|
Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
|
|
http://twitter.com/bayugawtama |





Rabu, 22 Februari 2012 pukul 09:00 WIB
Penulis : Bayu Gawtama
Saat membeli pencil sharpener (peruncing pensil) di sebuah mini market tak jauh dari rumah, saya bertanya kepada petugas kasirnya, “Boleh dicoba dulu? Khawatir rusak.” beberapa waktu sebelumnya saya memang membeli benda yang sama dan ternyata setelah di rumah, benda itu tak berfungsi alias rusak.
Cukup kaget saya mendengar jawaban petugas kasir itu, “Nggak bisa, pak, nanti kalau dicoba ada bekasnya.”
“Tapi kan saya membayar untuk barang yang bagus, bagaimana nanti kalau setelah dicoba di rumah ternyata rusak? Apa bisa ditukar?” tanya saya lagi, kali ini makin penasaran.
“Kalaupun barangnya rusak, tidak bisa ditukar. Hanya boleh diganti dengan susu atau gula.” Nah loh… perlunya sharpener kok diganti susu?
Obrolanpun ditutup, lantaran perlu, saya tetap membayar sejumlah uang untuk benda itu. Sebelum beranjak dari kasir, saya sempat berkata, “Kasihan sekali ya konsumen, nasibnya terabaikan.”
Saya jadi teringat kisah seorang yang membeli kain sarung di Pasar Tanah Abang. Jelas-jelas tertera “Dijamin Tidak Luntur” dan ia merasa ini kain berkualitas. Sesampainya di rumah, ia kaget saat merendam kain sarung itu mendapati lunturan warna di ember. Ia marah merasa tertipu dan segera kembali ke si penjual. Apa kata si penjual, “Ana orang Arab, biasa baca tulisan dari kanan wan. Jadi yang benar, "Luntur Tidak Dijamin”.
Konsumenpun gigit jari menikmati barang yang kualitasnya tak sesuai harga yang dibayarkan. Alih-alih senang memakainya, justru malu karena terlihat jelek dan kusam karena warnanya telah luntur.
Lain lagi dengan kasus seorang teman yang membeli handphone di gerai tak resmi alias toko pinggir jalan. Bersemangat ia menunjukkan hp barunya sambil berseru, “Ini handphone bagus tapi harganya miring.”
Tak sampai bulan kedua, ia mengeluh, “Handphone saya ngadat melulu nih, cepat panas dan tiba-tiba error.”
Setelah dibawa ke counter resmi sebuah merk handphone, “Maaf, pak, bapak tidak membelinya di toko resmi, jadi tidak bisa diperbaiki di sini.” Dan yang lebih menyakitkan, menurut keterangan teknisi itu, bahwa handphone milik teman saya itu merupakan barang rakitan dari ponsel bekas. Gigit jarilah teman saya itu. Uang sudah hilang, handphone pun tak terpakai.
Begitupun dengan kawan saya yang lain. Ia tak banyak paham soal komputer, sehingga tertipu membeli komputer dengan harga baru namun ternyata barangnya hasil rakitan dari perangkat-perangkat yang bekas.
Akankah semua konsumen di negeri ini terus menerus gigit jari?
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Bayu Gawtama sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.