|
Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Senin, 23 Agustus 2010 pukul 16:25 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Ada teguran kecil namun cukup pedas yang saya terima di bulan Ramadhan ini. Bukan dari seseorang, tapi langsung dari Sang Mahaadil yang jeli sekali melihat motif-motif pribadi setiap hamba-Nya.
Kejadiannya tiga hari yang lepas. Saat itu saya baru saja bersantai, setelah kesibukan tiga hari berturut-turut. Dua hari di antaranya pergi ke Tokyo yang jaraknya sama dengan Jakarta - Bogor dari rumah saya. Dalam kondisi berpuasa, dan membawa dua anak balita, tentu terbayangkan betapa lelahnya fisik saya saat itu? Nah, di saat seperti itulah tiba-tiba terdengar dering telepon dari HP saya. ”Halo, mbak Vivi di rumah ya? Gue pikir di Jidoukan*. Jadi nelpon ke sini.” Suara seorang tetangga, beda dua Eki* dari rumah saya terdengar ceria. Dia nasrani, tapi anaknya berteman dengan anak saya, Nana chan. Biasanya dia senang berkunjung dan melepas rasa kesepiannya ke rumah saya, atau ke rumah beberapa teman Indonesia lain. Kebetulan teman yang lain sedang berada di Indonesia saat ini.
Biasanya saya happy saja menyambutnya datang, tapi kondisi lelah hari ini membuat saya sedang tidak ingin dikunjungi. Lalu saya jelaskan kalau saya sedang dalam keadaan lelah, jadi tidak ke Jidoukan. ”Ada apa, mbak?” tanya saya setelah itu. ”Oh... Eh, enggak ada apa-apa. Pingin telpon aja.” Cukup lama kami mengobrol, hampir 12 menit via HP. Lumayan mahal, batin saya setelah telponnya ditutup. Sampai sini, belum ada rasa sesal dalam hati saya karena telah menolak kunjungannya secara halus.
Siangnya, ketika saya sedang memberi makan anak-anak, tanpa sadar, saya salah mengambil posisi duduk. Dengan santai saya menaruh bokong saya, tetapi, ”Dukk!!!” Saya terjatuh dengan posisi duduk. Sangat sakit sekali, bahkan untuk setengah jam berikutnya rasa sakitnya sangat hebat. Dan malam itu, setiap kali saya merubah posisi duduk atau tidur, denyut sakitnya sangat terasa. Astaghfirullah... Selama dua hari kemudian pun, sakitnya masih terasa, meskipun sudah jauh berkurang. Terutama ketika saya ruku dan sujud dalam qiyamul lail.
Saya menyangka ada cedera di tulang ekor, atau khawatir ada sambungan tulang yang lepas atau retak. Untuk memastikannya, saya mengajak suami untuk pergi ke dokter tulang. Alhamdulillah, setelah diperiksa, tidak ada masalah dengan tulang ekor saya. Hanya cedera sedikit, dan diminta untuk tidak mengangkat yang berat-berat selama tiga minggu. Benar-benar balasan yang setimpal.
Sungguh, saya merasakan keadilan Allah, yang langsung menegur saya ketika alpa. Apalagi sebelumnya saya membaca tafsir surat Al-Qalam yang di dalamnya terdapat kisah Nabi Yunus, yang ditegur Allah melalui dimasukkannya Nabi Yunus ke dalam perut ikan paus, karena meninggalkan ummatnya. Kurang sabar terhadap kejahilan ummatnya. Dikisahkan, tegurannya begitu berat, sampai-sampai seluruh kulit di tubuh Nabi Yunus terkelupas, dan hanya tinggal seonggok daging ketika terdampar di pinggir pulau setelah dimuntahkan oleh ikan paus tadi. Hanya karena Rahmat Allah-lah Nabi Yunus masih hidup dan diberi kesempatan untuk kembali berdakwah kepada ummatnya.
Saya memang bukan seorang Nabi. Tetapi setiap muslim tentu punya kewajiban untuk menolong mahluk Allah yang lain. Dalam konteks saya ini, adalah menolong mengurangi kesepian tetangga saya. Meskipun ia bukan muslim. Mungkin ada curhat yang ingin disampaikan tentang kesulitannya menghadapi kehidupan di sini. Alhamdulillah, Allah menegur saya dengan musibah kecil ini. Mudah-mudahan bisa merubah sifat buruk saya di hari-hari ke depan.
Nahnu du’at qabla qulli syaiin. Kita ini adalah da’i sebelum profesi yang lain.
Hadano - Oktober 2006
Catatan
Jidoukan : Gedung Bermain untuk Anak-anak
Eki : Stasiun
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.