HR. Ahmad : "Sebaik-baik manusia adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya."
Alamat Akun
http://shardy.kotasantri.com
Bergabung
1 Maret 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Dhoha -
Pekerjaan
Tulisan Syaifoel Lainnya
We Will Qualify You!
17 Mei 2012 pukul 09:30 WIB
The Culture of "Nyambi"
11 Mei 2012 pukul 10:00 WIB
Kalaupun Buntu, Terobos!
9 Februari 2012 pukul 10:00 WIB
Perbedaan
28 Januari 2012 pukul 14:00 WIB
Gema Takbir Mualaf
20 November 2011 pukul 10:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 21 Mei 2012 pukul 12:00 WIB

Talks, Never Ends

Penulis : Syaifoel Hardy

Kecuali tidur dan di kamar mandi atau toilet, kita biasanya melakukan komunikasi verbal. Komunikasi dua arah secara langsung dengan menggunakan lisan. Komunikasi yang darinya kita bisa bisa beroleh manfaat, hingga sesuatu yang tidak ada gunanya sama sekali. Bahkan yang menyakitkan. Sesuatu yang kita sebut sebagai ‘bicara’ dan ‘pembicaraan’.

Begitu pentingnya arti kata ini, sebagian besar orang bergantung 100% kepadanya. Kepada komunikasi langsung yang membuat nasibnya berubah. Tidak peduli apakah perubahan tersebut ke arah perbaikan, konstruktif atau kerusakan, destruktif. Yang dari pembicaraan ini orang bisa mengubah nasibnya.

Tidak jarang, orang pada akhirnya menggeluti aktivitas dan profesi yang hanya bergelut dengan kemampuan berbicara. Lihatlah apa yang dikerjakan oleh Speaker (Pembicara), Presenter (pembawa acara), Communicator, Consultant, Adviser, DJ dan lain-lain yang kemampuan utamanya hanya mengandalkan ketrampilan ‘mengolah’ kata-kata.

Kemampuan mengolah perbendaharaan kata yang handal bisa bikin orang menjadi ‘takjub’. Membuat orang jadi terpana. Menangis, ketawa, sedih, termotivasi, bergerak, sakit hati dan pikirannya, bergejolak gelora semangatnya dan lain-lain aspek spikologis. Semuanya bisa dipengaruhi oleh karena kemampuan berbicara ini.

Liburan bulan lalu, saya isi dengan banyak bicara. Dengan keluarga, teman-teman sejawat, sanak famili, kakak, adik, tante, paman, sepupu, tetangga, tamu, orang tak dikenal, serta ratusan orang lain yang tidak dapat saya sebutkan di sini. Berbicara, sepertinya tidak ada habisnya!

Dalam ruang dan waktu yang berbeda, konten pembicaraan tidak sama. Ketika berbicara dengan saudara-saudara-apakah saya atau mereka yang memulai-selalu ada saja subyek pembicaraan yang diangkat, kemudian merambat ke sana-sini.

Pada saat seperti ini, adakalanya subyeknya ada dalam control kita. Ada pula subyek yang berada jauh di luar jangkauan kita. Yang berada di luar kendali ini, kita tidak bisa berbuat banyak, kecuali mengikuti ‘arus. Atau, yang terburuk adalah menghindarinya.

Tentu saja ada impact nya. Antara lain, terjadi konflik, ketidak-setujuan terhadap konklusi pembicaraan, sehingga melahirkan suasana yang panas. Bukan tidak mungkin, bakal timbul sengketa. Saya pernah mengalaminya! Panas!

Apa yang saya lakukan kemudian adalah ‘memutuskan untuk tidak meneruskan’ diskusi yang tidak membangun ini. Tidak lain, karena saya merasa tidak bermanfaat.

Pembicaraan yang tidak bermanfaat membuat hati dan pikiran jadi kesal. Fisik juga capek serta lelah. Mental stress! Jadi, mengapa perlu diterusksan? Kalaupun berakhir, siapa pihak yang memang dan kalah? Paling banter, syetan-syetan yang bertepuk tangan!

Jika kita bertemu dengan orang lain, apakah itu kolega, rekan sekolah, teman kerja hingga orang tak dikenal di dalam kendaraan, sering kita tergoda untuk berbicara. Namun demikian, kita butuh kita. Kemampuan berbicara dengan mengangkat-topik-topik tertentu itu butuh ketrampilan tersendiri. Tidak jarang strategi.

Saya pernah ditanya oleh orang yang baru saja kenal, “Berapa umur bapak?” Katanya. Pertanyaan seperti ini bagi sementara orang tidak menjadi masalah. Bagi orang lain ternyata bermasalah besar. Ada juga seorang sopir taksi yang bertanya tentang gaji: “Berapa besar penghasilan anda per bulan?” Terlalu personal bagi saya. Barangkali juga bagi sebagian besar anda.

Menyusun pertanyaan, mengajak berdiskusi, menyebarkan informasi, mengundang partisipasi, meminta pendapat, memberikan saran, mengharapkan komentar, mengajak berdebat dan lain-lain, sejatinya membutuhkan tujuan. Yakni tujuan mengapa kita membicarakannya. Tujuan mengapa kita harus angkat bicara.

Tujuan seperti ini yang membuat kita merasa tidak sia-sia jika harus mengeluarkan energy, waktu, pikiran hingga uang. Karena, kita terkadangg datang dari jauh untuk menghadiri sebuah undangan di mana kita harus berbicara dalam forum. Namun, jika pembicaraan atau diskusi kita pada akhirnya tidak membawa manfaat, apa yang di dapat? Jadi mengapa harus bicara?

Apalagi bila kita diminta pertanggung-jawaban. Yang terakhir saya sebut ini bukan hanya di akhirat saja. Tanggungjawab bisa juga dari rumah, orangtua, kuluarga, kantor, manajer, manajemen perusahaan di mana kita kerja.

Sayangnya, kita terkadang lupa. Sehingga seringkali waktu kita buang percuma hanya untuk berbicara tentang hal-hal yang kurang atau tidak ada manfaatnya sama sekali. Lihat saja di gang-gang, warung, tempat-tempat umum, alun-alun, bisokop, mall, stasiun, bandara, terminal bus, banyak orang berkerumun dan berbicara tak menentu. Bukan tidak mungkin, di rumah kita sendiri, kadang ada tamu yang semalam suntuk ngbrol tanpa arah dan tujuan.

Isi pembicaraan yang tidak bertujuan inilah kita bikin kesal dan menyesal. Pembicaraan yang tak terarah inilah bukan tidak mungkin, jangankan saudara yang bertambah erat, malah boleh jadi musuh yang melekat.

Oleh sebab itu, betapapun sebuah pertemuan kelihatan amat menarik, betapapun sebuah undangan menghadirkan aneka makanan dari Muzambik, ataupun pesta yang dipenuhi lampu kerlap-kerlip, selagi tidak membawa manfaat, perlu dipertanyakan: mengapa kita harus hadir?

Saya mungkin dicap kurang senang ‘kumpul-kumpul’ atau menghadiri acara ini-itu yang bagi saya sebenarnya kurang jelas tujuannya. Jika sekedar makan, di rumah kita juga sudah setiap hari makan. Jika ketemu teman, tanpa harus secara fisik pergi, juga kita bisa ‘ketemu’ (online, FB, chatting hingga per telepon).

Sepanjang tujuan acara jelas dan membawa manfaat, mestinya kita akan dengan senang hati datang, utamanya jika libur atau akhir pekan. Karena, pada hari-hari kerja, kita sudah cukup capek. Saya sendiri lebih senang jika obrolan atau agenda ‘bicara’ ini ditaruh pada akhir pekan atau hari libur saja.

Mulut ini hanya satu. Panjangnyapun tidak lebih dari 5 cm. Namun sekali membuka dan berbicara, bisa berakibat luar biasa. Panjangnya pun mampu menghasilkan sesuatu yang bisa bertahan berabad-abad. Jangankan manusia,negara dan benua bisa total rusak karenanya.

Sebaliknya, lisan yang menghasilkan pembicaraan ini bila dijaga, manusia dan peradabannya serta dunia dapat pula terpelihara.

Intinya begini: pembicaraan manusia, jika dituruti, tidak ada ujungnya dan tidak akan pernah berakhir. Pula tidak ada batasnya dan tidak ada yang mampu membatasi. Kecuali Yang di Atas Sana.

Oleh karenanya, jika tidak ada manfaatnya, lebih baik kita diam. Minimal, di batasi atau dijaga. Agar tidak menjalar ke mana-mana. Agar tidak merambat, membuat mala petaka. Bagi manusia, juga dunia!

Wallahu a’lam.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Syaifoel Hardy sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Nia | Guru
KotaSantri.com top dech. Artikelnya bagus-bagus banget, sangat menyentuh kalbuku sampe berurai air mata membacanya dan sarat dengan hikmah. Bukankah hikmah adalah milik para mukmin yang tercecer? So, buruan gabung.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1290 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels