HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Politik Uang Bisa Mengurangi Profesionalitas
5 November 2010 pukul 16:45 WIB
Membentuk Kebiasaan Baik
30 Oktober 2010 pukul 18:35 WIB
Orang Besar
27 Oktober 2010 pukul 16:20 WIB
Setiap Muslim adalah Saudara
10 Oktober 2010 pukul 16:30 WIB
Mempersiapkan Diri menjadi Orangtua Sejati
28 Agustus 2010 pukul 17:10 WIB
Pelangi
Pelangi » Refleksi

Senin, 15 November 2010 pukul 16:40 WIB

Kereta, Macet?

Penulis : Hifizah Nur

Pekan ini sangat melelahkan. Dua kali saya mengalami kejadian kereta macet. Yang satu karena jisin jiko (kecelakaan), satu lagi karena kereta rusak. Dan parahnya, karena dua kejadian itu, perjalanan yang seharusnya hanya satu setengah sampai dua jam, jadi molor sampai empat dan lima jam, bayangkan!

Ceritanya hari Selasa lalu saya pergi ke Tokyo untuk suatu acara di mesjid Otsuka. Karena acaranya jam sepuluh pagi, maka saya berangkat sekitar jam delapan lima belas dari rumah. Karena perjalanan sekitar satu setengah jam dari stasiun ke stasiun, perhitungannya insya Allah sampai ke Masjid pas jam sepuluh. Kalaupun lambat, maksimal telat lima belas menit. Perjalanan awalnya lancar. Namun setelah satu jam kereta berjalan, yang berarti tinggal tiga puluh menit perjalanan lagi, kereta mendadak berhenti. "Wah ada apa nih?" pikir saya. Ternyata ada pengumuman kalau ada kecelakaan kereta di stasiun dekat situ. Lama ditunggu, tidak jalan jalan juga.

Para penumpang kereta gelisah. Semua sibuk mengirim SMS atau menelepon teman atau bosnya, memberitahu kalau akan terlambat. Maklum, hari itu hari kerja, dan jangan ditanya arti ketepatan waktu untuk orang Jepang. Sekitar sepuluh menit menunggu, satu persatu penumpang kereta keluar, mencari alternatif kendaraan lain. Naik bus atau mencari rute lain.

Anak-anak saya juga sudah gelisah. Naik turun kursi penumpang. Anak-anak kecil yang naik kereta itu, juga ada yang menangis keras. Apalagi pintu kereta dibuka, meskipun AC kereta tetap menyala, hawa panas dari luar masuk membuat suhu di dalam kereta naik.

Sekitar empat puluh menit kemudian, akhirnya kereta bisa jalan lagi. Itu pun dengan tersendat-sendat. Mungkin karena harus menyesuaikan dengan jadwal rute lain. Atau juga sangat berhati-hati agar tidak terjadi kecelakaan lagi.

Di Jepang ini kalau disebut kecelakaan kereta, yang terbayang pasti ada orang yang bunuh diri. Caranya dengan menabrakkan dirinya ke kereta yang sedang berjalan. Dan itu sangat sering terjadi di Jepang ini.

Di sini, di negara yang teknologinya kira-kira lima puluh tahun meninggalkan Indonesia, memiliki rating nomer satu untuk tingkat bunuh diri. Penyebab utama biasanya karena pekerjaan. Gagal bisnis atau pekerjaan yang kurang lancar. Karena ekonomi Jepang yang menurun tajam beberapa tahun terakhir ini. Kedua, biasanya karena di ijime. Dan kasus ini terjadi pada anak-anak dan remaja. Dikerjain teman-teman sekolah. Dimusuhi, diolok-olok, atau tidak ada seorang pun yang mau berteman dengannya karena perbedaan kecil. Tingkat meng-ijime-nya sudah sampai taraf kriminal. Dan itu terjadi mulai dari sekolah dasar sampai SMU.

