|
Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
|





Kamis, 11 Februari 2010 pukul 18:45 WIB
Penulis : Rahmatan Idul
Dulu, aku sempat berfikir bahwa sabit itu berbeda dengan purnama. Sampai suatu saat simpul kusut di ujung malam menyesatkanku ke alam mimpi. Sesosok makhluk dengan tatapan yang menyiratkan pendar-pendar aurora dan sejuta bintang terangkai di tiap helai sayapnya tersenyum kepadaku, seraya berkata, “Tanyakanlah sesuatu kepadaku.”
“Siapakah engkau?”
“Aku adalah sang penjaga malam ketika siang telah terjaga. Mintalah sesuatu yang dengannya hujan kan menghapus mendung-mendung kegalauan di hatimu!”
“Baiklah. Ceritakanlah kepadaku risalah sabit dan purnama.”
“Sabit dan purnama adalah bulan yang sama, namun hadir di dua malam yang berbeda. Dahulu kala, purnama adalah makhluk tercantik di jagad raya. Ia selalu hadir membawa cahaya yang hadirkan cinta di tiap malamnya. Semua makhluk penghuni semesta memuji kecantikannya. Sayangnya, semua pujian itu ternyata menghadirkan duri-duri kesombongan di dalam hatinya. Entah bagaimana, sang purnama menjadi berbeda. Jutaan bintang yang senantiasa mengiringi langkahnya, kini tak lagi pernah disapanya. Hingga suatu hari, ketika ia terjaga di ujung petang, ufuk timur bercerita kepadanya tentang mentari yang cahayanya mampu menembus hingga ke kedalaman samudera, hingga meleburkan dataran kutub utara. Tatkala fajar mulai menjulurkan jemarinya, ia bertanya pada ufuk barat tentang apa yang baru saja didengarnya. Dan ufuk barat, yang sejatinya adalah ufuk timur yang terbawa arus waktu, pun kembali bercerita tentang cahaya yang mampu meleburkan dataran kutub utara itu. Akhirnya, purnama yang telah teracuni keangkuhan itu urung kembali ke peraduannya. Di simaknya mentari yang cahayanya mampu menembus kedalaman samudera itu. Dan manakala senja menjelang, betapa terkejutnya sang purnama demi mengetahui bahwa cahaya yang telah memercikkan kesombongan di hatinya ternyata bukanlah miliknya. Ternyata cahaya yang mampu menyihir semesta makhluk itu adalah milik sang mentari yang dititipkannya pada langit dan tata surya. Ya, sang purnama akhirnya termakan oleh keangkuhannya sendiri. Ia tak lagi seceria dulu. Ketika pelukan takdir mulai menggetirkan hatinya, maka ia akan hadir di ujung malam sebagai sabit.”
Begitulah risalah sabit dan purnama. Kini, aku mulai menyadari bahwasannya sabit adalah purnama yang tersipu. Namun sabit tetaplah purnama. Selama duri-duri keangkuhan masih terserak di hamparan hatinya, takkan pernah lelah ia meminta pungguk tuk mengulurkan tangannya ke ketinggian langit.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmatan Idul sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.