|
Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Ahad, 1 April 2012 pukul 08:30 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Beberapa waktu lalu, secara tak sengaja saya melihat sebuah acara live dialog di salah satu stasiun TV swasta. Temanya tentang isu yang sedang hangat-hangatnya di Negeri tercinta dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini. Apalagi kalau bukan tentang wacana pelarangan rok mini untuk wanita di DPR. Diskusi menjadi tidak seru dan sepihak, karena tiga narasumber yang dihadirkan justru saling mendukung statement dan argumentasi masing-masing, lucunya dari pembawa acaranya sendiri mengenakan rok mini. Jadi, sudah bisa ditebak, diskusi ini hanya penggiringan opini publik semata.
Yang saya tidak habis pikir, dua wanita narasumber yang secara garis besar menyatakan rok mini bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, berjilbab. Namun akhirnya terpikir juga, karena jilbab (pakaian takwa) yang mereka kenakan setelah diperhatikan dengan seksama, tak memenuhi standar syari'at, yang kemudian, minimal bisa dijadikan tolak ukur awal, sedalam apa pemahaman mereka berdua tentang kemuslimahan sebagai wanita beragama Islam. Seorang pria, dua wanita berjilbab, dan seorang wanita menggunakan rok mini dalam satu ruang dengan pembahasan hak asasi manusia versi mereka, seolah ingin menvisualisasikan kepada publik bahwa ini hanya soal cara pandang lelaki saja yang harus diubah dan kenyamanan wanita dengan dirinya sendiri (dalam berpakaian) sebagai pilihan gaya hidup yang dalam hal ini urusanya hak ber-fashion ria.
Mari kita babat habis argumentasi pembenaran mereka!
Sebelumnya, ada baiknya mereka perlu diingatkan bahwa mereka sedang hidup di Negeri yang dalam data kependudukan mayoritas masyarakatnya adalah muslim. Pun, mereka perlu diingatkan kembali tentang sebuah pepatah populer; di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.
Ketika mereka berbicara tentang hak asasi manusia, sepertinya mereka lupa (atau sengaja melupakan?) bahwa manusia yang hidup di Negeri ini tidak satu dan hanya wanita saja. Itu artinya, bahwa selain dirinya, ada manusia lain yang juga punya hak asasi sebagai manusia. Maka, menjadi hak para kaum pria untuk merasa nyaman juga di ruang publik, menjadi hak para kaum pria juga untuk tidak melihat hal yang seharusnya bisa ditutupi, menjadi hak kaum pria juga, untuk tetap menjauhi pandangan mereka dari hal-hal yang memotensikan bangkitnya nafsu biologis mereka. Bahkan, menjadi hak asasi kaum wanita agar terbebas dari rasa malu pada lelaki di sebelahnya yang mendapati dirinya sedang satu angkot dengan wanita yang menggunakan rok mini. Meski yang terakhir ini menjadi standar rasa yang sangat relatif. Tapi, beginilah jika kita berbicara tentang hak asasi, bahwa setiap hal dan perasaan yang hanya dilakukan dan dirasakan oleh dirinya sendiri, tanpa merepotkan dan mengganggu orang lain untuk bisa melakukannya, maka itu dikategorikan hak (asasi)nya.
Statement yang penting wanita merasa nyaman dengan pakaiannya dan kaum laki-laki disuruh mengendalikan dirinya demi kenyamanan sang wanita adalah bentuk keegoisan yang jelas dan tak terbantahkan! Apakah egois itu juga bagian dari hak asasi? Apakah ini tidak menyalahi etika hubungan sosial untuk saling mengerti, memahami, bahkan menjaga? Ini seperti orang yang merokok di ruang publik, dan kita yang disuruh menutup hidung biar tidak menghirup asapnya. Jadi, dapat ditarik kesimpulan dalam keterkaitan dengan statement kenyamanan ini adalah, bahwa wanita yang menggunakan rok mini dan berpakaian 'menantang' itu egois!
Maka, jika hanya sudut pandang keegoisan ini yang mereka anut, perlu diingatkan bahwa mereka adalah makhluk sosial dan sangat dianjurkan untuk belajar (lagi) tentang interaksi sosial, bahkan mungkin harus merenung panjang tentang teori ‘aksi-reaksi’ yang berlaku di alam raya ini. Karena sudut pandang pembenaran hak asasi adalah hak setiap wanita memakai rok mini dan atau pakaian ‘menantang’ lainnya. Tapi bukankah tak berhenti sampai di situ saja? Sebab menjadi masalah jika itu dipakai (baca; dipamerkan) di ruang publik, yang nyata-nyata mengganggu hak asasi orang lain, dengan sekup ukuran ruang publik ini adalah mayoritas penghuninya muslim dan berada dalam adab-adab ketimuran.
Selanjutnya, tentang sebuah statement dalam keterkaitan dengan pemerkosaan, yang mana saya melihat, wacana ‘menyoal rok mini’ ini seperti akumulasi dari kejadian-kejadian sebelumnya yang disinyalir oleh beberapa pihak melibatkan peran “rok mini”.
Mari kita telisik lagi.
Simpelnya, ini soal pengkambinghitaman peristiwa pemerkosaan. Dimana ada pihak yang menyalahkan wanita dengan pakaian “menantangnya”, di pihak yang berseberangan, menyalahkan lelaki yang pikirannya ‘kotor’ dan tak bisa mengendalikan diri. Sehingga munculah pernyataan, "Bukan rok kami yang salah, tapi otak kalian yang mini." Pernyataan ini dikuatkan dengan data-data bahwa yang menjadi korban pemerkosaan tak hanya wanita yang menggunakan rok mini dan atau berpakaian “menantang” saja.
Pertanyaannya, apakah dengan data-data itu membuktikan bahwa ‘rok mini” tidak mengambil peranan dalam peristiwa pemerkosaan? Jawabannya tentu saja tak sekedar ya atau tidak. Namun perlu adanya evaluasi bersama kedua belah pihak. Tidak semua kaum pria itu baik dan bisa menahan nafsunya, namun masih banyak juga kaum pria yang baik dan mampu mengendalikan diri. Itulah kemudian bisa dijelaskan, tidak semua kaum pria yang melihat “rok mini” akan langsung berlaku “ekstrim”, namun juga tidak semua pria ketika melihat wanita berpakaian santun tetap berprilaku “santun” merespon sang wanita. Memang, kembali pada individu pria masing-masing, dan ini menjadi topik kontekstual. Tapi jika kita angkat ini ke wilayah keumuman, pasti pengendalian diri kaum pria normal menghadapi pakaian santun jauh lebih ringan perbandingannya daripada menghadapi rok mini dan atau pakaian “menantang” lainnya. Pun, masih tersisa satu pertanyaan, bagaimana dengan para pria yang sedang belajar mengendalikan diri dan nafsunya? Yang memang secara psikologis harus menjauhi hal-hal yang memotensikan bangkitnya nafsu biologisnya? Apakah pria dalam tahap ini tidak boleh berada di ruang publik?
Kalau hanya soal mencari pihak mana yang salah, maka sangat tidak tepat pernyataan sepihak, "Bukan rok kami yang salah, tapi otak kalian yang mini." Tapi perlu pernyataan bersama yang ditunjukkan untuk kedua belah pihak (wanita dan pria) menjawab pernyataan salah itu yang bunyi “deklarasinya” jadi begini :
“Ya, bukan salah rok mini kalian, tapi salah kalian yang makai rok mini!
Ya, bukan salah otak mini kalian, tapi salah kalian yang makai otak mini!
Kalian, salah kalian!
Bukan salah mereka yang berpakaian santun, mengendalikan diri memamerkan kecantikan fisik. Melawan tabiat yang senang disebut cantik.
Bukan salah mereka yang berotak bersih. Mengendalikan diri tak berpikir liar dan menahan nafsu yang mudah bangkit.
Bukan salah mereka yang berpakaian santun dan menahan nafsu. Tapi salah kalian yang menggunakan rok mini dan berotak mini!”
Tertanda,
Wanita yang berpakaian santun dan pria yang mampu mengendalikan diri.
Pada akhirnya, kebenaran dan pembenaran itu tetaplah tidak sama.
Wallahu a’lam bishawab.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.