|
Umar bin Abdul Aziz : "Jika engkau bisa, jadilah seorang ulama. Jika engkau tidak mampu, maka jadilah penuntut ilmu. Bila engkau tidak bisa menjadi seorang penuntut ilmu, maka cintailah mereka. Dan jika engkau tidak mencintai mereka, janganlah engkau benci mereka."
|
|
|
hendi_ruhe@yahoo.com |
|
roehendie@gmail.com |
|
hendi_ruhe@yahoo.com |

Oleh ruhendi
Beberapa hari lalu setelah beres deadline kerja sekira jam 1.15 dinihari sudah jadi kebiasaan untuk mengisi perut yang terasa lapar. Mengubah jadwal makan malam menjadi makan dinihari. Berburu nasi goreng langganan yang tidak jauh dari kantor.
Namun, dinihari itu tempat makan nasi goreng langganan sudah mau tutup. Penjualnya sudah beres-beres peralatan dagangannya untuk pulang. Menyesal juga datang terlambat dan tidak bisa makan di situ. Akhirnya kuputuskan mencari di tempat lain.
Tidak jauh dari tukang nasi goreng tadi ada warung kecil yang menjual rokok dan mie rebus. Dari pada jauh dan lama kalau mencari di tempat lain, kuputuskan makan mie rebus dengan telor setengah matang. Pikir saya, lumayan tuk mengganjal perut yang sudah keroncongan minta diisi.
Baru beberapa suap makan mie, di seberang jalan terlihat bapak-bapak sekira umur 80 tahunan berpakaian compang-camping berdiri melihat ke arah warung tempat aku makan mie. Mungkin dia lapar atau mungkin kedinginan setelah malam itu sebelumnya memang hujan yang lumayan lebat.
“Kasihan bapak-bapak itu, dia dibuang keluarganya,” kata si pemilik warung. “Masa sih pak?,” tanyaku penasaran. “Iya, bapak itu sudah sekitar satu minggu di sini. Bapak itu diturunkan dari mobil Carry berplat nomor luar kota,” sambung pemilik warung.
“Kok tega banget ya keluarganya, menelantarkan begitu saja bapak yang telah mengurus mereka ketika kecil,” ujarku.
“Kalau siang ada warung makan yang suka ngasih nasi bungkus. Bapak itu ingatannya masih normal, diajak ngobrolpun dia bisa menjawab,” kata pemilik warung lagi. “Apa karena takut miskin atau keluarganya tidak mampu mengurusnya sehingga bapak itu diturunkan paksa di jalan,” tanyaku lagi.
***
Jadi teringat bapakku di rumah, Alhamdulillah beliau masih sehat, bugar dan tidak seperti bapak di seberang jalan tadi yang kurang beruntung nasibnya. Bapak ku tinggal bersama keluarga kakak yang selalu memperhatikan segala keperluannya.
Senang sekali mempunyai kakak-kakak yang baik. Mereka selalu memenuhi kebutuhan bapak. Nyediain makan, menyiapkan baju yang sudah disertika rapih, memberinya uang dll.
Jika suatu saat nanti bapakku pengen tinggal bersama keluargaku, aku harus siap mengurus beliau biar termasuk orang anak yang berbakti pada orang tua (bapak) setelah ibu tiada.
Sekarang ketika istriku lagi hamil, harapanku kelak anakku jadi anak yang shaleh dan bisa berbakti pada kami orangtuanya. “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa,” doaku setelah shalat.
Selagi masih mempunyai orang tua, kita harus berbakti dan mengurus mereka. Ingat pengorbanannya untuk kita. Bila kita menjadi sudah mempunyai anak, bimbinglah anak kita dengan baik biar kelak anak-anak kita lah yang merawat ketika kita tua nanti. Amin…
| Bagikan | Tweet |
|
--- 0 Komentar ---