|
Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
|



Oleh Mundzakir
Sejenak berpikir menelaah apa yang telah Allah berikan kepada diriku berupa peristiwa kesenangan atau ujian hidup.Wah tak mengira Allah memberikan semua yang dulu telah ku pinta dengan doa-doaku. Allah Yang Maha Penyayang selalu memberi bonus kepadaku…hemm Bonus ya…terkadang diriku memohon hal yang sederhana ternyata Allah telah memberikan suatu yang lebih dari apa yang aku minta. Oh Allah sebaik-baik tempat meminta, Ingin rasanya diri ini terus mengemis melalui sujud panjang di tengah malam.
Pemberian-Mu tak berujung hingga Engkau menc abut nyawa kami. Yang sakit pun selalu Engkau datangkan obat. Sungguh besar pemberian-Mu.
Engkau telah mengajarkan kepada kami rasa optimisme dengan Engkau cantumkan Alhamdulillahirabbil ‘alamin sebagai ayat pertama pembuka Al-Fatihah…Sebuah kalimat yang biasa diucapkan manusia ketika setelah menyelesaikan pekerjaannya, artinya manusia seringkali mengucapkan nama itu sebgai rasa syukur atas keberhasilan yang telah ia raih dengan ijin-Mu. Tapi Engkau cantumkan ayat ini sebagai pembuka agar manusia senantiasa dalam kondisi optimis akan meraih apa yang ia usahakan. Dan Engkau sebut AsmaMu di ayat berikutnya “Ar Rahman Ar Rahim” hal ini memantapkan optimisme kami sehingga hanya kepada Engkaulah kami semua bergantung diri tidak ada yang bisa mengasihi dan menyayangi lebih dari kasih dan saying-Mu.
Kadang tubuh ini lupa meniatkan sesuatu pekerjaan dan tak pernah mempterhitungkan apa yang akan terjadi jika kami mengambil keputusan. Rasanya memang menjadi rutinitas. Namun kemudian aku teringat akan firmanMu “Maaliki yaumiddin” di tengah ketika aku sholat…ayat tersebut telah mengingatkan aku untuk memperbaiki orientasi atas apa yang akan kerjakan, memperhitungkan resiko, menilai apa pula akibat dari pekerjaan yang akan aku lakukan. Semua yang telah aku lakukan pasti akan Engkau mintai pertanggungjawaban. Sehingga mempertimbangkan sebuah pekerjaan adalah penting.
Kadang juga lelah tubuh dan pikiran yang terus menghantui diri ini seolah tak kunjung ada solusi yang bisa ku temui untuk menyelesaikan permasalahan hidup ini. Aku terus berusaha dan berusaha terkadang nama-Mu terlupakan dalam usahaku. Dan ternyata Engkau adalah ujung dari usaha aku untuk menemukan solusi. Memaksa diri terus berfikir dan memeras tenaga merupakan kesia-siaan jika Engkau tak berkehendak terhadap diriku untuk keluar dari masalah itu. “iyyaakana’budu waiyyaakanasta’in”hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan Hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan. Aku akan berusaha sekuat tenaga akupun berharap sukses melakukan pekerjaanku, Namun kadang Engkau memberika kepadaku sebuah kegagalan atas apa yang aku usahakan. Yah mungkin itulah garis takdirku.
Sebuah harapan kami yaitu “Ihdinash shirathalmustaqiim”Tunjukilah kepada kami jalan yang lurus…jalan orang yang selalu istiqomah di jalan-Mu, Jalan orang-orang yang berserah diri kepada-Mu aku berharap jika Engkau kumpulkan kami dengan orang-orang sholeh dan beriman maka celah kemaksiatan akan menyempit. Peningkatan iman dan aktualisasinya akan terasa ringan…Ya Allah satukan kami bersama jama’ah karena ia adalah sarana pejagaan…Engkau tahu jika kami sendirian maka kami ibarat domba ditengah padang pasir sedang sekelilingnya adalah srigala, domba itu mudah ditikam. Dan kami tidak mau seperti domba itu…ikatkanlah hati kami dalam tali ikatan ukhuwah karena-Mu
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?” (Al Ankabut:2)
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---