|
QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
|
|
|
http://vitraziz@blogspot.com |
|
Danny Savitra |
|
|
vitra's |
|
danny.savitra |
|
http://facebook.com/danny.roza.9 |
|
http://twitter.com/vitras19 |





Oleh Danny Savitra
8 Januari 2011
“…Sesungguhnya ketakwaan adalah asas kebaikan seorang penuntut ilmu dan tanda bahwa dia bisa mengambil faidah dari ilmu yang dipelajarinya. Karena termasuk sebab terbesar untuk merealisasikan pencarian ilmu syar’i yang shahih yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah adalah takwa kepada Allah.
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ
“Bertakwalah kamu kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan ilmu kepadamu.” (al-Baqarah: 282)
Sebagian orang yang menisbatkan diri kepada ilmu — dan kita merasa khawatir termasuk ke dalamnya — menyia-nyiakan waktu dalam hal yang tidak berfaidah, seperti qiila wa qoola (isu, desas-desus) dan perkataan kosong yang bisa menjauhkan dari Allah dan mengeraskan hati. Engkau bisa mendapati banyak manusia yang hal ini menjadi kesibukan utamanya. Dan dia tidak melakukan shalat satu atau tiga rakaat di akhir malam, karena ada yang memalingkannya dari ketaatan kepada Allah.
Dia tidak menyadari bahwa dia ada di perantauan, berada di penyeberangan, hanya di tempat berlalu saja. Maka shalatlah seperti shalatnya orang yang akan berpisah (dengan dunia). Jadilah di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang berjalan. Jika kamu di waktu sore, jangan tunggu sampai esok. Jika kamu di waktu pagi, jangan tunggu sampai sore. Sibukkanlah waktumu dengan ketakwaan kepada Allah, penuhi waktumu dengan ketakwaan kepada Allah, seperti shalat, puasa, ilmu, dan membaca al-Quran. Sibukkanlah dirimu dengan cela yang ada padamu jangan menyibukkan diri dengan cela orang lain.
Kita melihat sebagian penuntut ilmu yang lemah ketakwaannya, keinginannya hanyalah membicarakan manusia. Mereka memposisikan diri mereka — dengan kedangkalan ilmu mereka — sebagai imam jarh wa ta’dil. Mereka memenuhi sampah-sampah internet dari sisi ini. Padahal mereka ini tidaklah menolong Islam, tidak menghancurkan orang-orang kafir, dan tidak memberi manfaat kepada umat.
Salah seorang di antara mereka berbicara kepadamu seolah-olah dirinya adalah Yahya bin Ma’in, atau Ahmad bin Hanbal, padahal dia mungkin tidak bisa berwudhu dengan benar. Inilah yang kita alami belakangan ini. Dan hal ini sama sekali tidak sesuai dengan (hadits Nabi -shollallohu ‘alaihi wa sallam-)
اتَّقِ الله حيثما كنتَ ، وأتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحسَنَةَ تَمْحُهَا. وخالِقِ الناسَ بخلُق حسن
“Bertakwalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang indah.”
Berikanlah busur itu kepada ahlinya. Tawadhu’ lah karena Allah, karena barangsiapa tawadhu karena Allah, niscaya Allah akan mengangkatnya. Serahkan urusan-urusan besar kepada para ulama Robbaniyin yang spesialis dan terdepan, yang memiliki peran besar dalam melayani Sunnah, akidah dan dalam melayani Islam.
Hendaknya kaum muslimin secara umum dan para penuntut ilmu secara khusus, menjadikan takwa kepada Allah sebagai dengungan mereka siang dan malam, secara rahasia maupun terang-terangan. Hal ini jika mereka ingin sampai kepada keselamatan dan keridhaan Allah, jika mereka menginginkan ilmu syar’i yang shahih, yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah.
“Bertakwalah kamu bagaimanapun keadaanmu…”
Jika kamu ingin berbicara, maka ingatlah hadits ini.
Jika kamu ingin membentangkan tanganmu kepada sesuatu, ingatlah hadits ini.
Jika kamu ingin melangkahkan kakimu menuju sesuatu tempat, ingatlah hadits ini.
Jika kamu ingin menjarh (mencela) atau menta’dil (memuji) maka ingatlah hadits ini.
Jika kamu ingin menjadi penuntut ilmu yang sebenarnya –dan jika kamu tidak menginginkannya berarti kamu bukan penuntut ilmu yang sebenarnya–, maka ingatlah hadits ini.
Jadikan hadits ini sebagai pemandumu dalam semua tindak-tandukmu, “Bertakwalah kamu bagaimanapun keadaanmu…”
Hendaknya titik-tolakmu dalam melakukan atau meninggalkan sesuatu adalah hadits ini.
اتَّقِ الله حيثما كنتَ ، وأتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحسَنَةَ تَمْحُهَا. وخالِقِ الناسَ بخلُق حسن
“Bertakwalah kepada Allah bagaimanapun keadaanmu. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya akan menghapusnya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang indah.”
Untuk menggerakkan lisanmu, (maka) bertakwalah kepada Allah bagaimanaipun keadaanmu…
Untuk mengerakkan pendengaran, penglihatan dan anggota badanmu, (maka) bertakwalah kepada Allah bagaimanaipun keadaanmu…
Inilah jalan yang lurus untuk menggapai keselamatan. Tanpanya, yang ada hanyalah penyesalan.
Dan pada kesempatan ini, aku ingin mendorong para penuntut ilmu untuk membaca sebuah kitab agung yang belakangan ditulis oleh saudara kami, Syaikh Muhammad bin Abdillah al-Imam yang berjudul, “al-Ibanah ‘an Kaifiyati at-Ta’amul ma’al Khilaf Baina Ahlis Sunnah wal Jama’ah” (artinya: Penjelasan bagaimana menyikapi perselisihan sesama Ahlussunnah). Karena ini adalah kitab yang sangat berharga. Aku tidak melihat adanya kitab yang semisalnya yang ditulis di masa ini. Aku katakan di masa ini. Kitab berharga yang jempolan, dan sangat dianjurkan. Penulisnya telah menulisnya dengan teliti, dia membawakan nukilan dari Syaikhul Islam saja sebanyak seratus pernyataan tentang hukum-hukum bergaul dengan orang yang menyelisihi dari kalangan Ahlussunnah. Dan membawakan lebih dari empat ratus nukilan dari para ulama lain baik yang terdahulu maupun belakangan.
Petikan dari ceramah: Syarah (Penjelasan) hadits, “Bertakwalah kamu bagaimanapun keadaanmu.” tertanggal 18 Muharrom 1432 oleh Syaikh Shalih bin Sa’ad as-Suhaimi –hafizhohulloh–
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---