|
Imam Nawawi : "Aku mencintaimu karena agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu."
|
|
|
http://asyifa85.blogspot.com |
|
asyifa85@yahoo.com |
|
|
asyifa85 |
|
asyifa85@yahoo.com |




Senin, 24 Agustus 2009 pukul 17:10 WIB
Penulis : agus triningsih
Ahlan wa sahlan ya Ramadhan. Syarrafta ya syahral qur’an. Selamat datang, wahai bulan Ramadhan. Kedatanganmu membawa kemuliaan, wahai bulan Al-Qur’an.
Senja yang ternanti, akhirnya tiba. Senja pertama di bulan Ramadhan. Prosesi penantian panjang telah berujung. Rindu yang selalu menggelayuti jiwa, kini tertawarkan sudah. Hati ini mengharu biru. Luapan rasa syukur menyentak-nyentak kalbu. Rasa itu kini berpadu, bahagia dan haru, senyum bahagia dan tangis kesyukuran. Bahagia karena telah menerima salah satu anugerah teragung dariNya, Ramadhan Kariim. Keharuan juga menyeruak jiwa atas kenikmatan usia dariNya, karena tak sedikit yang harus berpulang padaNya ketika Ramadhan tinggal terhitung jari. Juga karena Ramadhan kali ini harus saya jalani tanpa keluarga. Hal yang tak pernah dirasakan sebelumnya.
Bongkah kecemasan dan kekhawatiran jika tak bertemu dengan Ramadhan yang penuh berkah ini, kini lebur sudah. Sungguh, saya semakin merasakan kasih sayangNya. Allah memperkenan perjumpaan dengannya, bulan training manajemen syahwat, bulan yang penuh berkah, bulan yang penuh dengan ampunan dosa, bulan yang penuh dengan peluang emas untuk melakukan ketaatan, bulan dilipatgandakannya amal shaleh, bulan jihad, dan bulan kemenangan. Alhamdulillah.
Maghrib kali ini basah oleh tetes-tetes kesyukuran. Kesyukuran itu juga terlisan lewat hamdalah, meski sesungguhnya tangis dan tahmid masih jauh dari cukup untuk menerjemahkan kesyukuran itu, karena sejatinya bentuk kesyukuran terbaik adalah dengan tak menyia-nyiakan kesempatan agung itu. Dan oleh karenanya, tak sedikit pun ingin menyia-nyiakan setiap detik waktu yang akan hadir hingga penghujung Ramadhan nanti. Ramadhan kali ini harus menjadi momentum perubahan terbaik. Ramadhan kali ini harus meninggalkan ukiran terindah yang akan teurai dalam laku. Dan hingga uraian laku itu mengabadi sepanjang masa. Semoga!
Awal Ramadhan adalah awal perjuangan. Berjuang membenahi diri. Berjuang, berjuang, dan berjuang, hingga menemukan muara akhir, Kemenangan Hakiki. Dan kemenangan itu tak kan bisa diraih kecuali atas pertolongan dan kehendak dariNya. Mengawali Ramadhan kali itu, dengan memunajatkan sebait harap padaNya.
”Ya Allah! Jadikanlah puasaku sebagai puasa orang-orang yang benar-benar berpuasa. Dan ibadah malamku sebagai ibadah orang-orang yang benar-benar melakukan ibadah malam. Dan jagalah aku dari tidurnya orang-orang yang lalai. Hapuskanlah dosaku, wahai Tuhan sekalian alam! Dan ampunilah aku, wahai Pengampun para pembuat dosa.” Amin.
Yogyakarta, 1 Ramadhan 1430 H
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.