Kalau melihat hal ini jadi terpikir. Kok bisa ya, di negara maju seperti Jepang, yang kesejahteraan ekonominya lumayan merata, memiliki masalah seperti ini? Kalau dilihat dari pola kehidupan orang Jepang, mereka bekerja dari Senin sampai Jum'at dengan jadwal kerja yang sangat ketat. Dengan tuntutan sosial yang banyak. Orang Jepang terkenal dengan adab sopan santunnya yang kadang agak keterlaluan. Kalau menurut orang Indonesia, terlalu kaku. Malamnya atau di waktu-waktu libur mereka menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Minum-minum dengan teman sekerja atau pergi keluar kota dengan keluarga. Meskipun ada juga yang hangat, kebanyakan hubungan di antara teman sekantor hanya formalitas, tidak mendalam. Akibatnya, wajar kalau di antara teman sekerja tidak tahu rumahnya si Fulan di mana, atau si Fulan sedang mengalami masalah apa, butuh bantuan atau tidak.

Melihat pola kehidupan yang sangat rapuh ini, jalan keluar yang paling efektif bagi mereka untuk keluar dari masalah, ya dengan bunuh diri. Karena tidak ada pegangan, tidak ada kehangatan. Hati yang kosong dari pengharapan kepada Yang Mahakuat dan kosong dari kasih sayang dengan sesama manusia. Tapi sekali lagi, ini hanya kebanyakan. Mungkin tidak semua.

Back to kereta.

Kejadian kedua, hari Jum'at lalu. Sepulang bersilaturrahim ke rumah Tiara, lagi-lagi kereta macet. Tak bisa jalan. Saat itu waktu menunjukkan pukul enam tiga puluh petang. Kali ini ternyata ada kerusakan kereta. Bukan kereta yang saya tumpangi, tapi satu kereta sebelum saya. Tragisnya, kereta itu berhenti tepat di stasiun yang saya tuju. Jadi kereta saya berhenti tepat di stasiun sebelumnya. Dan kali ini, setelah menunggu setengah jam, baru keluar pengumuman, bahwa kereta baru akan bisa berjalan lagi jam sembilan malam. Wah, semua penumpang yang masih bersabar menunggu panik. Akhirnya oleh masinis kereta disarankan untuk naik bus, pindah ke stasiun alternatif. Alhamdulillah ongkos bus ditalangi perusahaan kereta. Jadi free.

Sekarang masalahnya adalah mencari bus untuk sampai ke stasiun tujuan. Dengan sekian banyak halte dan jadwal bus, lumayan keriting juga mencarinya. Membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit untuk menemukan bus yang dituju. Kondisi badan yang capek dan lapar, membuat pencarian juga memakan waktu lebih lama dari yang seharusnya. Pengalaman kali ini, benar-benar beda dari biasa.

Setelah naik bus dan kereta jalur lain. Akhirnya tibalah saya di rumah jam sepuluh malam. Setelah melewati lima jam perjalanan yang panjang dan sangat melelahkan.

Ternyata, bisa juga negara semaju Jepang mengalami hal seperti ini. Meskipun demikian, dalam kondisi panik, tetap saja orang Jepang bisa mempertahankan keteraturannya dengan tak ada demo-demo ke petugas kereta. Protes sih ada, tapi tidak sampai terjadi tawuran masal.

Salut dengan petugas kereta yang sigap menyikapi masalah ini. Mengatasi omelan dari penumpang, menyediakan tiket bus sebagai pengobat kekecewaan para penumpang. Padahal kerugian yang mereka alami akibat kejadian itu juga pasti tidak sedikit. Mungkin itulah wujud dari profesionalisme mereka dalam bekerja. Keinginan melayani, memberikan yang terbaik untuk masyarakat pemakai jasa transportasi. Satu hal yang patut ditiru oleh kita yang muslim ini. Dan itu sebenarnya merupakan salah satu bagian dari akhlak Islam.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Endang Supriatna, S.Pd. | Guru
Ingin bergabung pada web yang sangat bermanfaat bagi ummat ini. Semoga web ini benar -benar menjadi media ukhuwah dan penebar ilmu. Amien.
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1917 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels