|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|

Oleh senja
Headline pagi Koran Kompas, Kamis (23/9) cukup menyeramkan. "Negara Tidak Boleh Kalah". Koran nasional berlokasi di Jakarta ini memuat habis-habisan penyerangan sekelompok orang di Markas Polsek Sektor Hamparan Perak, Deli Serdang. Penyerangan yang telah menewaskan tiga orang polisi itu dianggap Kompas 'telah menantang Negara". Karenanya, haram hukumnya, negara tunduk pada "teroris".
Semua nara sumber pendukung utama "desakan" Kompas berasal dari Polisi dan militer. Kalaupun ada orang luar, bukan dari kalanga yang benar-benar mengerti "perasaan" umat Islam. Malah, datang dari Sidney Jones, Direktur proyek International Crisis Group (ICG) untuk Asia Tenggara.
Wanita pirang yang pernah diusir oleh Badan Intelijen Negara (BIN), karena komentar-komentarnya atas konflik di Aceh dan Papua ini pernah berlagak sopan mengunjungin gerakan-gerakan Islam di seluruh wilayah Indonesia dengan alasan "riset". Belakangan, semua hasil saran dari risetnya itu justru menjadi "panduan" aparat intelijen dan polisi menangkapi aktivis masjid.Ingat headline Kompas, ingat kasus bentrok AKKBP dan FPI di Jakarta, 1 Juni 2008, di mana hanya karena satu hidung aktivis JIL, Guntur Romli berdarah, media massa "menekan" SBY hingga mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu membuat pernyataan yang kini dikutip kembali oleh Kompas, "Negara tak Boleh Kalah Melawan Kekerasan". Beberapa jam setelah pernyataan SBY ini, tak kurang 2000 polisi dikerahkan menyerbu rumah Habib Rizieq dan menangkapi anggota FPI. Habib, yang dalam aksi dengan AKKBB tak ikut dilapangan, bersama anak buahnya akhirnya dipenjara. Sementara pelaku AKKBB, Guntur Romli dan intel yang memprovokasi massa dengan mengacung2kan pistol untuk memprovokasi FPI aman-sariman, tak tersentuh hukum.
Karena "Negara Tak Boleh Kalah", puluhan orang, termasuk Munarman dan Habib Rizieq, dituntut 2 tahun penjara. Sedang aktivis AKKBB, termasuk Guntur, malah bisa seminar di kafe-kafe dan hotel mewah. Semua, karena "Negara Tak Boleh Kalah"
Perasaan saya, setelah headline Kompas ini, akan ada lagi korban yang ditembak di depan istri atau di depan anaknya. Entah ustad, guru ngaji, penjaga warnet atau penjual keliling. Tak perlulah mencari tahu latar belakangnua, mengapa tiba-tiba ada orang bisa berani menyerang markas Polisi? Mungkin, setelah ini, yang ada cuma satu, bahasa korps, "Polisi Tak Boleh Kalah"
Dan seperti biasanya, semua selalu menyisahkan pertanyaan yang tak pernah terjawab hingga kiamat. Apa benar mereka "teroris", bagaimana jika keliru? benarkah mereka murni atau ditunggangi? Karena semua sudah mati, silahkan pertanyaanya diajukan pada pihak polisi. [dul mi'un]
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---