QS. At-Taubah 9 : 129 : "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepadaNya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arsy yang agung."
Alamat Akun
http://puji.kotasantri.com
Bergabung
11 Juni 2010 pukul 17:33 WIB
Domisili
Bandung - Jawa Barat
Pekerjaan
-
Tulisan Puji Lainnya
Memilih antara Diatur Allah atau Dibelengu Hawa Nafsu
15 September 2010 pukul 18:00 WIB
Kesalahan-kesalahan di Seputar Lailatul Qadar
28 Agustus 2010 pukul 20:50 WIB
Tarawih dengan 11 Rakaat atau 23 Rakaat?
11 Agustus 2010 pukul 19:55 WIB
Menikah itu Separuh Agama
7 Juli 2010 pukul 17:40 WIB
Banyak Amal Tetapi Juga Banyak Dosa
16 Juni 2010 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Risalah

Rabu, 26 Januari 2011 pukul 11:55 WIB

Kemaksiatan akan Melahirkan Kemaksiatan Lainnya

Penulis : Puji Hartono

Sesungguhnya kemaksiatan yang dilakukan seorang hamba akan melahirkan kemaksiatan-kemaksiatan yang lain, sehingga pelakunya susah dan berat meninggalkannya. Sebagian salaf mengatakan, "Sesungguhnya di antara hukuman keburukan adalah terjadinya keburukan setelahnya, dan sesungguhnya di antara pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya." Jika seorang hamba telah melakukan sebuah kebaikan, maka kebaikan yang berada di dekatnya mengatakan, "Hendaklah engkau mengamalkan aku juga!" Jika dia telah mengamalkan kebaikan kedua, maka kebaikan ketiga akan mengatakan seperti itu juga, dan begitu seterusnya. Sehingga kebaikan selalu bertambah dan keuntungan berlipat ganda.

Sebaliknya, keburukan juga seperti itu. Maka akhirnya ketaatan dan kemaksiatan itu menjadi sifat yang melekat dan keadaan yang tetap ada pada pelakunya. Jika seorang muhsin (orang yang sudah terbiasa berbuat ketaatan dengan sebaik-baiknya) meninggalkan ketaatan-ketaatan, maka jiwanya tertekan, bumi yang luas terasa sempit, dan dia merasa seperti ikan yang meninggalkan air. Sampai dia kembali melaksanakan ketaatan-ketaatan, maka jiwanya akan menjadi tenang dan hatinya menjadi tenteram. Sebaliknya, jika seorang mujrim (orang yang sudah terbiasa melakukan kemaksiatan-kemaksiatan yang besar) meninggalkan kemaksiatan dan menuju ketaatan, maka jiwanya tertekan, dadanya terasa sempit, sampai dia terbiasa melaksanakan ketaatan-ketaatan. (Lihat Ad-Da' wa Dawa' karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah).

Hal ini diisyaratkan di dalam sebuah hadits Nabi Muhammmad SAW dengan sabda Beliau, "Hendaklah kamu selalu jujur, karena sesungguhnya jujur itu akan menuntun menuju kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu akan menuntun kepada surga. Dan tidaklah seseorang selalu berkata jujur dan berusaha menetapi kejujuran, sampai dia ditulis di sisi Allah SWT sebagai orang yang sangat jujur. Dan hendaklah kamu selalu menjauhi dusta, karena sesungguhnya dusta itu akan menuntun menuju kemaksiatan, dan sesungguhnya kemaksiatan itu akan menuntun menuju neraka. Dan tidaklah seseorang selalu berkata dusta dan selalu memilih kedustaan, sampai dia ditulis di sisi Allah SWT sebagai orang yang pendusta." (HR. Muslim dari 'Abdullah bin Mas'ud).

Oleh karena itu Allah SWT melarang kemaksiatan dan sarana-sarananya. Allah SWT telah mengharamkan perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tidak nampak. Allah SWT juga melarang mendekati perbuatan-perbuatan keji itu dan sebab-sebab yang menghantarkan kepadanya. Semua itu sebagai rahmat-Nya kepada para hamba dan menjaga mereka dari perkara yang membahayakan mereka di dunia dan akhirat.

Di antara perbuatan keji yang telah Allah SWT haramkan di dalam Kitab-Nya dan lewat lisan Rasul-Nya adalah zina. Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina, Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra :32).

Sarana-sarana yang menghantarkan menuju zina juga diharamkan, seperti wanita ke luar rumah memakai parfum, membuka aurat kepada orang lain, berbicara manja kepada laki-laki yang bukan mahram, bersafar tanpa mahram, ikhtilath (campur baur laki-laki dan perempuan), khalwat (laki-laki berduaan dengan wanita yang bukan mahramnya), tabarruj (perbuatan wanita yang memamerkan dandanan dan perhiasan), mengumbar pandangan kepada wanita yang bukan mahram, dan lain-lain.

Ketika larangan Allah SWT diterjang, maka apakah yang terjadi? Kemaksiatan berantai membelenggu sang pelaku. Akhirnya berujung kepada zina. Ketika si wanita telah hamil karena zina, aborsi ditempuh sebagai solusi. Dengan banyaknya perzinaan, maka aborsi juga semakin meningkat pesat. Padahal di dalam perbuatan aborsi terdapat berbagai bahaya dan pelanggaran syari'at yang dilakukan. Maka perlu ada usaha bersama untuk membendung perilaku menyimpang dari agama ini, sehingga harapan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat bisa diraih oleh umat ini dengan ridha Ilahi.

Diambil dari Majalah As-Sunnah

Suka
shalikan mohammad dan yantie menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Puji Hartono sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Prof | Cloth Design
Moga KotaSantri.com bisa jadi situs Jejaring yang Populer n meng-Global! Amin!
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1933 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels