmadiyah Kelompok Pengekor Nabi Palsu
11 Februari 2011 pukul 11:01 WIB
Siapakah Mirza Ghulam Ahmad ? (2)
11 Februari 2011 pukul 10:55 WIB
Catatan
Senin, 14 Februari 2011 pukul 21:50 WIB
MAHAR

Oleh Danny Savitra

Mahar adalah sesuatu yang diberikan oleh suami kepada istrinya dengan sebab pernikahan. Mahar itu bisa berbentuk harta benda atau jasa.

Allâh Ta'ala berfirman:

(Qs. an-Nisâ’/4:4)

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi)
sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
(Qs. an-Nisâ’/4:4)


Mahar termasuk syarat sah pernikahan. Adapun dalil mahar berupa harta benda atau jasa, disebutkan hadits berikut ini:

hadits
hadits

Dari Sahl bin Sa’d radhiyallâhu'anhu, dia berkata:
“Seorang wanita mendatangi Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam
lalu menyatakan bahwa dia menyerahkan dirinya
untuk Allâh Ta'ala dan Rasul-Nya.
Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam menjawab:
“Aku (sekarang ini) tidak membutuhkan istri”.
Maka seorang laki-laki berkata: “Nikahkan aku dengannya”.
Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
”Berikan sebuah baju kepadanya!”
Dia menjawab: “Aku tidak punya”.
Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Berikan sesuatu kepadanya, walaupun cincin dari besi!”
Dia beralasan kepada beliau bahwa dia tidak punya.
Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Apa yang engkau hapal dari al-Qur’an?”.
Laki-laki itu menjawab: “Surat ini, surat ini’.
Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam bersabda:
“Kami telah menikahkanmu dengan wanita itu
dengan al-Qur’ân yang ada padamu”.
(HR. Bukhâri, no. 5029)


Di dalam hadits ini Nabi Shallallâhu 'Alaihi Wasallam memerintahkan laki-laki tersebut agar memberikan sesuatu barang kepada wanita yang akan dinikahi itu, baik berupa baju, cincin, atau apa saja. Dengan demikian, mahar berupa mush-haf al-Qur’ân juga dibolehkan. Barangsiapa melarangnya, maka dia harus mendatangkan dalil.

Di dalam satu riwayat Muslim disebutkan:

hadits

“Pergilah, aku telah menikahkanmu dengan wanita itu, ajarilah dia sebagian dari al-Qur’ân”.
(HR. Muslim, no. 1425)


Hadits ini juga menunjukkan bolehnya mahar yang berupa jasa, yaitu mengajarkan al-Qur’ân.

Di dalam kitab suci al-Qur’ân, Allâh Ta'ala mengisahkan mahar Nabi Musa 'alaihissalam adalah menggembalakan kambing selama 8 atau 10 tahun.

Kesimpulannya, mush-haf al-Qur’ân boleh digunakan sebagai mahar.

Wallâhu a’lam.

Bagikan

--- 0 Komentar ---

Danny Savitra menyukai catatan ini.
Riesna | I'm Real Jobless
KotaSantri.com adalah situs keren yang memungkinkan kamu mengetahui dan mempelajari ilmu agama Islam lebih jauh, mudah, dan mengena. Di sini juga kamu bisa saling bersilaturahmi dengan para santri, melalui email dan chatting room yang tak kalah keren!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0659 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels